Mengkaji Bahasa Bisa Lintas Waktu dan Bisa Juga dalam Kurun Waktu Tertentu

Berdasarkan kurun waktu bahasa yang diteliti, linguistik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu linguistik diakronis dan linguistik sinkronis. Dikotomi ini dikenalkan oleh Ferdinand de Saussure yang akhirnya melahirkan linguistik modern.

Kajian bahasa yang lintas waktu disebut linguistik diakronis. Sementara itu, kajian bahasa pada kurun waktu tertentu disebut linguistik sinkronis. Kajian bahasa pada abad ke-19 cenderung bersifat diakronis. Kajian bahasa memasuki abad ke-20 mengarah pada linguistik sinkronis kendati kajian diakronis tidak serta-merta ditinggalkan begitu saja.

Kajian linguistik diakronis dilakukan dengan membandingkan deskripsi bahasa pada suatu waktu dengan deskripsi bahasa pada waktu yang lampau. Hasil kajian ini biasanya berupa deskripsi perkembangan struktur suatu bahasa dari zaman ke zaman sehingga dikenal bahasa yang kuno dan modern seperti pada bahasa Inggris dan Jawa.

Tujuan kajian diakronis adalah untuk mendeskripsikan perubahan bahasa dan melihat kekerabatan antarbahasa sehingga ditemukanlah bahasa proto atau bahasa induk dari bahasa-bahasa yang berkerabat tersebut. Misalnya, melalui perbandingan antara bunyi-bunyi dalam bahasa Italia, Spanyol, Portugis, dan Perancis disimpulkan bahwa keempat bahasa tersebut berkerabat dan dulunya berasal dari satu bahasa yang sama. Di Nusantara, perbandingan struktur bunyi bahasa dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Bali, dan Dayak disimpulkan bahwa bahasa-bahasa tersebut berkerabat dalam rumpun bahasa Austronesia.

Kajian secara diakronis dikritik oleh Saussure karena dianggap bukan merupakan kajian bahasa. Lahirlah paradigma kajian yang baru, yaitu kajian sinkronis.

Kajian linguistik sinkronis berusaha menggambarkan keadaan bahasa pada kurun waktu tertentu saja. Tidak ada tujuan untuk membandingkan deskripsi bahasa suatu waktu dengan deskripsi pada waktu lampau. Yang dikaji dalam linguistik sinkronis adalah struktur suatu bahasa. Tujuannya adalah menemukan pola atau kaidah tata bahasa yang diteliti.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*