kesopanan brown & levinson

Salah satu teori kesopanan paling berpengaruh dalam pragmatik modern dikembangkan oleh Penelope Brown dan Stephen C. Levinson dalam karya klasik mereka Politeness: Some Universals in Language Usage (1978/1987). Brown & Levinson membangun teorinya dari konsep “muka” (face) yang diadaptasi dari sosiolog Erving Goffman.

Brown & Levinson mendefinisikan muka sebagai citra diri sosial yang ingin dipertahankan oleh setiap orang dalam interaksi. Kesopanan, dalam model ini, adalah strategi untuk mengelola ancaman terhadap muka dalam berbagai bentuk tindak tutur, khususnya tindak tutur yang berpotensi merusak hubungan sosial atau mempermalukan mitra tutur.

Brown & Levinson membedakan dua aspek muka yang perlu dijaga, yaitu muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). Muka positif adalah keinginan seseorang agar dirinya disukai, dihargai, diterima, dan dianggap penting oleh orang lain. Sementara itu, muka negatif adalah keinginan seseorang untuk bebas dari paksaan, tidak diganggu, dan memiliki otonomi pribadi.

Tindak tutur yang berisiko merusak muka disebut sebagai tindakan mengancam muka atau face threatening acts (FTAs). Misalnya, menolak permintaan (mengancam muka positif) dan memerintah secara langsung (mengancam muka negatif). Untuk mengurangi ancaman ini, penutur akan menggunakan strategi kesopanan (politeness strategies).

Brown & Levinson menyusun empat strategi utama yang disusun berdasarkan tingkat risikonya terhadap muka (dari yang paling berisiko hingga paling aman), yaitu sebagai berikut.

  1. Penuturan Terus Terang (Bald on Record)
    Strategi ini paling langsung dan tanpa mitigasi.
    Contoh: “Antarkan saya ke stasiun.”
    Risiko terhadap muka tinggi karena tidak ada usaha untuk meredam beban pada mitra tutur.
  2. Strategi Kesopanan Positif (Positive Politeness)
    Strategi ini menjaga muka positif dengan menunjukkan kedekatan, perhatian, atau pujian.
    Contoh: “Antarkan saya ke stasiun ya, kamu baik banget sih.”
    Penutur mengurangi ancaman dengan membangun solidaritas atau keakraban.
  3. Strategi Kesopanan Negatif (Negative Politeness)
    Strategi ini menjaga muka negatif dengan menunjukkan rasa hormat, memberi pilihan, dan berbicara secara tidak langsung.
    Contoh: “Maaf, bolehkah saya minta bantuan mengantar ke stasiun?”
    Penutur menghindari kesan memaksa dan memberi ruang bagi mitra tutur untuk menolak.
  4. Penuturan Tersamar (Off Record)
    Strategi implisit yang tidak secara langsung menyatakan maksud, sehingga tanggung jawab ada pada mitra tutur untuk menyimpulkan makna.
    Contoh: “Aduh, saya hampir telat lagi naik kereta…” atau “Kamu bawa mobil ke stasiun, ya?”
    Strategi ini sangat halus dan menghindari risiko penolakan langsung.

Berikut adalah penjabaran dari keempat strategi kesopanan dalam teori Brown & Levinson (1987) berdasarkan Bab V dari buku Politeness: Some Universals in Language Usage.

Strategi Penuturan Terus Terang (Bald on Record)

Strategi penuturan terus terang adalah strategi kesopanan yang paling langsung dan eksplisit dalam menyampaikan maksud atau keinginan penutur. Dalam strategi ini, penutur tidak berusaha menyamarkan, memperhalus, atau menghindari ancaman terhadap wajah mitra tutur. Tidak ada mitigasi (redress). Tuturan disampaikan sebagaimana adanya, lugas, tanpa basa-basi.

Strategi ini mengabaikan kebutuhan muka positif maupun negatif dari mitra tutur. Namun, dalam konteks tertentu, penggunaan strategi ini tidak selalu dianggap tidak sopan, terutama jika tuturan disampaikan dalam situasi darurat atau mendesak. 

Hal yang sama berlaku jika ada hubungan yang sangat akrab antara penutur dan pendengar. Adapun faktor kekuasaan penutur yang lebih tinggi dari mitra tutur dan bentuk tuturan sesuai dengan ekspektasi sosial juga menentukan penggunaan strategi ini. Selain itu, ada kalanya efisiensi dan kejelasan maksud dianggap lebih penting daripada kesantunan cara berbahasa.

Brown dan Levinson menyebut strategi ini sebagai cara paling efisien dalam berkomunikasi, sekaligus juga yang paling berisiko secara sosial. Jika strategi ini digunakan dalam konteks yang salah (misalnya kepada orang yang tidak dikenal, dalam situasi santai, atau dengan nada tinggi), penutur dapat dianggap kasar, mempermalukan, bahkan menghina mitra tutur.

Strategi penuturan terus terang dipakai ketika efisiensi, kejelasan, dan kecepatan komunikasi lebih penting daripada menjaga muka. Namun, efektivitas dan keberterimaan strategi ini sangat bergantung pada situasi (biasa atau darurat), konteks relasi sosial (dekat atau jauh), dan status sosial (setara atau hierarkis). 

Brown & Levinson membedakan dua jenis penggunaan strategi penuturan terus terang berdasarkan motivasi komunikatifnya, yaitu Penuturan terus terang tanpa upaya meminimalkan ancaman muka (non-minimizing face threats) dan penuturan terus terang yang justru menjaga muka (FTA-oriented bald-on-record).

Penuturan Terus Terang tanpa Upaya Meminimalkan Ancaman Muka

Dalam keadaan darurat, waktu menjadi faktor krusial. Strategi penuturan terus terang digunakan untuk menghindari ambiguitas dan mempercepat reaksi mitra tutur. Dalam situasi seperti ini, bentuk tutur yang sopan atau berbelit justru bisa membahayakan. 

Strategi penuturan terus terang tanpa meminimalkan ancaman muka banyak digunakan dalam konteks budaya Indonesia, terutama saat kejelasan dan efisiensi lebih penting daripada kesopanan formal. Meskipun terdengar kasar secara struktur, keberterimaan strategi ini sangat ditentukan oleh konteks sosial, hubungan antarpenutur, dan niat komunikatif yang mendasarinya. Kepekaan terhadap konteks menjadi kunci agar penutur tidak disalahpahami atau dianggap tidak sopan.

Berikut dijabarkan penggunaan strategi penuturan terus terang yang tanpa meminimalkan ancaman muka.

Situasi Darurat atau Mendesak

Dalam kondisi yang mengancam keselamatan atau membutuhkan respons cepat, segala bentuk basa-basi atau mitigasi justru berbahaya. Kejelasan dan efisiensi komunikasi menjadi prioritas mutlak.

Contoh:
Konteks: Kebakaran di sebuah rumah kos. Seorang penghuni melihat asap dan api mulai menyebar.
Ani: “Kebakaran! Cepat keluar dari kamar kalian sekarang!”
Fajar: “Astaga!” (bergegas keluar)

Ani menggunakan bentuk perintah langsung dan keras karena waktu sangat terbatas. Tidak ada upaya memperhalus atau meminta dengan sopan. Justru jika ia berkata, “Maaf ya, tolong keluar kalau bisa, sepertinya ada kebakaran,” informasinya akan terlambat atau tidak dianggap serius. Strategi ini menunjukkan bahwa dalam situasi genting, menjaga muka mitra tutur bukanlah prioritas.

Hambatan Komunikasi

Dalam kondisi komunikasi terganggu (seperti sinyal buruk, kebisingan, atau jarak jauh), strategi penuturan terus terang digunakan agar pesan tersampaikan dengan jelas.

