Pemilu 2019 (dan sebenarnya juga 2014) telah membuat polarisasi di kalangan masyarakat Indonesia. Ada pendukung Jokowi dan ada pula pendukung Prabowo. Keduanya berada di dua kutub yang berseberangan. Namun, pada Kabinet Indonesia Maju yang baru saja dilantik, keduanya kini berada pada kutub yang sama. Keduanya yang dulunya dua fonem yang berbeda, kini menjadi alofon. Apa maksudnya?

Dalam kajian fonologi dikenal istilah fonem yang berarti bunyi dalam suatu bahasa yang memiliki potensi membedakan makna. Misalnya, dalam bahasa Indonesia fonem /k/ dan /l/ merupakan dua fonem yang berbeda karena berpotensi membedakan makna seperti pada kasus kata /kawan/ dan /lawan/. Bunyi /k/ berbeda dengan /l/ sehingga ketika keduanya saling menggantikan dalam kata, maknanya pun ikut berganti.

Selain fonem, dikenal juga istilah alofon yang berarti variasi dari sebuah fonem karena fonem tersebut berada dalam situasi fonologis tertentu. Alofon tidak berpotensi membedakan makna. Misalnya fonem /i/ dalam bahasa Indonesia memiliki dua variasi, yaitu [i] dan [I] seperti dalam kata [sisIr] dan [bibIr]. Andaikan kata sisir dan bibir dilafalkan dengan [sisir] dan [bibir] pun, tidak akan terjadi perubahan makna. Itulah sebabnya alofon disebut tidak berpotensi membedakan makna.

Fonem memiliki distribusi paralel yang berarti bunyi-bunyi itu dapat menduduki posisi yang sama dalam kata. Seperti halnya contoh fonem /k/ dan /l/ dalam /kawan/ dan /lawan/ di atas, kedua fonem tersebut sama-sama dapat mengisi slot awal kata (dan juga tengah kata).

Sementara itu, alofon memiliki distribusi yang komplementer yang berarti bunyi-bunyi itu saling melengkapi. Dengan kata lain, variasi yang satu hanya bisa mengisi posisi tertentu saja, demikian pula dengan variasi yang lain. Misalnya, seperti bunyi [I] di atas yang hanya dapat berada dalam posisi suku kata tertutup.

Jokowi dan Prabowo sejak 2014 bagaikan dua fonem yang berbeda. Keduanya berpotensi membedakan makna. Jokowi di kubu PDIP dan koleganya, sedangkan Prabowo di kubu Gerindra dan koleganya.

Keduanya juga bersifat paralel. Akibatnya, pada Pemilu 2019 kemarin keduanya kembali berkompetisi. Prabowo berusaha menggantikan Jokowi, sementara Jokowi berusaha mempertahankan takhtanya dari Prabowo.

Siapa sangka, bermula dari pertemuan di MRT dan berakhir pada pelantikan kabinet, kini keduanya telah menjadi alofon. Yang sebelumnya paralel, kini komplementer. Bagaikan fonem /i/, Jokowi dapat menjadi [i] dan Prabowo menjadi [I]. Yang mulanya lawan, kini mereka menjadi kawan.

Tentu dikenal ungkapan “dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”. Berubahnya status fonem menjadi alofon di antara Jokowi dan Prabowo memang dapat dibaca sebagai bukti ungkapan tersebut.

Namun, seluruh rakyat Indonesia berharap, perubahan status fonem menjadi alofon tersebut merupakan awal yang baik bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik seperti halnya nama kabinet periode sekarang, Indonesia Maju. Syaratnya, baik Jokowi dan Prabowo harus menjalankan sifat alofon yang baik, yaitu komplementer atau saling melengkapi. Semoga.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *