Kalimat Efektif Itu Lengkap

Kalimat yang lengkap berkaitan dengan keberadaan unsur-unsur pembentuk kalimat. Sebuah kalimat dapat dikatakan lengkap apabila sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat. Adapun keberadaan objek dan pelengkap bergantung pada jenis predikatnya. Selain itu, kalimat dapat dikatakan lengkap apabila terbentuk dari klausa yang independen.

Dengan kata lain, sebuah kalimat dapat dikatakan tidak lengkap apabila (a) tidak bersubjek, (b) tidak berpredikat, (c) tidak berobjek padahal predikatnya berupa verba transitif, (d) tidak berpelengkap padahal predikatnya berupa verba intransitif berpelengkap wajib, (e), memiliki kata hubung koordinatif dan, atau, sedangkan, atau tetapi di awal kalimat atau (f) hanya terdiri atas klausa anak.

Kalimat sering tidak bersubjek sering terjadi karena hadirnya preposisi di awal kalimat seperti kata dalam, di, dengan, pada, kepada, dan dari. Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)       Dalam buku itu membahas sejarah bahasa Indonesia.

(2)       Di seminar ini mendiskusikan pentingnya bahasa Indonesia.

(3)       Dengan kemajuan teknologi membuat hidup lebih mudah.

(4)       Pada tabel tersebut menunjukkan peningkatan kinerja kita.

(5)       Dari percobaan itu membuktikan produk ini paling baik.

(6)       Kepada para dosen wajib melaksanakan kegiatan tridharma.

Kalimat (1)—(6) di atas tidak memiliki subjek. Tidak jelas siapakah yang membahas, siapa yang mendiskusikan, siapa yang membuat hidup lebih baik, siapa yang menunjukkan, siapa yang membuktikan, dan siapa yang wajib melaksanakan. Apabila preposisi-preposisi pada awal kalimat di atas dihilangkan, kalimat akan menjadi lengkap karena memiliki subjek dan predikat.

Selain cara tersebut, pengubahan predikat yang awalnya berupa verba aktif menjadi verba pasif juga menjadi solusi. Perhatikan contoh berikut.

(1a)      Dalam buku itu dibahas sejarah bahasa Indonesia.

(2a)      Di seminar ini didiskusikan pentingnya bahasa Indonesia.

(3a)      Pada tabel tersebut ditunjukkan peningkatan kinerja kita.

Sebuah kalimat menjadi tidak berpredikat sering kali disebabkan oleh hadirnya kata yang antara subjek dengan predikat. Misalnya:

(7)       Bandara Soekarno-Hatta yang dibangun dengan teknik cakar ayam yang belum pernah digunakan di mana pun.

Kalimat (7) di atas tidak jelas predikatnya. Kehadiran kata yang antara Bandara Soekarno-Hatta dengan dibangun membuat kalimat tersebut kehilangan predikat. Seharusnya, kata yang tersebut dihilangkan sehingga menjadi:

(7a)      Bandara Soekarno-Hatta dibangun dengan teknik cakar ayam yang belum pernah digunakan di mana pun.

Sering kali, ditemukan beberap kasus kalimat majemuk setara yang berkonjungsi dan, tetapi, dan sedangkan dipenggal sehingga menjadi kalimat yang tidak utuh. Misalnya:

(8)       Kelakuan lelaki itu sungguh aneh. Dan sulit dipahami.

(9)       Joni sudah sukses setelah berhasil menjadi direktur. Sedangkan Jono masih berjuang sebagai karyawan biasa.

Contoh (8) dan (9) mengandung kalimat yang tidak lengkap. Seharusnya bagian setelah dan dan sedangkan di kedua contoh di atas bergabung menjadi satu kalimat dengan bagian sebelumnya.

(8a)      Kelakuan lelaki itu sungguh aneh dan sulit dipahami.

(9a)      Joni sudah sukses setelah berhasil menjadi direktur, sedangkan Jono masih berjuang sebagai karyawan biasa.

Selain itu, kalimat majemuk bertingkat juga sering dipenggal sehingga ada anak kalimat yang berdiri sendiri. Misalnya:

(10)     Fafa sedang sedih. Karena kucingnya mati.

(11)     Fifi belajar giat. Supaya lulus ujian CPNS.

(12)     Harun terlalu sering menunda makan. Sehingga sekarang sakit perut.

Seharusnya, anak-anak kalimat pada ketiga data diatas bergabung dengan klausa induknya.

(10a)    Fafa sedang sedih karena kucingnya mati.

(11a)    Fifi belajar giat supaya lulus ujian CPNS.

(12a)    Harun terlalu sering menunda makan sehingga sekarang sakit perut.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


38 views