Contoh:
Konteks: Seorang ibu menelepon anaknya dari pasar yang ramai.
Ibu: “Dita! Ambil nasi di rice cooker! Panaskan sayur di kompor! Cepat ya, Ibu bentar lagi pulang!”
Dita: “Iya, Bu!”

Nada suara ibu mungkin terdengar keras dan langsung. Namun dalam kondisi pasar yang bising, komunikasi harus langsung dan to the point agar tidak ada informasi yang hilang. Reduksi ancaman muka (seperti memulai dengan “tolong ya”) dianggap tidak praktis.

Fokus Interaksi adalah Tugas (Task-Oriented)

Dalam konteks kerja atau instruksi, efektivitas lebih diutamakan. Ketegasan dan kejelasan tuturan dipilih agar tidak terjadi kesalahan teknis.

Contoh:
Konteks: Seorang kepala tukang memberi instruksi kepada anak buahnya saat renovasi rumah.
Pak Darto: “Campur semen dulu, baru siram air. Setelah itu aduk cepat!”
Andi: “Siap, Pak!”

Dalam situasi kerja teknis, penutur tidak menggunakan bentuk permintaan sopan. Komunikasi yang efisien dan akurat lebih penting. Hubungan antara penutur dan mitra tutur juga sudah terbentuk dalam kerangka tugas, sehingga bentuk langsung tidak dianggap kasar.

Relasi Kuasa

Penutur yang memiliki kekuasaan lebih tinggi merasa berhak untuk berbicara secara langsung dan lugas kepada mitra tutur yang berada dalam posisi lebih rendah.

Contoh:
Konteks: Seorang kepala sekolah memarahi guru yang terlambat mengumpulkan laporan.
Kepala Sekolah: “Laporan ini seharusnya masuk kemarin. Segera perbaiki dan kirimkan hari ini!”
Guru: “Baik, Pak.”

Kepala sekolah berbicara secara langsung tanpa menggunakan peredam seperti “mohon” atau “bisa tolong”. Dalam konteks formal hierarkis, ini dianggap wajar. Kekuasaan simbolik memberi legitimasi atas strategi penuturan terus terang.

Penutur Sengaja Bersikap Kasar atau Bercanda

Dalam hubungan yang sangat akrab atau saat bercanda, penutur mungkin menggunakan bahasa yang kasar atau mengejek sebagai bentuk ekspresi solidaritas.

Contoh:
Konteks: Dua sahabat bercanda setelah main futsal.
Bayu: “Gila, tendanganmu tadi kayak kakek-kakek! Lemes banget!”
Aris: “Haha, ya elah, bola aja kasihan ngelihat aku tendang.”

Tuturan Bayu bisa dianggap mengancam muka jika dilihat secara literal. Namun karena konteksnya adalah candaan antara teman dekat, tuturan tersebut justru memperkuat keakraban. Penuturan terus terang dalam situasi ini tidak dianggap ofensif, melainkan membangun kebersamaan.

Tindakan demi Kepentingan Mitra Tutur (Nasihat atau Peringatan Tulus)

Penutur bisa menggunakan bentuk langsung karena tujuan utamanya adalah melindungi atau menolong mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Seorang kakak menasihati adiknya yang sedang jatuh cinta pada orang yang sudah menikah.
Kakak: “Berhenti sekarang juga! Dia sudah punya istri! Kamu hanya akan terluka!”
Adik: “Aku tahu… tapi aku bingung harus gimana.”

Walaupun tuturan kakak keras dan langsung, motifnya adalah menjaga adik dari bahaya emosional. Strategi ini bisa diterima karena didasarkan pada kepedulian, bukan kemarahan atau kekuasaan.

Penuturan Terus Terang yang Justru Menjaga Muka

Strategi penuturan terus terang tidak selalu kasar atau ancaman. Dalam konteks tertentu, terutama yang melibatkan solidaritas, keakraban, dan relasi emosional, Prinsip dasarnya adalah semakin tegas tawaran atau izin disampaikan, semakin kecil rasa canggung mitra tutur untuk menerimanya. 

Bentuk imperatif biasanya dianggap mengancam muka karena tidak memberi ruang kebebasan memilih. Namun dalam konteks tertentu, bentuk imperatif justru menenangkan mitra tutur karena menghilangkan ambiguitas dan mempertegas niat baik penutur. 

Tuturan imperatif seperti “Masuk saja”, “Ayo makan”, atau “Hati-hati di jalan” bukan perintah otoritatif, tetapi ekspresi kehangatan dan perhatian. Meskipun secara bentuk tampak langsung, strategi ini justru dipilih karena memperhatikan muka mitra tutur, baik muka positif maupun negatif. 

Strategi ini lazim dalam budaya-budaya yang menjunjung tinggi keakraban namun juga kepekaan sosial seperti di Indonesia. Penggunaan strategi ini menghindarkan keraguan dan rasa sungkan, mewakili keinginan kuat penutur untuk melayani atau melindungi mitra tutur, dan menjadi tanda ketulusan dan keakraban. Pemahaman konteks sangat penting agar strategi ini digunakan secara tepat dan tidak disalahartikan.

Berikut dijabarkan penggunaan strategi penuturan terus terang yang justru menjaga muka.

Menyambut Seseorang

Momen penyambutan seseorang ke dalam ruang personal—seperti rumah atau kantor—sering kali membuat mitra tutur merasa ragu atau sungkan. Dalam situasi ini, tuturan langsung diperlukan untuk segera menghilangkan keraguan tersebut dan menciptakan suasana hangat.

Contoh:
Konteks: Seseorang datang bertamu dan ragu-ragu berdiri di depan pagar.
Tuan Rumah: “Masuk saja, Pak. Jangan sungkan.”
Tamu: “Oh, iya. Terima kasih.”

Perintah langsung seperti “Masuk saja” terdengar sebagai bentuk perhatian dan keramahan dalam budaya Indonesia. Jika penutur terlalu berputar-putar, misalnya berkata, “Kalau Bapak berkenan, mungkin bisa masuk sebentar”, tamu bisa merasa makin sungkan. Imperatif langsung justru memberi jaminan bahwa kehadiran tamu disambut hangat.

Salam Perpisahan

Dalam budaya Indonesia, ucapan perpisahan sering kali diwarnai dengan bentuk nasihat atau permintaan langsung. Meskipun secara struktur tampak imperatif, tujuan utamanya adalah melindungi dan memperlihatkan kasih sayang.

Contoh:
Konteks: Seorang ibu mengantar anaknya yang akan kembali ke kota lain setelah mudik.
Ibu: “Hati-hati ya, jalan pelan-pelan. Jangan ngebut.”
Anak: “Iya, Bu. Doain ya.”

Bentuk imperatif seperti “Jalan pelan-pelan” sebenarnya merupakan ungkapan kasih sayang. Penutur menggunakan bentuk terus terang bukan untuk memerintah, melainkan untuk menunjukkan kepedulian secara eksplisit. Dalam konteks relasi emosional, ini justru menjaga dan menguatkan muka positif mitra tutur.

Memberi Tawaran Langsung

Penawaran dalam budaya Indonesia sering kali disampaikan secara langsung untuk menunjukkan ketulusan. Jika disampaikan secara terlalu halus, justru bisa menimbulkan salah paham atau membuat mitra tutur sungkan.

Contoh:
Konteks: Seorang tuan rumah menjamu teman lama yang datang dari luar kota.
Tuan Rumah: “Ayo makan. Makanan sudah disiapkan di dapur.”
Tamu: “Wah, makasih banget. Maaf jadi merepotkan.”

Ungkapan “Ayo makan” sebagai bentuk perintah terdengar akrab dan tulus dalam budaya Indonesia. Jika hanya berkata “Silakan, kalau mau makan”, tamu mungkin enggan. Strategi ini memperjelas bahwa penutur benar-benar mengundang dan tidak basa-basi. Oleh karena itu, meski bentuknya imperatif, fungsi sosialnya adalah memberi izin dan menghapuskan keraguan mitra tutur.

