Implikatur dalam Pragmatik

Ilustrasi

Dalam sebuah tindak tutur tidak langsung, terdapat sebuah implikatur. Apa itu implikatur dalam pragmatik? Berikut dijelaskan pengertian dan jenis implikatur, serta perbedaannya dengan entailmen.

Baca juga: Praanggapan Membuat Penutur Menuturkan Tuturannya

Pengertian Implikatur dalam Pragmatik

Kata implikatur diserap dari kata implicature dalam bahasa Inggris. Kata implicature sendiri berakar dari bentuk in- ‘di/ke dalam’ dan plicare ‘melipat’ atau ‘membungkus’ dalam bahasa Latin. Berikut dijelaskan implikatur menurut Yule (2006).

Implikatur merupakan implikasi dari tuturan yang tertutur yang berupa simpulan logis dari suatu tuturan. Implikatur dipahami secara bersama-sama antara penutur dan mitra tutur dalam konteks tertentu supaya tujuan tutur dapat terlaksana. Lambang implikatur adalah (+>).

Jenis Implikatur

Ada dua jenis implikatur dalam pragmatik. Implikatur pertama disebut implikatur percakapan. Implikatur kedua disebut implikatur konvensional. Hal yang membedakan keduanya adalah cara memahaminya. Implikatur percakapan baru bisa dipahami jika berada dalam wacana percakapan. Sementara itu, implikatur konvensional tidak harus berada dalam percakapan.

Implikatur Percakapan

Dalam pragmatik implikatur percakapan dapat dibagi menjadi dua, yaitu (i) implikatur percakapan umum dan (ii) implikatur percakapan khusus. 

Implikatur Percakapan Umum

Implikatur percakapan umum adalah implikatur dalam dialog yang dapat dipahami tanpa melihat konteks percakapan. Perhatikan contoh berikut.

(a)                      Charlie   :   Saya berharap kamu membawakan saya roti dan keju.

                          Doni           :         Ah, saya hanya membawa roti.

+> Doni tidak membawa keju.

Dalam dialog (a) di atas, Charlie mengharapkan roti dan keju dibawakan oleh Doni. Namun, Doni menjawab bahwa ia hanya membawa roti. Artinya secara tidak langsung, Doni tidak membawa keju untuk Charlie. Tanpa harus memahami konteks situasi antara Charlie dan Doni, implikatur dari dialog di atas dapat dipahami.

(b)     Deby          : Apakah kamu mengundang Billa dan Ani?

         Cika            : Aku mengundang Billa saja.

+> Cika tidak mengundang Ani.

Dalam dialog (b) di atas, Deby menanyakan apakah Cika mengundang Billa dan Ani. Namun, Cika menjawab bahwa ia hanya mengundang Billa saja. Artinya, Cika tidak mengundang Ani. Sama seperti contoh (a) di atas, tanpa harus memahami konteks situasi antara Deby dan Cika, implikatur dari dialog di atas dapat dipahami.

Implikatur Berskala

Yule (1996) juga menjelaskan implikatur berskala dalam pembahasan tentang implikatur percakapan umum. Implikatur berskala ditandai dengan istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas dari skala nilai tertinggi ke nilai terendah, seperti semua, banyak, beberapa, selalu, sering, dan kadang-kadang.  

(c)     Desi           :         Apakah semua temanmu ikut ke pesta itu?

         Citra           :         Hanya beberapa saja.

+> Tidak semua teman Citra ikut ke pesta itu.

(d)     Dina           :         Rico benar-benar selalu bisa diandalkan ya?

         Cerry          :         Tapi kadang-kadang dia suka eror.

+> Rico tidak selalu bisa diandalkan.

Implikatur Percakapan Khusus

Implikatur percakapan khusus merupakan implikatur dalam dialog yang baru bisa dipahami setelah mengetahui konteks percakapan tersebut.

(e)     Tuti             :         Budi di mana, Ton?

                                    Anton         :         Chico di kantin.

+> Budi (mungkin) di kantin juga karena di mana ada Cico, (biasanya) di situ ada Budi juga.

Berbeda dengan contoh (a) dan (b) di atas, implikatur dari tuturan Anton di atas baru bisa dipahami jika penafsir memahami konteks situasi. Misalnya, konteksnya adalah Cico dan Budi selalu bersama.

(f)      Luki            : Awas Rocky datang!

         Kemal        : Sembunyikan rokok kalian!

+> Rocky akan meminta rokok kalian.

