Analisis Wacana Kritis Membongkar “Kepentingan” di Balik Penggunaan Bahasa

Analisis Wacana Kritis (AWK) atau Critical Discourse Analysis (CDA) merupakan pendekatan mutakhir dalam kajian wacana. AWK dilahirkan untuk membongkar ideologi, kekuasaan, ketidaksetaraan, ketimpangan, dan berbagai macam kepentingan lain di balik penggunaan bahasa.

AWK memandang wacana sebagai sebuah praktik sosial. Wacana dipahami sebagai representasi ideologi yang di dalamnya melibatkan kekuasaan. Artinya, wacana merupakan sebuah tindakan yang dapat memengaruhi tatanan masyarakat karena memiliki kekuasaan tersebut.

Jika dikaitkan dengan pendekatan dalam kajian wacana yang lain, AWK merupakan kelanjutan dari analisis wacana pragmatik dan sosiolinguistik. Kedua model analisis wacana terakhir itu termasuk dalam analisis wacana pendekatan sosiologis empiris.

Baik AWK maupun pragmatik sama-sama melibatkan konteks dalam kajiannya. Keduanya memandang wacana sebagai bahasa yang terikat konteks. Hanya saja, seperti yang dijelaskan di atas AWK juga melibatkan kekuasaan dan ideologi. AWK tidak hanya memandang wacana sebagai bahasa yang digunakan, tetapi juga bahasa yang digunakan untuk memengaruhi tatanan masyarakat. Singkatnya, pragmatik hanya memandang wacana sebagai tindakan berbahasa, sementara AWK memandang wacana sebagai tindakan sosial.

Sebagai contoh, misalnya dua tuturan yang disampaikan oleh dua media massa yang berbeda berikut.

  1. Polisi menembaki para mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi.
  2. Para mahasiswa yang tengah melakukan demonstrasi tertembak.

Dalam pragmatik, tuturan (1) dipandang sebagai tuturan yang menonjolkan polisi dan merupakan jawaban dari pertanyaan, “Siapa yang menembaki para mahasiswa?” Sementara itu, tuturan (2) dipandang sebagai tuturan yang menonjolkan para mahasiswa dna merupakan jawaban dari pertanyaan, “Apa yang dialami para mahasiswa?” Dengan kata lain, pragmatik hanya membedah fungsi dari setiap tuturan.

Sementara itu, dalam AWK, hasil kajian pragmatik di atas ditafsirkan lebih lanjut dengan melibatkan kepentingan tertentu. Kedua tuturan tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan ada motif kepentingan yang menentukan bentuk kebahasaan yang tertuturkan.

Dengan mengatakan tuturan (1), media tersebut merepresentasikan polisi sebagai pelaku yang kejam. Media itu punya kepentingan untuk menyalahkan polisi yang secara tidak manusiawi menembaki para mahasiswa.

Di sisi lain, dengan menyampaikan tuturan (2), media itu merepresentasikan para mahasiswa korban yang tidak sengaja kena tembak. Hal itu terungkap melalui pemilihan verba tertembak yang berarti ‘tidak sengaja ditembak’. Media itu punya kepentingan untuk melindungi atau menyembunyikan pelaku penembakan, yaitu polisi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, AWK merupakan kajian wacana yang tidak bersifat positivistik atau bersifat netral. Sesuai namanya, AWK merupakan kajian wacana yang kritis yang selalu menaruh “kecurigaan” terhadap sebuah penggunaan bahasa. Ketika berwacana, orang memiliki kepentingan dan kepentingan itu berkaitan dengan kekuasaan dan ideologi.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


175 views