Meyakinkan agar Tidak Sungkan

Kadang kala mitra tutur merasa canggung atau tidak ingin merepotkan. Dalam situasi ini, strategi penuturan terus terang digunakan untuk menunjukkan bahwa penutur tidak merasa terganggu dan bahkan memberikan dukungan eksplisit.

Contoh:
Konteks: Seorang teman mampir ke rumah kos untuk belajar, tapi merasa sungkan karena tuan rumah sedang sibuk.
Tuan Rumah: “Udah, buka aja laptopmu. Jangan pedulikan aku, aku cuma beresin cucian.”
Teman: “Oke, makasih ya. Aku lanjut belajar dulu.”

Bentuk “Jangan pedulikan aku” bersifat langsung tapi menenangkan. Ini adalah cara penutur membebaskan mitra tutur dari rasa canggung. Strategi ini efektif untuk menunjukkan bahwa keberadaan mitra tutur tidak mengganggu dan bahwa penutur tulus memberikan ruang.

Mengurangi Rasa Canggung

Kadang penutur merasa tidak enak karena situasi atau kondisi yang dirasa kurang ideal, seperti rumah yang berantakan atau penampilan yang kurang rapi. Dalam situasi ini, tuturan langsung digunakan untuk mencegah penilaian negatif atau ketegangan dari mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Seorang teman berkunjung mendadak ke rumah yang sedang tidak rapi.
Tuan Rumah: “Aduh, maaf ya, rumahnya berantakan banget.”
Tamu: “Ah, santai aja. Namanya juga rumah.”

Pernyataan seperti ini secara struktur merupakan deklarasi langsung, tapi fungsi sosialnya adalah mengurangi rasa malu atau canggung dari pihak penutur sekaligus mempersiapkan mitra tutur agar tidak menilai negatif. Dalam budaya Indonesia, kesadaran diri seperti ini menjadi strategi untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial.

Strategi Kesopanan Positif: Strategi untuk Menjaga Muka Positif Mitra Tutur

Strategi kesopanan positif adalah strategi yang digunakan oleh penutur untuk mengurangi ancaman terhadap muka positif mitra tutur. Muka positif merujuk pada keinginan seseorang untuk dihargai, diterima, dan disukai oleh orang lain. Dalam kesopanan positif, penutur melakukan tindak tutur yang berpotensi mengancam muka, tetapi dengan cara yang menunjukkan bahwa penutur dan mitra tutur berada dalam hubungan yang akrab dan kooperatif.

Brown dan Levinson membagi strategi kesopanan positif ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan fungsi pragmatisnya, yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa penutur peduli terhadap keinginan mitra tutur dan ingin menjaga hubungan baik dengannya.

Pertama, menyatakan kesamaan atau kedekatan (claim common ground). Dalam strategi ini, penutur membangun rasa kebersamaan, kesamaan pengalaman, atau solidaritas dengan mitra tutur. Hal ini dilakukan dengan menyatakan bahwa penutur dan mitra tutur memiliki latar belakang, minat, atau pandangan yang serupa.

Strategi yang termasuk dalam kelompok ini meliputi cara-cara berikut.

  1. Memperhatikan mitra tutur (Notice, attend to H)
    Penutur menunjukkan bahwa ia menyadari dan peduli terhadap kondisi, keinginan, atau kepemilikan mitra tutur.
    Contoh: “Wah, rambutmu dipotong ya? Cocok banget modelnya.” 
  2. Melebih-lebihkan empati atau pujian (Exaggerate interest, approval, sympathy)
    Penutur mengekspresikan kekaguman atau simpati secara hiperbolik.
    Contoh: “Presentasimu tadi keren banget! Serius, aku sampai kagum.” 
  3. Mengintensifkan keterlibatan dalam topik (Intensify interest to H)
    Penutur menunjukkan antusiasme atau minat tinggi terhadap pengalaman mitra tutur.
    Contoh: “Terus gimana? Pas ketemu artisnya kamu ngomong apa? Wah, pasti deg-degan banget!” 
  4. Menggunakan penanda identitas kelompok (Use in-group identity markers)
    Penutur menggunakan sapaan atau gaya bahasa khas kelompok untuk menunjukkan keakraban.
    Contoh: “Gimana kabarnya, Bro?” atau “Atur aja, Bu Ketua.” 
  5. Mencari kesepakatan (Seek agreement)
    Penutur menyoroti hal-hal yang mereka setujui.
    Contoh: “Film itu memang bagus banget ya. Ending-nya juga keren.” 
  6. Menghindari ketidaksepakatan (Avoid disagreement)
    Penutur menghindari perbedaan pendapat yang bisa memicu konflik.
    Contoh: “Iya sih, ada benarnya juga pendapatmu. Mungkin tinggal sedikit disesuaikan aja.” 
  7. Membangun asumsi bahwa keduanya punya pandangan yang sama (Presuppose/raise/assert common ground)
    Penutur menyiratkan bahwa mereka berbagi pengalaman, nilai, atau pendapat.
    Contoh: “Namanya juga dosen, pasti sama-sama sibuk menjelang akhir semester.” 
  8. Menggunakan humor (Joke)
    Penutur menggunakan humor untuk mencairkan suasana dan membangun keintiman.
    Contoh: “Kalau tugasmu sebanyak ini, laptopmu pasti juga ikut puyeng.” 

Kedua, menunjukkan bahwa Penutur dan Mitra Tutur adalah Rekan Kerja Sama (convey that S and H are cooperators). Penutur menunjukkan bahwa ia memahami dan mempertimbangkan keinginan mitra tutur, serta berada dalam posisi yang siap bekerja sama atau membantu.

Strategi yang termasuk di dalamnya meliputi cara-cara berikut.

  1. Menyatakan bahwa penutur memahami keinginan mitra tutur (Assert or presuppose S’s knowledge of and concern for H’s wants)
    Penutur menunjukkan empati terhadap situasi mitra tutur.
    Contoh: “Kamu pasti capek habis rapat seharian. Istirahat dulu aja.” 
  2. Menawarkan atau menjanjikan sesuatu (Offer, promise)
    Penutur menunjukkan niat baik dengan berkomitmen melakukan sesuatu untuk mitra tutur.
    Contoh: “Nanti biar aku bantu edit presentasimu.” 
  3. Bersikap optimis (Be optimistic)
    Penutur berbicara dengan keyakinan bahwa mitra tutur akan merespons secara positif.
    Contoh: “Aku yakin kamu bisa menyelesaikan proyek ini dengan baik.” 
  4. Melibatkan penutur dan mitra tutur dalam satu tindakan (Include both S and H in the activity)
    Penutur menciptakan kesan “kita bersama” dalam suatu kegiatan.
    Contoh: “Ayo kita kerjakan bareng-bareng biar cepat selesai.” 
  5. Memberi atau meminta alasan (Give or ask for reasons)
    Penutur memberikan justifikasi logis terhadap tindakannya atau meminta penjelasan dari mitra tutur untuk menunjukkan penghargaan terhadap sudut pandangnya.
    Contoh: “Kamu kenapa memilih topik itu? Pasti ada alasan menarik, ya?” 

Ketiga, memenuhi keinginan mitra tutur (fulfill H’s wants for some X). Kelompok strategi ini berfokus pada memberi sesuatu yang bermanfaat bagi mitra tutur, baik secara nyata (bantuan) maupun simbolis (pengakuan, simpati).

Strategi yang termasuk dalam kelompok ini meliputi cara-cara berikut.

  1. Menyatakan prinsip timbal balik (Assume or assert reciprocity)
    Penutur menyiratkan bahwa hubungan mereka bersifat saling memberi dan mendukung.
    Contoh: “Dulu kamu bantu aku latihan presentasi. Sekarang gantian aku bantu kamu.” 
  2. Memberikan “hadiah” kepada mitra tutur (Give gifts to H
    “Hadiah” bisa berupa barang, simpati, pujian, pengertian, atau tawaran kerja sama.
    Contoh: “Pak, sudah capek bantu dari tadi. Ini kopi sama gorengannya dulu.” 

Melalui 15 strategi kesopanan positif ini, penutur dapat menyampaikan niat atau permintaan tanpa menyinggung mitra tutur. Strategi ini sangat cocok digunakan dalam konteks hubungan yang bersifat akrab, setara, dan saling mendukung, serta dalam budaya yang menekankan kehangatan dan keakraban relasional, seperti budaya Indonesia.

Berikut dijabarkan 15 strategi tersebut secara lebih rinci.

Strategi 1: Perhatikan dan Tanggapi Kebutuhan Mitra Tutur (Notice, Attend to H)

Strategi ini menekankan perhatian penutur terhadap kondisi, keinginan, kebutuhan, atau kepemilikan mitra tutur. Bentuk perhatian bisa berupa pengamatan terhadap perubahan keadaan mitra tutur, seperti penampilan, situasi emosional, atau bahkan benda miliknya. Dengan menunjukkan bahwa penutur memperhatikan hal-hal tersebut, ia menunjukkan kepedulian dan rasa hormat terhadap wajah positif (positive face) mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Agus tahu bahwa Budi adalah pemain bola yang andal. Namun, sepatu Budi rusak parah dan ia tidak punya uang untuk membeli yang baru. Agus menyadari bahwa tim akan sangat terbantu jika Budi bermain.
Agus: “Bud, pakailah sepatuku. Sepertinya ukuran sepatu kita kurang lebih sama.”
Budi: “Wah, makasih banyak, Gus. Aku jadi bisa main besok.”

Dalam dialog tersebut, Agus memperhatikan kebutuhan Budi secara langsung dan menawarkan solusi. Ia tidak hanya peduli terhadap Budi sebagai pribadi, tetapi juga menunjukkan bahwa ia menghargai peran Budi di tim. Ini memperkuat solidaritas dan rasa hormat antara keduanya, serta menunjukkan strategi kesopanan positif.

Strategi 2: Melebih-lebihkan Ketertarikan atau Simpati terhadap Mitra Tutur (Exaggerate interest, approval, or sympathy with H)

Strategi ini dilakukan dengan membesar-besarkan perhatian, keterlibatan, atau simpati penutur terhadap mitra tutur, baik secara verbal maupun nonverbal. Tujuannya adalah menciptakan kesan bahwa penutur sangat peduli atau sangat mengapresiasi apa yang dilakukan atau dirasakan oleh mitra tutur. Strategi ini sering menggunakan penguat intensitas seperti sangat, banget, atau repetisi (pengulangan), serta disertai nada suara yang antusias. Strategi ini membantu memperkuat solidaritas sosial karena menunjukkan bahwa penutur bukan hanya memahami, tapi juga antusias atau terlibat secara emosional dengan mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Sinta baru saja menyelesaikan presentasi proyek di depan dosen dan teman-temannya. Usai presentasi, temannya, Lia, menghampirinya.
Lia: “Waaah, Sin! Presentasimu tadi luar biasa banget! Serius deh, aku nggak nyangka kamu bisa segitu lancarnya. Keren parah!”
Sinta: “Hehe, makasih ya! Aku deg-degan banget tadi padahal.”

Dalam contoh di atas, Lia menggunakan pujian yang dilebih-lebihkan (“luar biasa banget”, “keren parah”, “serius deh”) untuk menunjukkan kekaguman dan dukungannya terhadap Sinta. Ini bukan sekadar pujian biasa, tapi dinyatakan secara hiperbolik untuk menegaskan solidaritas dan simpati.

Strategi ini memperkuat wajah positif mitra tutur (Sinta), yakni kebutuhannya untuk merasa dihargai dan diakui. Sekaligus, Lia menempatkan dirinya sebagai teman yang peduli dan memperhatikan keberhasilan Sinta. Di sinilah letak kekuatan strategi ini dalam membangun hubungan interpersonal yang hangat.

Strategi 3: Intensifikasi Minat terhadap Topik yang Relevan bagi Mitra Tutur (Intensify interest to H)

Strategi ini dilakukan dengan cara menunjukkan minat yang tinggi terhadap topik pembicaraan, terutama yang berkaitan dengan pengalaman, perasaan, atau pencapaian mitra tutur. Penutur menggunakan berbagai teknik retoris seperti ekspresi emosional, penguat intensitas (misalnya banget, seru banget, hebat banget), pengulangan, atau gaya bercerita yang dramatis untuk menciptakan keterlibatan emosional bersama.

Tujuan strategi ini adalah untuk menghidupkan suasana percakapan dan menciptakan kesan bahwa penutur benar-benar terlibat dan menghargai pengalaman mitra tutur, bukan sekadar merespons secara formal atau biasa.

Contoh:
Konteks: Nia bercerita kepada sahabatnya, Dita, tentang pengalaman pertamanya naik motor sendirian ke luar kota.
Nia: “Akhirnya aku berani juga bawa motor sendirian ke Semarang. Padahal awalnya deg-degan banget, takut nyasar.”
Dita: “Serius? Wah, keren banget, Nia! Aku salut banget sih. Kamu beneran nekat tapi tangguh! Ceritain dong detailnya, aku pengen tahu semua!”

Dita mengintensifkan minatnya terhadap pengalaman Nia melalui ekspresi “keren banget”, “salut banget”, dan “ceritain dong detailnya”. Ini memperlihatkan solidaritas dan penghargaan terhadap keberanian Nia, bukan hanya sekadar basa-basi. Strategi ini mempererat hubungan sosial dan memberi afirmasi terhadap identitas mitra tutur.

Strategi ini penting dalam menjaga dan mempererat hubungan, terutama dalam situasi ketika mitra tutur tidak secara langsung mengalami peristiwa, namun tetap diajak terlibat secara simbolik.

Strategi 4: Gunakan Penanda Identitas Kelompok (Use in-group identity markers)

Strategi ini melibatkan penggunaan bahasa dan simbol yang menandakan bahwa penutur dan mitra tutur berasal dari kelompok sosial yang sama atau memiliki kedekatan emosional tertentu. Penutur menggunakan sapaan informal, bahasa gaul, referensi budaya bersama, dialek tertentu, atau istilah khas komunitas untuk menciptakan kesan keakraban dan kesamaan identitas.

Dengan menunjukkan bahwa penutur dan mitra tutur “berada dalam lingkaran sosial yang sama”, strategi ini berfungsi untuk mengurangi jarak sosial, memperkuat solidaritas, dan menegaskan rasa kebersamaan.

Contoh:
Konteks: Tio dan Yoga adalah teman satu komunitas motor. Mereka bertemu saat hendak mempersiapkan acara touring.
Tio: “Yog, bro! Lo udah cek motor belum? Jangan sampe mogok pas tanjakan kayak trip tahun lalu, hahaha.”
Yoga: “Siaap, Kapten! Sekarang udah pake oli premium, cuy!”

Tio menggunakan sapaan akrab dan bahasa khas komunitas, seperti “bro”, “lo”, “trip”, dan bahkan “Kapten” secara bercanda. Istilah-istilah itu menandakan bahwa Tio dan Yoga adalah bagian dari kelompok yang sama (komunitas motor), dan hubungan mereka sudah akrab.

Penggunaan penanda identitas kelompok ini memperkuat ikatan sosial dan membuat mitra tutur merasa lebih nyaman. Dalam konteks ini, strategi kesopanan positif muncul melalui bahasa yang informal dan khas kelompok, yang mempertegas bahwa mereka memiliki latar belakang, pengalaman, atau gaya komunikasi yang serupa.