Sekilas tidak ada hubungan antara tuturan Luki dan Kemal pada contoh (f) di atas. Namun, jika konteks tentang Rocky diketahui, ada implikatur yang dapat disimpulkan, yaitu Rocky suka meminta rokok orang lain dan itu tidak disukai oleh baik Luki maupun Kemal serta teman-teman yang lain.

(g)     Charlie       :         Kamu dan anakmu mau ke mana?

          Doni           :         Ke er es.

+> Doni mau ke rumah sakit. Anak Doni tidak akan mau diajak pergi jika ia tahu akan dibawa ke rumah sakit (RS).

Jawaban Doni dalam dialog (g) di atas tidak begitu jelas. Akan lebih jelas jika Doni langsung mengatakan bahwa dia mau ke rumah sakit. Namun, Doni sengaja menyamarkan jawabannya dengan mengatakan tujuan perginya dengan mengeja singkatan dari rumah sakit, yaitu er dan es (RS). 

Mengapa Doni melakukan hal tersebut? Mungkin, anak Doni tidak akan mau diajak pergi jika ia tahu akan dibawa ke rumah sakit. Oleh karena itu, Doni menjawab pertanyaan Charlie secara tidak langsung.

(h)    Deby          :         Vegetarian itu makan hamburger nggak ya?

        Cika            :         Apakah ayam punya bibir?

+> Vegetarian tidak makan hamburger.

Terkadang, menyatakan implikatur bisa dengan pertanyaan retoris seperti dalam tuturan (h) di atas. Deby bertanya kepada Cika apakah seorang vegetarian memakan hamburger. Padahal semua orang tahu bahwa hamburger mengandung daging. Menyadari bahwa pertanyaan Deby adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan, Cika akhirnya menjawab dengan pertanyaan retoris bahwa apakah ayam punya bibir yang artinya ‘tidak’.

Implikatur Konvensional

Implikatur konvensional adalah implikatur yang dapat dipahami dari makna satuan gramatikal, bukan dari percakapan. Misalnya:

(i)      Tarigan orang Batak, tetapi tidak pandai bernyanyi.

+> Orang Batak biasanya pandai bernyanyi.

Contoh tuturan (i) di atas terdapat dua proposisi yang dipertentangkan, yaitu tentang status Tarigan sebagai orang Batak dan fakta bahwa Tarigan tidak pandai bernyanyi. Dua proposisi di atas sekilas tidak ada hubungannya. Namun, ketika dua hal tersebut disandingkan dan diperbandingkan secara paradoksal, baru bisa disimpulkan bahwa ada stereotip orang Batak biasanya pandai bernyanyi.

(j)      Meskipun kuliah di Fakultas Sastra, Wawan tidak bisa menulis puisi.

+> Mahasiswa Sastra (seharusnya) bisa menulis puisi.

Hampir sama dengan tuturan (i), dalam tuturan (j) terkandung sebuah stigma bahwa mahasiswa sastra selayaknya bisa membuat sebuah puisi. Wawan adalah mahasiswa sastra maka seharusnya dia bisa mengarang sebuah puisi.

(k)     Paul tidak kaya raya, tetapi dia bahagia.

+> Orang yang tidak kaya tidak bahagia.

Dalam tuturan (k) terdapat dua proposisi yang dibandingkan. Proposisi tersebut berkaitan dengan keadaan finansial dan perasaan Paul. Setelah diperbandingkan, didapatkan sebuah implikatur atau prasangka bahwa orang yang tidak kaya tidak bahagia.

Baca juga: Prinsip Kerja Sama Membuat Komunikasi Menjadi Lancar

Entailmen

Berbeda dengan implikatur yang merupakan konsekuensi logis dari sebuah tuturan, entailmen adalah konsekuensi mutlak atas suatu tuturan. Tanda ||- merupakan lambang dari entailmen. Misalnya contoh berikut.

(l)     Kain membunuh Habel.

||- Habel mati.

(m)   Maman tiba di Jakarta.

||- Maman sampai di suatu tempat.

(n)     Puput membeli rumah.

||- Puput mempunyai rumah.

Dalam tuturan (l), (m), dan (n) terdapat tiga kata kerja yang membawa konsekuensi mutlak, yaitu membunuh, tiba, dan membeli. Konsekuensi mutlak dari membunuh adalah objeknya mati. Predikat tiba memiliki konsekuensi mutlak subjeknya sampai di suatu tempat. Adapun, dampak mutlak dari membeli adalah subjeknya memiliki objek yang dibeli.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti