Bagaikan Pohon, Linguistik Memiliki Cabang-Cabang Berikut

Bahasa sebagai objek kajian bahasa merupakan bidang kajian yang sangat luas. Mengkaji bahasa pun tidak cukup dengan satu atau dua cara. Oleh karena luasnya bidang kajian bahasa, linguistik pun bercabang menjadi beberapa subkajian.

Bahasa secara internal terdiri atas dua unsur, yaitu bentuk dan makna. Bentuk bahasa adalah satuan kebahasaan yang pada pembahasan sebelumnya sudah disebutkan ada sepuluh. Makna bahasa selalu melekat pada bentuk bahasa. Tidak hanya struktur internal, bahasa juga memiliki struktur eksternal atau keterkaitan dengan hal lain di luar bahasa. Oleh dasar itulah linguistik menjadi bercabang-cabang.

Secara garis besar, linguistik memiliki dua cabang utama, yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik adalah cabang utama linguistik yang mengkaji struktur internal bahasa. Kajian bahasa dalam mikrolinguistik membahas bahasa sebagai sebuah sistem yang otonom. Hal lain di luar bahasa tidak diikutsertakan dalam mikrolinguistik.

Mikrolinguistik masih memiliki beberapa ranting berdasarkan satuan kebahasaan yang dikajinya. Sekurang-kurangnya ada lima ranting dalam mikrolinguistik, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan analisis wacana formal.

Makrolinguistik adalah cabang utama linguistik yang mengkaji struktur eksternal bahasa. Kajian bahasa dalam makrolinguistik membahas bahasa dengan mengikutsertakan hal lain di luar bahasa seperti siapa yang berbahasa, apa yang dibahasakan, dalam situasi apa kegiatan berbahasa tersebut, di mana kegiatan berbahasa itu terjadi, dan lain-lain.

Makrolinguistik masih dibedakan menjadi dua ranting utama, yaitu linguistik interdisipliner dan linguistik terapan. Linguistik interdisipliner berarti mengkaji bahasa dengan mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain seperti sosiologi, psikologi, antropologi, neurologi, dan lain-lain. Linguistik terapan berarti mengkaji bahasa untuk hal-hal yang aplikatif dan dapat dimanfaatkan secara praktis dalam kegiatan berbahasa.

Ranting dari linguistik interdisipliner antara lain pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, etnolinguistik, dan lain-lain. Sementara itu, ranting dari linguistik terapan antara lain penerjemahan, pembelajaran bahasa, dan leksikografi. Berikut dijelaskan beberapa cabang-cabang linguistik beserta hal-hal yang dikajinya.

Fonologi adalah cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk bunyi bahasa. Objek kajiannya adalah fona, fonem, dan silabel, serta unsur suprasegmental. Tujuan fonologi adalah mendeskripsikan kaidah perangkaian bunyi-bunyi bahasa menjadi satuan linguial yang lebih besar. Hal-hal yang dibahas dalam fonologi antara lain proses terjadinya bunyi bahasa, organ bicara manusia, dan kaidah menata bunyi menjadi satuan di atasnya. Kata-kata kunci yang perlu diperhatikan selain objek kajian di atas antara lain alofon, vokal beserta jenis-jenisnya, konsonan beserta jenis-jenisnya, diftong, klaster, onset, nukleus, koda, dan kaidah fonotaktik.

Morfologi adalah cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk pembentukan kata. Objek kajiannya adalah morfem dan kata. Tujuan morfologi adalah mendeskripsikan kaidah pembentukan kata dalam suatu bahasa. Hal-hal yang dibahas antara lain pengertian dan jenis kata serta morfem, kelas kata, dan pembentukan kata. Kata-kata kunci yang perlu diperhatikan antara lain morfem, alomorf, morf, monomorfemik, polimorfemik, proses morfologis, proses morfofonemik, pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan, pemendekan, suplesi, modifikasi internal, modifikasi kosong, imbuhan, awalan, akhiran, sisipan, dan konfiks.

Sintaksis adalah cabang linguistik yang mengkaji penyusunan kata menjadi satuan gramatikal berupa frasa, klausa, dan kalimat. Ketiga satuan kebahasaan tersebut menjadi objek kajian sintaksis. Yang dibahas dalam sintaksis antara lain struktur, pembentukan, dan jenis frasa, klausa, serta kalimat. Istilah-istilah kunci yang perlu diperhatikan antara lain unsur pusat, atribut, frasa endosektrik, frasa eksosentrik, subjek, predikat, objek, keterangan, pelengkap, dan nama-nama jenis kalimat.