Strategi 5: Mencari Kesepakatan (Seek agreement)

Strategi ini digunakan untuk menemukan atau menyoroti kesamaan antara penutur dan mitra tutur, baik secara eksplisit maupun implisit. Penutur secara sengaja mengangkat hal-hal yang mereka sepakati bersama agar tercipta rasa kebersamaan dan penguatan hubungan sosial.

Kesepakatan ini bisa berupa topik-topik netral atau umum (safe topics), seperti cuaca, hobi, atau hal-hal yang biasa terjadi. Selain itu, pengulangan sebagian ujaran mitra tutur (pseudo-agreement), yang menunjukkan bahwa penutur mengafirmasi pernyataan lawan tutur juga merupakan alternatif yang baik.

Strategi ini bertujuan untuk menghindari konflik dan menjaga keharmonisan interaksi. Tujuannya adalah memperkuat bahwa penutur dan mitra tutur berada dalam “frekuensi yang sama”.

Contoh:
Konteks: Wina dan Rani baru saja menghadiri rapat organisasi yang berlangsung lama dan melelahkan.
Wina: “Aduh, rapatnya lama banget, ya. Sampai pegel duduk terus.”
Rani: “Iya banget! Aku tadi udah hampir ketiduran lho. Harusnya dibikin lebih ringkas aja sih.”

Rani merespons pernyataan Wina dengan setuju sepenuhnya dan bahkan memperkuat keluhan tersebut. Ini adalah bentuk pencarian kesepakatan atas evaluasi negatif terhadap pengalaman bersama (rapat yang melelahkan).

Strategi ini membantu menciptakan rasa senasib dan sepemikiran, yang berkontribusi pada terbangunnya keakraban. Kesepakatan ini bukan hanya bersifat informasional, tetapi juga emosional—Rani menunjukkan bahwa dia merasakan hal yang sama dengan Wina, dan dengan begitu, menguatkan rasa solidaritas.

Strategi 6: Menghindari Ketidaksepakatan (Avoid disagreement)

Strategi ini digunakan oleh penutur untuk menghindari konflik atau konfrontasi langsung dengan mitra tutur ketika terdapat perbedaan pendapat. Daripada menyanggah secara terbuka, penutur memilih untuk menunda ketidaksepakatan (misalnya dengan mengangguk atau menyetujui sebagian), menyamarkan ketidaksepakatan dengan kata-kata halus, atau menggunakan bentuk penghindaran (seperti diam, berpindah topik, atau menyampaikan ketidaksepakatan secara implisit). Tujuannya adalah untuk menjaga keharmonisan interaksi dan muka positif mitra tutur, karena menyanggah secara langsung bisa mengancam rasa diterima dan dihargai.

Contoh:
Konteks: Yudha dan Raka sedang berdiskusi tentang desain poster untuk kegiatan kampus. Raka mengusulkan penggunaan warna ungu terang sebagai latar.
Raka: “Gimana kalau warna latar posternya ungu terang? Biar beda dari yang lain.”
Yudha: “Hmm, ungu terang itu menarik juga sih… Mungkin bisa kita coba dulu, ya. Tapi kayaknya kalau agak lebih gelap bisa lebih nyaman dilihat.”

Yudha tidak langsung menolak usulan Raka, meskipun dalam pikirannya ia merasa bahwa ungu terang terlalu mencolok. Ia memilih untuk memberi tanggapan positif terlebih dahulu (“itu menarik juga sih…”), menggunakan kata-kata moderat seperti “mungkin”, “bisa kita coba dulu”, dan “kayaknya…”, lalu secara halus menyisipkan pendapat alternatif (“kalau agak lebih gelap…”). Ini adalah penerapan strategi menghindari ketidaksepakatan secara eksplisit, dengan tujuan agar hubungan kerja sama tetap terjaga dan mitra tutur tetap merasa dihargai.

Strategi 7: Mengangkat Latar Belakang Bersama (Presuppose, raise, or assert common ground)

Strategi ini dilakukan dengan menekankan kesamaan pengalaman, nilai, atau keyakinan antara penutur dan mitra tutur. Penutur secara eksplisit atau implisit menyampaikan bahwa ia dan mitra tutur memiliki hal-hal yang telah disepakati bersama atau pernah dialami bersama, sehingga memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas.

Beberapa cara umum yang digunakan dalam strategi ini antara lain merujuk pada pengalaman bersama di masa lalu, menyebut identitas atau latar kelompok yang sama (kampus, organisasi, kota asal, dll.), dan menggunakan frasa seperti “kita semua tahu bahwa…”, “seperti biasa…”, atau “kan dulu kita juga…” Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan konteks emosional yang membuat mitra tutur merasa “senasib dan sepenanggungan”.

Contoh:
Konteks: Dimas dan Nando adalah anggota UKM Teater di kampus. Mereka membicarakan rencana latihan untuk pertunjukan akhir semester.
Dimas: “Ndo, kan kita udah tahu sendiri gimana hektiknya latihan pas udah mepet hari H. Mending kita mulai latihan intensif dari sekarang aja, kayak waktu pentas tahun lalu.”
Nando: “Iya juga sih. Dulu kita sampai begadang tiap malam, tapi hasilnya puas banget.”

Dimas menggunakan pengalaman masa lalu yang telah dibagikan bersama sebagai latar belakang bersama (common ground) untuk memperkuat usulannya. Dengan merujuk pada pertunjukan sebelumnya dan konsekuensi dari latihan yang terlambat, ia menunjukkan bahwa ia dan Nando punya sejarah kerja bareng, menghadirkan logika bersama yang tidak perlu dibuktikan ulang, karena sudah pernah dialami, menghindari nada memaksa, karena usulannya dibingkai melalui pengalaman bersama.

Dengan cara ini, Dimas tidak hanya menyampaikan ajakan, tapi juga mengikat ulang rasa kolektif yang pernah mereka alami. Dampaknya, peluang persetujuan dari mitra tutur pun semakin besar.

Strategi 8: Menggunakan Humor (Joke)

Strategi ini dilakukan dengan cara menyisipkan unsur humor dalam percakapan untuk mencairkan suasana, meredakan potensi ancaman muka, dan membangun keakraban antara penutur dan mitra tutur. Humor menciptakan suasana santai, sehingga menurunkan ketegangan sosial dan membuat permintaan atau usulan terdengar lebih ringan.

Humor juga berfungsi sebagai penanda solidaritas sosial karena penutur dan mitra tutur dianggap memiliki referensi yang sama, baik dalam bentuk gaya bicara, pengalaman bersama, maupun selera jenaka. Namun, penting untuk diingat bahwa efektivitas humor sangat bergantung pada konteks budaya, relasi sosial, dan waktu penggunaannya.

Contoh:
Konteks: Raka ingin meminta tolong pada temannya, Ardi, untuk membantunya mengedit video tugas kelompok. Ia menyisipkan humor sebelum menyampaikan permintaan.
Raka: “Di antara kita berdua, yang jago ngedit video sih jelas kamu… Aku? Jangankan ngedit, buka aplikasinya aja udah panik! Hahaha. Jadi… bisa bantu aku nggak, Master Video?”
Ardi: “Hahaha, dasar. Yaudah, kirim filenya sini.”

Dalam dialog di atas, Raka menggunakan humor dengan cara merendahkan diri sendiri secara hiperbolik (mengaku panik hanya membuka aplikasi). Dia juga memberi julukan jenaka kepada mitra tutur Ardi (“Master Video”) dan menyisipkan humor sebelum menyampaikan permintaan, sehingga permintaan tersebut tidak terasa mengancam atau memaksa.

Strategi ini sangat efektif dalam hubungan yang bersifat egaliter atau pertemanan akrab. Dengan membangun suasana yang menyenangkan, penutur meminimalkan beban sosial dari permintaan dan sekaligus mengangkat muka positif mitra tutur melalui pujian bercanda.

