Kalimat Efektif Itu Hemat

Kalimat dikatakan berkriteria hemat apabila tidak memiliki kata-kata yang mubazir. Kemubaziran tersebut dapat terjadi ketika adanya pengulangan subjek pada induk dan anak kalimat, penambahan kata saling pada kata yang sudah bermakna ‘saling’, penjamakan bentuk yang sudah bermakna jamak, penambahan preposisi pada objek, redundansi. Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)     Hari ini Toni tidak masuk kuliah karena dia sakit.

Dalam kalimat (1) di atas terjadi pengulangan subjek yang tidak perlu. Tanpa harus menyatakan bentuk dia pada klausa anak, kalimat (1) di atas sudah cukup informatif.

(2)     Kedua petinju itu saling berpukulan.

Imbuhan ber-an dalam kata berpukulan memiliki arti ‘saling’ sehingga berpukulan artinya ‘saling memukul’. Dengan demikian, kata saling pada contoh (2) di atas tidak diperlukan.

(3)     Narasumber akan menjelaskan tentang tata kata dalam bahasa Inggris.

(4)     Hari ini kami mempresentasikan mengenai unsur intrinsik novel Bumi Manusia.

Sebuah objek tidak perlu didahului dengan preposisi seperti tentang dan mengenai seperti contoh (3) dan (4) di atas. Apabila kedua kata tersebut dihilangkan pun, kedua kalimat di atas tetap gramatikal dan berterima. Hal tersebut membuktikan bahwa keduanya tidak diperlukan dan keberadaannya justru mubazir.

(5)     Para hadirin dimohon berdiri.

(6)     Di tulisan itu terdapat banyak kesalahan-kesalahan.

Adanya bentuk kata hadirin dan kesalahan-kesalahan pada kalimat (5) dan (6) di atas sudah menyatakan bentuk jamak. Oleh karena itu, hadirnya kata para dan banyak dalam kedua kalimat di atas tidak diperlukan.

(7)     Sisi suka makan buah apel.

(8)     Bajunya berwarna merah.

Dalam kata apel sudah terkandung makna ‘buah’, dan dalam kata merah sudah terkandung makna ‘warna’. Maka dari itu, penambahan kata buah dan warna pada kata apel dan merah pada kalimat (7) dan (8) di atas tidak diperlukan.

(9)     Budi naik ke atas panggung.

(10)   Seorang ahli bahasa harus menguasai ilmu linguistik, seorang psikolog harus menguasai ilmu psikologi.

Demikian pula dengan kata naik yang di dalamnya sudah terkandung makna ‘ke atas’. Artinya kata naik tidak perlu lagi diikuti kata ke atas seperti kalimat (9). Pun demikian dengan kata linguistik dan psikologi yang sudah mengandung arti ‘ilmu’ pada kalimat (10).

(11)   Dia hanya membawa seliter beras saja.

(12) Sampah organik adalah merupakan sampah yang dapat mengalami pelapukan (dekomposisi).

(13)   Presiden harus bekerja keras agar supaya rakyat kembali percaya kepadanya.

(14)   Demi untuk kepentingan bersama, semua pihak harus menahan diri.

Kata-kata bersinonim juga tidak perlu digunakan bersama-sama seperti kata hanya dan saja (11), adalah dan merupakan (12), agar dan supaya (13), serta demi dan untuk (14). Cukup gunakan salah satu dari pasangan-pasangan tersebut.

Keempat belas kalimat di atas seharusnya diubah menjadi kalimat-kalimat berikut.

(15)   Hari ini Toni tidak masuk kuliah karena sakit.

(16a) Kedua petinju itu berpukulan.

(16b) Kedua petinju itu saling memukul

(17)   Narasumber akan menjelaskan tata kata dalam bahasa Inggris.

(18)   Hari ini kami mempresentasikan unsur intrinsik novel Bumi Manusia.

(19)   Hadirin dimohon berdiri.

(20)   Di tulisan itu terdapat banyak kesalahan.

(21)   Sisi suka makan apel.

(22)   Bajunya merah.

(23)   Budi naik ke panggung.

(24)   Seorang ahli bahasa harus menguasai linguistik, seorang psikolog harus menguasai psikologi.

(25)   Dia hanya membawa seliter beras.

(26)   Sampah organik adalah sampah yang dapat mengalami pelapukan (dekomposisi).

(27)   Presiden harus bekerja keras agar rakyat kembali percaya kepadanya.

(28)   Demi kepentingan bersama, semua pihak harus menahan diri.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


181 views