Kalimat Efektif Itu Jelas dan Logis

Sebuah kalimat dapat dikatakan berkriteria jelas apabila tidak memiliki makna ganda/ambigu dan cermat memilih kata. Sementara itu, kalimat dapat dikatakan logis apabila sesuai dengan penalaran yang baik atau masuk akal.

Perhatikan contoh-contoh dan penjelaskan berikut.

(1)     Karena mengantuk, bus Sumber Kencono masuk jurang.

Kalimat (1) di atas bermaksud hemat dengan melesapkan subjek pada anak kalimat. Namun, pelesapan tersebut kurang tepat karena subjek di anak dan induk kalimat tidak sama. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman mengenai yang mengantuk. Apakah busnya yang mengantuk? Tentu bukan.

(2)     Kantor dekan baru sedang dibersihkan.

Kalimat (2) di atas menyisakan pertanyaan mengenai yang baru. Kantor atau dekannya yang baru?

(3)     Yang membawa gawai harap dimatikan.

Jika dicermati, kalimat (3) di atas justru menakutkan karena yang diharap untuk dimatikan justru adalah orang yang membawa gawai, bukan gawainya. Sebenarnya, yang dimaksudkan adalah gawainya yang harus dimatikan.

(4)     Pemerintah bertugas mengentaskan kemiskinan.

Kata mengentaskan dihasilkan dari bentuk dasar entas yang mendapat gabungan imbuhan me(N)-/-kan. Kata entas sendiri memiliki arti ‘angkat’. Jika demikian mengentaskan bersinonim dengan mengangkat. Pertanyaannya kemudian adalah dalam kalimat (4) di atas, siapakah yang seharusnya diangkat? Kemiskinannya atau masyarakat miskinnya?

Mengentaskan masyarakat berarti membuat masyarakat yang awalnya berada dalam kemiskinan menjadi tidak miskin lagi. Sementara itu, mengangkat kemisikinan justru berpotensi membuat masyarakat yang awalnya berada di atas garis kemiskinan menjadi tenggelam dalam kemiskinan.

(5)     Untuk mempersingkat waktu, marilah kita melanjutkan acara ini.

Waktu tidak dapat disingkat. Satu menit itu pasti 60 detik; sejam itu 60 menit. Dengan demikian menyingkat waktu seperti pada contoh (5) bukanlah sesuatu yang logis.

(6)     Waktu dan tempat kami persilakan.

Kalimat (6) sering sekali dituturkan oleh pewara kepada seseorang yang diminta memberikan sambutan. Namun, jika dicermati lagi, yang dipersilakan dalam kalimat (6) justru bukan orangnya, melainkan waktu dan tempat. Waktu dan tempat dalam sebuah acara dikuasai oleh pewara maka seharusnya waktu dan tempat itu diberikan, bukan dipersilakan.

(7)     Kita harus mengejar ketertinggalan.

Kata ketertinggalan memiliki arti ‘dalam keadaan tertinggal’ yang artinya berada di belakang. Mengejar ketertinggalan berarti mengejar suatu keadaan yang ada di belakang. Bukankah artinya mengejar ketertinggalan itu justru mundur? Pantas saja negeri ini tidak pernah maju jika yang dikejar justru adalah ketertinggalan, bukannya kemajuan yang telah dicapai negeri lain.

(8)     Dirgahayu HUT RI ke-74.

Kata dirgahayu memiliki arti ‘semoga panjang umur’. Yang seharusnya panjang umur adalah RI, bukan HUT-nya.

(9)     Pencopet itu berhasil ditangkap polisi.

Tampaknya kalimat (9) wajar-wajar saja. Namun jika dicermati ada kejanggalan mengenai pihak yang berhasil. Siapa yang berhasil? Pencopetnya atau polisinya? Sebuah deret verba yang diawali dengan kata berhasil hendaknya diikuti dengan verba aktif, bukan pasif.

Berikut ditampilkan alternatif-alternatif kalimat yang efektif sebagai pengganti sembilan contoh kalimat di atas.

(10)   Karena sopir mengantuk, bus Sumber Kencono masuk jurang.

(11a) Kantor baru dekan sedang dibersihkan. (Yang baru adalah kantornya.)

(11b) Kantor-baru dekan sedang dibersihkan. (Yang baru adalah kantornya.)

(11c) Kantor dekan yang baru sedang dibersihkan. (Yang baru adalah dekannya.)

(12)   Gawai yang dibawa harap dimatikan.

(13a) Pemerintah bertugas mengatasi kemiskinan.

(13b) Pemerintah bertugas mengentaskan masyarkat dari kemiskinan.

(14a) Untuk menghemat waktu, marilah kita melanjutkan acara ini.

(14b) Untuk mengefektifkan waktu, marilah kita melanjutkan acara ini.

(15a) Waktu dan tempat kami berikan.

(15b) Bapak Rektor kami persilakan.

(16)   Kita harus mengatasi ketertinggalan.

(17)   Dirgahayu RI ke-74.

(18a) Polisi berhasil ditangkap pencopet itu.

(18b) Pencopet itu akhirnya ditangkap polisi.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


85 views