Strategi 9: Menyatakan Pengetahuan dan Kepedulian terhadap Keinginan Mitra Tutur (Assert or presuppose S’s knowledge of and concern for H’s wants)

Strategi ini melibatkan usaha penutur untuk menunjukkan bahwa ia memahami keinginan, kebutuhan, atau preferensi mitra tutur, dan bahkan peduli terhadap hal tersebut. Dengan menyatakan pengetahuan atau prasangka positif tentang apa yang diinginkan mitra tutur, penutur memperlihatkan empati dan kedekatan sosial.

Strategi ini bisa dinyatakan secara langsung (“Saya tahu kamu pasti…”) atau secara implisit (melalui tindakan atau bentuk tuturan yang mencerminkan perhatian), dan bertujuan mengurangi jarak sosial serta meningkatkan rasa dihargai pada pihak mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Wulan tahu bahwa temannya, Sarah, sangat menyukai kue klepon buatan kampung halaman mereka. Ketika kembali dari mudik, Wulan membawa oleh-oleh dan sekaligus ingin meminta Sarah menjadi MC dalam acara seminar fakultas.
Wulan: “Aku bawain klepon kesukaanmu, nih. Yang dari warung depan rumah nenekku. Aku ingat banget kamu dulu selalu nitip. Eh, ngomong-ngomong… kamu bersedia jadi MC seminar kita, kan? Gaya kamu itu paling asik di depan publik!”
Sarah: “Wah, makasih Wul! Duh, kleponnya bikin nostalgia… Oke deh, aku siap bantu.”

Wulan menunjukkan kepedulian terhadap preferensi Sarah. Dia tidak hanya tahu bahwa Sarah suka klepon, tapi juga dari mana klepon yang paling disukai itu berasal. Ini bukan sekadar tindakan memberi oleh-oleh, tetapi juga ungkapan bahwa ia mengenal Sarah dengan baik dan memperhatikan keinginannya.

Setelah membangun kedekatan melalui perhatian tersebut, Wulan mengalihkan ke tujuan sebenarnya, yaitu mengajak Sarah menjadi MC. Karena sudah ada landasan empatik, permintaan itu tidak terasa sebagai beban, tetapi justru sebagai bentuk penghargaan. Strategi ini sangat efektif dalam hubungan sosial yang akrab, dan membantu penutur menyampaikan maksudnya tanpa terasa mendominasi.

Strategi 10: Memberikan Janji atau Tawaran (Offer, promise)

Strategi ini digunakan ketika penutur menawarkan bantuan atau menjanjikan sesuatu kepada mitra tutur, dengan maksud untuk mengurangi beban sosial atau psikologis dari tindak tutur yang berpotensi mengancam muka. Tawaran dan janji menunjukkan bahwa penutur bersedia menyesuaikan diri dengan kepentingan atau kebutuhan mitra tutur, dan dengan demikian memperkuat kesan bahwa hubungan antara mereka bersifat timbal balik dan saling peduli. Janji atau tawaran juga dapat berfungsi sebagai bentuk kompensasi sosial atas permintaan atau ajakan yang penutur sampaikan.

Contoh:
Konteks: Rino ingin meminta Dani, teman sekelasnya, untuk menggantikan tugas piket membersihkan ruang kelas karena ia harus mengikuti lomba debat. Untuk mengurangi potensi penolakan, Rino menyampaikan janji sebagai kompensasi.
Rino: “Dan, aku tahu ini mendadak banget. Tapi bisa tolong gantikan aku piket besok, nggak? Aku harus ikut lomba debat. Aku janji minggu depan gantian bantuin kamu piket dua kali!”
Dani: “Oke deh, no problem. Semangat lombanya, ya!”

Rino menyampaikan permintaan yang berpotensi mengganggu kebebasan mitra tutur (Dani). Untuk menyeimbangkan permintaan tersebut, ia langsung menyisipkan janji kompensasi: “Aku janji minggu depan bantuin dua kali.” Ini memperlihatkan bahwa Rino menghargai waktu dan usaha Dani. Rino juga tidak bermaksud semena-mena dan bersedia berkontribusi sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Dengan memberi janji yang realistis dan proporsional, permintaan Rino menjadi lebih mudah diterima dan tidak merusak hubungan sosial. Dalam budaya kolektif seperti Indonesia, strategi ini sangat umum, karena memperlihatkan prinsip gotong royong dan saling membantu.

Strategi 11: Bersikap Optimistis (Be optimistic)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyampaikan suatu permintaan atau ajakan dengan keyakinan bahwa mitra tutur akan bersedia melakukannya, tanpa perlu rasa sungkan atau basa-basi berlebihan. Dengan bersikap optimistis, penutur menciptakan suasana yang positif dan penuh kepercayaan, seolah-olah tindakan yang diminta bukanlah beban, melainkan hal yang ringan atau bahkan menyenangkan bagi mitra tutur.

Optimisme ini bisa ditunjukkan melalui pilihan kata yang positif, ekspresi wajah yang bersahabat, atau gaya tutur yang ceria. Strategi ini mengurangi kesan bahwa penutur sedang memaksa karena tuturan tidak diiringi dengan ekspresi keraguan atau permohonan maaf.

Contoh:
Konteks:
Dalam suatu pertandingan final, tim David dan Robert mendapat penalti. Robert sebagai striker utama biasanya mengeksekusi tendangan itu, namun kali ini kakinya cedera karena dilanggar. Ia memilih David untuk menggantikannya.
Robert:  “Aku kemarin lihat kamu latihan penalti terus. Aku yakin kamu bisa menggantikanku, Vid. Ambil bola ini dan masukkan. Kamu pasti bisa bawa tim kita menang.”
David:  “Siap, Bro. Thank you!”

Tuturan Robert tidak meminta, tapi memberi kepercayaan. Ia mengajak David untuk bertindak dengan penuh semangat dan yakin bahwa David mampu. Ini adalah contoh khas strategi Bersikap Optimistis, karena penutur meniadakan keraguan atau perintah eksplisit, dan menggantinya dengan motivasi penuh kehangatan dan solidaritas.

Strategi 12: Melibatkan Penutur dan Mitra Tutur dalam Aktivitas Bersama (Include both S and H in the activity)

Strategi ini dilakukan dengan cara mengajak mitra tutur melakukan sesuatu bersama penutur dan menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang inklusif, seperti kata ganti kita, ayo, atau bareng-bareng. Tujuannya adalah untuk mengurangi jarak sosial dengan menempatkan penutur dan mitra tutur dalam posisi yang setara dan kompak, serta menunjukkan bahwa beban tindakan tidak hanya ditanggung oleh mitra tutur, melainkan dibagi secara kolektif. Dengan menyertakan diri dalam permintaan, penutur tidak hanya meminta bantuan, tetapi juga menawarkan partisipasi atau kebersamaan, yang merupakan bentuk solidaritas sosial.

Contoh:
Konteks: Dedi ingin mengajak Rio membereskan ruang kelas setelah rapat organisasi selesai. Daripada menyuruh secara langsung, Dedi menggunakan ajakan inklusif.
Dedi: “Yok, kita rapihin kursi dan meja dulu sebelum pulang. Biar kelas nggak berantakan banget.”
Rio: “Oke, ayok. Biar cepat selesai juga.”

Alih-alih berkata “Kamu rapikan kursinya”, Dedi menggunakan bentuk ajakan bersama: “Yok, kita rapihin…”. Ini merupakan penerapan strategi kesopanan positif yang membingkai permintaan sebagai kerja sama, bukan perintah satu arah. Cara ini mengurangi potensi penolakan karena beban tugas dibagi bersama. Melalui strategi ini tergambar bahwa penutur tidak ingin menyuruh, tetapi ingin berbagi tanggung jawab secara kolektif.

