Praanggapan Membuat Penutur Menuturkan Tuturannya

Hari Minggu lalu (20/10), Pak Jokowi dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019—2024. Tuturan tersebut tidak akan disampaikan jika si penutur tidak meyakini bahwa ada orang bernama Pak Jokowi dan ada negara bernama Indonesia. Keyakinan itu disebut praanggapan.

Praanggapan merupakan padanan kata presuposisi atau dalam bahasa Inggris disebut presupposition. Kata tersebut berakar dari kata to pre-suppose yang berarti ‘menduga sebelumnya’.

Praanggapan mendasari pernyataan. Praanggapan menjadi syarat bagi benar/tidaknya suatu ujaran. Ketidakbenaran praanggapan mengakibatkan ujaran tidak dapat dinilai benar/salahnya. Jadi, praanggapan adalah dugaan, keyakinan, atau anggapan tentang orang lain atau suatu hal yang sudah dimiliki penutur sebelum mengutarakan suatu tuturan. Praanggapan ditandai dengan kode (>>).

Praanggapan dapat dibagi menjadi enam, yaitu (i) praanggapan eksistensial, (ii) praanggapan faktif, (iii) praanggapan leksikal, (iv) praanggapan struktural, (v) praanggapan nonfaktif, dan (vi) praanggapan kontrafaktual.

Praanggapan eksistensial menunjukkan keberadaan referen yang diungkapkan. Perhatikan contoh berikut.

(1) Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia.

Penutur dari tuturan di atas harus memiliki praanggapan bahwa ada orang bernama Jokowi, ada negara bernama Indonesia, Indonesia merupakan negara republik, dan Indonesia dipimpin oleh seorang presiden. Praanggapan tersebut dapat diketahui dengan melacak referen-referen yang terucap dalam tuturan, yaitu Jokowi, presiden, Republik dan Indonesia.

Praanggapan faktif adalah praanggapan yang muncul dari informasi yang ingin disampaikan dengan kata-kata yang menunjukkan suatu fakta yang diyakini kebenarannya. Praanggapan faktif mengungkapkan kebenaran melalui klausa-bahwa (that-clause). Misalnya contoh berikut.

(2) Aku tidak menyadari dia sudah bersama orang lain.

Tuturan di atas memiliki praanggapan faktif, yaitu dia sudah bersama orang lain.

Praanggapan leksikal adalah praanggapan yang dapat diketahui melalui tuturan yang diinterpretasikan dengan penegasan suatu tuturan. Misalnya contoh berikut.

(3) Tono berhenti merokok.

Tuturan di atas berpraanggapan Tono pernah merokok. Praanggapan tersebut dapat diketahui dengan memperhatikan kata berhenti dalam tuturan di atas. Contoh lain:

(4) Budi terlambat lagi.

Tuturan di atas berpraanggapan leksikal Budi sebelumnya biasa terlambat. Praanggapan tersebut dapat diketahui dengan memperhatikan kata lagi.

Praanggapan struktural adalah praanggapan dalam kalimat tanya. Kebenaran dalam praanggapan struktural sudah diasumsikan dalam tuturan itu sendiri. Misalnya contoh berikut.

(5) Siapakah nama kakak Toni?

Tuturan di atas berpraanggapan struktural Toni memiliki Kakak. Jika penutur tidak meyakini bahwa Toni memiliki Kakak, ia tidak akan menanyakan hal tersebut. Perhatikan contoh yang lain berikut.

(6) Di mana Rara menyimpan uang?

Tuturan di atas berpraanggapan struktural Rara menyimpan uang. Praanggapan tersebut sudah diasumsikan melalui pertanyaan itu sendiri.

Praanggapan nonfaktif adalah praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Perhatikan contoh berikut.

(7) Aku membayangkan kamu menjadi pacarku.

(8) Aku memimpikan punya rumah mewah.

Tuturan pertama berpraanggapan nonfaktif Kamu bukan pacarku. Tuturan kedua berpraanggapan nonfaktif Aku tidak punya rumah mewah.

Praanggapan-praanggapan di atas dapat ditafsirkan melalui predikat membayangkan dan memimpikan. Hal yang dibayangkan dan dimimpikan diasumsikan tidak benar.

Praanggapan kontrafaktual adalah praanggapan yang menghasilkan pernyataan kontradiktif. Praanggapan ini mengungkapkan kebenaran dalam klausa-jika (if-clause). Perhatikan contoh berikut.

(9) Seandainya Budi datang sebelum pukul 10.00, ia akan bertemu dengan Susi.

(10) Jika Ronaldo tidak mencetak gol, Juventus akan kalah.

Praanggapan kontrafaktual dari tuturan pertama adalah Budi datang setelah pukul 10.00, sementara praanggapan kontra-faktual dari tuturan kedua adalah Ronaldo mencetak gol.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


165 views