Kapan Sastra Indonesia Lahir?

Bulan Oktober dipilih sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia karena pada bulan ini ada peringatan Sumpah Pemuda yang ikrar ketiganya berkaitan dengan bahasa (dan tentu juga sastra). Berkaitan dengan hal tersebut apakah dengan demikian sastra Indonesia itu lahir pada saat Sumpah Pemuda? B. Rahmanto mengutip dari banyak tokoh dalam kuliah Sejarah Sastra Indonesia di Prodi Sastra Indonesia USD menjelaskan hal tersebut.

Menurut Slametmuljana, dalam artikel berjudul “Ke Mana Arah Perkembangan Puisi Indonesia” dalam Bahasa dan Budaya No 11/2 Desember 1953, hlm. 15 dan disertasinya yang berjudul “Poezie in Indonesia” hlm. 155—156 mengatakan sastra Indonesia secara resmi dimulai 1945. Kesusastraan sebelumnya harus dipandang sebagai hasil sastra daerah. Alasannya, baru pada tahun 1945 Indonesia memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi yang terdapat dalam UUD 1945. Pemerintah NKRI pun baru ada sejak proklamasi diumumkan.

Menurut Prof. Dr. Umar Junus dalam artikel berjudul “Istilah dan Masa Waktu Sastra Melayu dan Sastra Indonesia” dalam Medan Ilmu Pengetahuan No. 1/3 Juli mengatakan Sastra Indonesia berawal pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 saat bahasa Melayu berubah menjadi bahasa nasional Indonesia.

Akan tetapi ditambahkannya juga bahwa sejak 1921 terbit Azab dan Sengsara dan Sitti Nurbaya oleh Balai Pustaka yang bertujuan memberikan bacaan pada rakyat sesuai dengan politik etis yang dijalankan oleh Hindia Belanda yang tidak mungkin menampung aspirasi nasional kebangsaan. Maka tahun 1933-lah Sastra Indonesia baru dengan tegas memperlihatkan dirinya lewat majalah Pujangga Baru.

Menurut Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dalam sebuah artikel berjudul “Soal Periodisasi dalam Sastra Indonesia” mengatakan sastra Indonesia lahir saat terbentuknya state of mind, yaitu 20 Mei 1908 yang dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Alasannya perkembangan sastra bukan semata-mata mengikuti perkembangan bahasa yang menjadi mediumnya.

Meski bahasa merupakan medium sastra seperti halnya tanah liat sebagai bahan utama seorang pematung tapi sastra bersifat kreatif. Dalam zaman kuno, sastra mutlak mengikuti bahasa yang menjadi mediumnya. Misalnya sastra Sansekerta mengikuti bahasa Sansekerta. Tapi sejak timbulnya nasionalisme, keadaan berubah. Sastra mengikuti nama kebangsaan atau nasionalitasnya. Bukankah sastra Inggris, sastra Amerika, sastra Australia, sastra India, sastra Irlandia, dan sastra Filipina memakai bahasa Inggris sebagai mediumnya.

Sastra Indonesia seperti halnya sastra Malaysia pada awalnya sama-sama mengikuti pertumbuhan bahasa Melayu maka begitu nasionalitas mereka terbentuk lahirlah sastra Indonesia dan sastra Malaysia. Oleh karena itu, pada hakikatnya sastra Indonesia adalah sastra nasional seperti sastra Perancis, sastra Inggris, sastra Jerman, sastra Cina, sastra Jepang, dsb.

Menurut Ajip Rosidi yang sependapat dengan Umar Junus, sastra baru ada apabila bahasa yang digunakan ada. Pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memang baru dilakukan pada saat sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Namun kesadaran akan rasa “kebangsaan” itulah yang membedakan secara hakiki kesastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Kesadaran seperti itu sudah ada sejak M. Yamin dan Sanusi Pane pada tahun 1920-an. Dengan demikian mestinya pada awal 1920-anlah sastra Indonesia lahir. Namun ia mematok sastra Indonesia lahir awal abad ke-20 karena saat itu pers cukup banyak karya sastra yang sudah terbit.

Menurut H.B. Jassin, Prof. Teeuw, dan Rachmat Djoko Pradopo, sastra Indonesia modern lahir sejak terbitnya novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1920.

Pramoedya Ananta Toer tidak secara tegas menyebutkan kapan lahirnya sastra Indonesia modern. Namun, dia mengatakan sastra Indonesia modern lahir pada saat karya sastra diterbitkan melalui surat kabar seperti Medan Priyayi pada akhir abad ke-19.

Jadi, ada pendapat yang beracuan pada landasan formal bahwa sastra Indonesia berkaitan dengan negara Indonesia. Namun, ada pula semangat kultural bahwa lahirnya sastra Indonesia adalah ketika munculnya semangat keindonesiaan itu sendiri, baik waktu Sumpah Pemuda, Kebangkitan Bangsa, atau ketika munculnya penerbit dan novel-novel berbahasa Indonesia.

Kapan pun itu, tugas masyarakat Indonesia sama, yaitu menjaga sastra Indonesia sebagai sebuah harta tak ternilai harganya. Sastra merupakan wujud kebudayaan manusia sebagai makhluk beradab dan humanis.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*