Strategi ini sangat umum dalam budaya yang menjunjung nilai gotong royong seperti di Indonesia. Kalimat seperti “Yuk kita…” atau “Bareng-bareng aja yuk…” sering digunakan untuk menciptakan suasana kolektif dan akrab.

Strategi 13: Memberikan atau Meminta Alasan (Give or ask for reasons)

Strategi ini dilakukan dengan menyertakan alasan atau penjelasan saat penutur menyampaikan permintaan, ajakan, atau tindakan yang berpotensi mengancam muka mitra tutur. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa permintaan penutur bersifat rasional dan dapat dibenarkan. Selain itu, mitra tutur diajak memahami logika dan sudut pandang penutur sehingga mitra tutur tidak merasa dipaksa atau diperintah secara sewenang-wenang.

Sebaliknya, penutur juga dapat meminta alasan dari mitra tutur untuk menunjukkan bahwa ia menghargai pendapat, pilihan, atau keputusan mitra tutur. Dalam kedua bentuknya, strategi ini berfungsi sebagai upaya menegosiasikan maksud secara kooperatif dan menjaga relasi yang harmonis.

Contoh (Memberi Alasan):
Konteks: Hana ingin meminta tolong kepada temannya, Intan, untuk membantu menjaga stand bazar. Agar permintaannya tidak terdengar memaksa, ia menyampaikan alasan yang logis.
Hana: “Tan, bisa bantu jagain stand bentar nggak? Aku harus ke toilet, tapi takut kalau ditinggal kosong. Cuma 10 menit kok.”
Intan: “Oh, oke. Sana dulu, nanti aku jagain.”

Hana menyampaikan permintaannya dengan alasan yang jelas dan relevan, yaitu ia harus ke toilet dan tidak ingin stand bazar dibiarkan kosong. Dengan memberikan alasan, permintaan menjadi lebih dapat diterima secara sosial karena tidak terkesan sewenang-wenang. Mitra tutur (Intan) merasa dihargai karena ia diperlakukan sebagai rekan yang pantas diberi penjelasan, bukan sebagai bawahan yang harus menerima perintah begitu saja. Beban permintaan pun menjadi lebih ringan secara psikologis. Strategi ini sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Kita cenderung lebih bersedia membantu orang yang memberi alasan masuk akal dibanding permintaan mendadak tanpa penjelasan.

Contoh (Meminta Alasan):
Konteks: Rino dan Tio sekelompok dalam tugas kuliah. Tio tiba-tiba bilang tidak bisa datang ke pertemuan kelompok.
Tio: “Maaf, aku kayaknya nggak bisa ikut rapat sore ini.”
Rino: “Oh, kenapa, Tio? Kalau ada alasan khusus, mungkin kita bisa ganti waktunya.”
Tio: “Iya, adikku sakit dan aku harus jagain dia di rumah. Maaf banget, ya.”
Rino: “Wah, semoga cepat sembuh, ya. Kita bahas ulang jadwalnya nanti.”

Rino meminta alasan bukan untuk menginterogasi, tetapi menunjukkan bahwa ia peduli dan bersedia menyesuaikan diri. Ini mencerminkan kesopanan positif karena menghargai perspektif mitra tutur (Tio), menghindari kesan menyalahkan, dan menunjukkan keinginan untuk saling memahami.

Meminta alasan adalah bentuk kesopanan yang tidak menghakimi. Justru cara ini menunjukkan ketertarikan terhadap pendapat atau keadaan mitra tutur, sikap terbuka untuk menyesuaikan, dan penerimaan terhadap kemungkinan adanya hambatan yang tidak diketahui penutur.

Strategi 14: Menyatakan Prinsip Timbal Balik (Assert or Presuppose Reciprocity)

Strategi ini melibatkan penyampaian atau pengandaian bahwa relasi sosial antara penutur dan mitra tutur bersifat timbal balik—saling bantu, saling beri, dan saling memenuhi kewajiban sosial. Prinsip ini dikenal juga sebagai resiprositas, yaitu membantu orang lain sebagai bentuk penghargaan atas bantuan yang pernah diterima.

Dalam budaya Indonesia, strategi ini membantu meredakan rasa sungkan atau ancaman terhadap muka positif mitra tutur, terutama ketika seseorang cenderung enggan menerima bantuan karena takut dianggap lemah atau merepotkan. Dengan menyatakan bahwa bantuan tersebut adalah balasan dari kebaikan sebelumnya, penutur menciptakan kesan bahwa hubungan mereka setara, hangat, dan penuh hormat.

Contoh:
Konteks: Mamat, yang beberapa waktu lalu meminjam sepatu dari Firman untuk pertandingan, kini melihat Firman kesulitan berlatih tendangan bebas.
Mamat: “Sulit ya, Man?”
Firman: “Iya nih, tapi aku mau berusaha lebih keras lagi.”
Mamat: “Dulu aku diajari kakakku teknik yang baik sehingga aku bisa menendang dengan arah yang akurat. Kini aku akan mengajarimu, Man.”
Firman: “Wah, apa tidak merepotkan? Nanti kamu pulang kemalaman lho.”
Mamat: “Tenang aja. Anggap aja ini balasan atas pinjaman sepatu tempo hari.” (tersenyum)

Mamat menawarkan bantuannya dengan cara menyandarkannya pada relasi timbal balik, tanpa membuat Firman merasa kecil atau tidak mampu. Mamat mengemas bantuannya dalam bentuk penghargaan atas kebaikan Firman sebelumnya. Strategi ini memperkuat rasa saling percaya dan menghindari ketimpangan relasional.

Strategi 15: Memberikan Hadiah atau Nilai Positif kepada Mitra Tutur (Give gifts to H—goods, sympathy, understanding, cooperation)

Strategi ini mencakup berbagai bentuk pemberian, baik fisik (barang, makanan, bantuan konkret) maupun simbolik (dukungan moral, pujian, empati, kerja sama, atau perhatian khusus). Inti dari strategi ini adalah bahwa penutur membangun kesan positif pada mitra tutur dengan memberi sesuatu yang bernilai, sebagai tanda penghargaan, simpati, atau solidaritas.

Bentuk pemberian tidak harus literal. Ucapan “selamat ya!”, “aku turut sedih”, “keren banget kamu hari ini”, juga termasuk bentuk hadiah simbolik yang memperkuat muka positif mitra tutur. Strategi ini sangat efektif untuk menghangatkan relasi, menumbuhkan rasa terhubung, dan menjaga keharmonisan interaksi.

Contoh:
Konteks: Rika baru saja mengikuti sidang skripsi. Temannya, Ayu, datang membawakan minuman favorit Rika sebagai bentuk dukungan dan ucapan selamat.
Ayu: “Ini buat kamu. Es kopi favoritmu! Selamat ya, akhirnya kelar juga sidangnya. Kamu keren banget tadi!”
Rika: “Wah, makasih Ayu. Ini beneran bikin hariku lengkap!”

Ayu memberikan “hadiah” dalam dua bentuk sekaligus, yaitu hadiah fisik berupa es kopi favorit dan hadiah simbolik berupa ucapan selamat dan pujian. Kedua bentuk tersebut menunjukkan bahwa Ayu memperhatikan dan peduli terhadap apa yang disukai Rika. Ayu mengakui pencapaian Rika sehingga meningkatkan rasa dihargai dan menyampaikan perasaan positif tanpa embel-embel permintaan, yang memperkuat ikatan sosial dan rasa saling menghormati. Strategi ini memperkuat wajah positif mitra tutur dengan cara mengafirmasi nilainya sebagai individu yang penting dan layak dihargai.

Strategi Kesopanan Negatif (Negative Politeness)

Kesopanan negatif adalah strategi kesopanan yang dilakukan secara langsung (on record), tetapi disertai dengan usaha meredam (redressive action) atau mengimbangi potensi ancaman terhadap muka negatif mitra tutur, yaitu keinginannya untuk tidak diganggu atau dibatasi kebebasannya. Kesopanan negatif digunakan ketika penutur berusaha menghindari paksaan langsung, menunjukkan rasa hormat, dan membuka kemungkinan bagi mitra tutur untuk menolak permintaan tanpa kehilangan muka.