Semantik adalah cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk makna bahasa. Hal yang dibahas antara lain proses pemaknaan, jenis-jenis makna, relasi makna, dan perubahan makna dalam satuan kebahasaan. Istilah-istilah kunci yang perlu diperhatikan antara lain leksem, leksikon, makna leksikal, makna gramatikal, medan makna, sinonimi, antonimi, hiponimi, polisemi, metafora, metonimia, dan idiom.

Analisis wacana formal adalah cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk pembentukan satuan gramatikal di atas kalimat. Objek kajiannya adalah gugus kalimat, paragraf, dan wacana. Yang menjadi pokok pembahasan antara lain struktur dan hubungan antarkomponen dalam struktur wacana. Istilah-istilah kunci yang perlu diperhatikan antara lain koteks, kohesi, koherensi, topik, dan tema.

Pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji penggunaan bahasa. Berbeda dengan kelima cabang di atas, dalam kajian pragmatik konteks dilibatkan untuk menentukan makna dari penggunanan bahasa. Makna yang terikat konteks disebut maksud. Menurut kajian pragmatik, berbahasa tidak hanya berkata-kata, tetapi juga bertindak. Tindakan yang terlaksana hanya dengan berkata-kata disebut tindak tutur. Selain konteks, maksud, dan tindak tutur, istilah-istilah kunci dalam pragmatik antara lain deiksis, praanggapan, implikatur, prinsip kerja sama, dan prinsip kesopanan.

Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dengan masyarakat. Dalam kacamata sosiolinguistik, penggunaan bahasa dipengaruhi oleh masyarakat penggunanya sehingga melahirkan banyak variasi bahasa. Variasi itulah yang dikaji dalam sosiolinguistik. Kata-kata kunci dalam sosiolinguistik antara lain register, kode, campur kode, alih kode, interferensi, integrasi, diglosia, bilingualisme, dan poliglot.

Penerjemahan adalah cabang linguistik terapan yang mengkaji seluk-beluk pengalihabahsaan suatu teks. Yang dibahas dalam penerjemahan antara lain jenis dan strategi mengalihbahasakan suatu teks.

Pembelajaran bahasa adalah cabang linguistik terapan yang mengkaji seluk-beluk pendidikan bahasa baik untuk penutur asli, maupun pemelajar bahasa asing. Yang dibahas dalam pembelajaran bahasa antara lain metode dan teknik dalam proses belajar mengajar bahasa serta keterampilan berbahasa seperti menyimak, berbicara, membaca, dan mengarang.

Leksikografi adalah cabang linguistik terapan yang mengkaji seluk-beluk penyusunan kamus. Hal yang dibahas antara lain jenis dan proses penyusunan kamus. Istilah-istilah kunci yang perlu diperhatikan antara lain lema/entri, glosa, monolingual, bilingual, multilingual, kamus besar, kamus umum, tesaurus, ensiklopedia, definisi, dan pendefinisian.

Keterkaitan Antarcabang

Meskipun bercabang-cabang, bukan berarti linguistik terpecah-pecah. Cabang-cabang tersebut merupakan pengembangan dari linguistik yang tetap saling berhubungan. Mikrolinguistik menjadi dasar bagi makrolinguistik. Seorang linguis yang akan melakukan kajian makrolinguistik memiliki syarat sudah menguasai kajian mikrolinguistik. Bagaimanapun juga, kajian makrolinguistik tetap mengkaji struktur bahasa dan kajian struktur bahasa secara komprehensif dibahas dalam mikrolinguistik.

Dalam mikrolinguistik sendiri kajiannya juga berjenjang, sebelum membahas analisis wacana formal, orang harus tahu kalimat yang dibahas dalam sintaksis. Sebelum membahas kalimat, orang perlu tahu kata yang dibahas dalam morfologi. Sebelum membahas kata, orang perlu tahu silabel, fonem, dan fona yang dibahas dalam fonologi.

Masih banyak lagi cabang-cabang linguistik yang lain. Apa yang sudah disebutkan di atas hanyalah contoh cabang-cabang linguistik yang paling sering dibahas. Dewasa ini linguistik semakin bersifat interdisipliner dan terapan. Namun, kajian bahasa yang sebenarnya ada di mikrolinguistik. Mengabaikan mikrolinguistik justru membuat kajian interdisipliner dan terapan akan kehilangan jati diri kelinguistikannya.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


81 views