Strategi ini sangat sensitif terhadap kemungkinan tindakan mengancam muka (FTA), terutama jika FTA itu menuntut mitra tutur melakukan sesuatu, mengikuti perintah, atau mengubah kebiasaannya. Dalam konteks ini, penutur berusaha tetap sopan dengan berbicara secara tidak langsung, memberikan opsi kepada mitra tutur, menunjukkan kerendahan hati, dan menunjukkan bahwa ia sadar akan batas-batas kebebasan mitra tutur.

Brown dan Levinson membagi strategi kesopanan negatif ke dalam 5 tujuan utama, dengan turunan 10 strategi taktis yang digunakan untuk mencapainya. 

Pertama, penutur hendaknya bersikap langsung tetapi secara konvensional tidak mengganggu (be direct, but conventionally indirect). Cara ini diwujudkan dengan strategi berikut.

  1. Gunakan Penuturan Tidak Langsung secara Konvensional (Be conventionally indirect)
    Penutur menyampaikan maksud secara implisit atau dalam bentuk pertanyaan retoris agar tidak terkesan memaksa.
    Contoh: “Apakah kamu sempat bantuin saya nanti sore?”

Kedua, penutur hendaknya menghindari asumsi atas kehendak mitra tutur (don’t presume/assume). Cara ini diwujudkan dengan strategi berikut.

  1. Gunakan Pertanyaan atau Pembatas (Question, hedge)
    Penutur menyisipkan bentuk keraguan atau frasa pembatas untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengklaim terlalu banyak.
    Contoh: “Mungkin kamu bisa bantu… kalau memang tidak merepotkan.”

Ketiga, penutur hendaknya tidak memaksa mitra tutur (don’t coerce H). Strategi ini didasari pada prinsip bahwa penutur sebaiknya tidak memaksakan kehendaknya kepada mitra tutur, terutama jika tindak tutur mengandung permintaan. Strategi ini bercabang menjadi dua pendekatan utama, yaitu memberi mitra tutur pilihan (give H option not to do act) dan meminimalkan ancaman terhadap mitra tutur (minimize threat).

Berkaitan dengan memberi mitra tutur pilihan, untuk menghindari kesan memaksa, penutur memberikan ruang bagi mitra tutur untuk menolak permintaan tersebut. Hal ini dijabarkan melalui tiga cara, yaitu bertindak secara tidak langsung ( (be indirect) yang juga berkaitan dengan strategi pertama (a) di atas; tidak berasumsi mitra tutur mampu atau mau melakukan aksi (don’t assume H is able/willing to do A) yang berkaitan dengan strategi kedua (b) di atas, dan berasumsi mitra tutur tidak suka melakukan aksi (assume H is not likely to do A) yang melahirkan strategi ketiga berikut.

  1. Bersikaplah Pesimistis (be pessimistic)
    Penutur mengasumsikan bahwa permintaannya mungkin ditolak. Ini bentuk respek terhadap kebebasan mitra tutur.
    Contoh: “Saya tahu ini agak merepotkan, tapi mungkinkah Anda bisa mempertimbangkannya?”

Berkaitan dengan meminimalkan ancaman kepada mitra tutur, penutur mengurangi bobot permintaan dengan menjelaskan nilai-nilai kontekstual yang membuat permintaan tersebut wajar. Cara ini dilakukan dengan menjelaskan secara eksplisit nilai kuasa (P), jarak (D), dan bobot (R). Dengan kata lain Penutur menunjukkan kesadaran atas posisi sosial, jarak sosial, dan tingkat beban permintaan. Cara ini direalisasikan dengan dua strategi berikut.

  1. Minimalkan Beban Permintaan (minimize the imposition, Rx)
    Penutur mereduksi kesan beban dalam permintaannya.
    Contoh: “Cuma sebentar kok. Lima menit saja.”
  2. Berikan Penghormatan (give deference)
    Penutur menunjukkan penghargaan terhadap mitra tutur secara eksplisit, baik melalui sapaan, gelar, atau diksi formal.
    Contoh: “Maaf, Pak. Saya ingin mengajukan usul…”

Keempat, penutur hendaknya mengomunikasikan bahwa penutur tidak berniat mengganggu mitra tutur (communicate S’s Want Not to Impinge on H). Cara ini bertujuan mempertegas bahwa penutur tidak bermaksud mengganggu mitra tutur. Strategi sederhana untuk mewujudkan cara ini adalah dengan meminta maaf.

  1. Minta Maaflah (apologize)
    Strategi ini digunakan sebagai penebusan karena telah mengganggu, biasanya di awal atau akhir tuturan.
    Contoh: “Maaf sebelumnya, saya ingin menyampaikan…”

Selain itu, ada pendekatan lain yang bisa dilakukan, yaitu dengan memisahkan penutur dan mitra tutur dari ancaman (dissociate S, H from the particular infringement). Cara ini melahirkan tiga strategi berikut.

  1. Gunakan Bentuk Tak Pribadi (impersonalize S and H: avoid ‘I’ and ‘you’)
    Penutur menghindari penggunaan kata ganti orang demi mengurangi kesan personal.
    Contoh: “Akan lebih baik jika jadwalnya diubah.”
  2. Nyatakan Permintaan Sebagai Aturan Umum (state the FTA as a general rule)
    Penutur menyamaratakan permintaan agar tak terkesan menargetkan individu tertentu.
    Contoh: “Biasanya memang mahasiswa diminta menyerahkan tugas tepat waktu.”
  3. Gunakan Nominalisasi (nominalize)
    Alih-alih menggunakan verba langsung (misal: “‘saya minta”), penutur menggunakan bentuk nomina untuk melembutkan tuturan.
    Contoh: “Permohonan izin sudah diajukan.”

Kelima, penutur hendaknya meredakan kepentingan lain mitra tutur (redress other wants of H’s, derived from negative face). 

  1. Nyatakan bahwa Penutur Berutang kepada Mitra Tutur (go on record as incurring a debt or as not indebting H)
    Penutur menyatakan bahwa permintaannya adalah utang budi, atau justru menegaskan bahwa ia tak ingin menyusahkan.
    Contoh: “Saya benar-benar akan berterima kasih sekali jika Anda bersedia.”
    Atau: “Kalau memang terlalu merepotkan, tak apa saya cari solusi lain.”

Berikut ini adalah penjabaran dari 10 strategi kesopanan negatif beserta penjelasan dan contoh dalam konteks budaya Indonesia.

Strategi 1: Gunakan Bentuk Tak Langsung Konvensional (Be conventionally indirect)

Strategi ini digunakan ketika penutur memilih menyampaikan maksud secara tidak langsung menggunakan bentuk ujaran yang secara konvensional dipahami sebagai permintaan, saran, atau ajakan. Tujuannya adalah untuk menghindari kesan memaksa secara langsung, sehingga mitra tutur masih memiliki ruang untuk menolak tanpa kehilangan muka.

Strategi ini menjaga wajah negatif mitra tutur dengan tidak langsung menyuruh atau meminta, tetapi menyisipkan maksud di balik pertanyaan atau pernyataan yang tidak eksplisit.

Contoh:
Konteks: Maya sedang kehabisan uang tunai dan ingin meminjam uang dari temannya, Nita, tetapi ia enggan memintanya secara langsung agar tidak menekan.
Maya: “Nit, kamu sempat ambil uang di ATM tadi pagi, nggak?”
Nita: “Iya, kenapa? Kamu butuh pinjaman?”
Maya: “Iya, kalau kamu bisa bantu, nanti aku ganti sore.”

Maya tidak langsung mengatakan “Nit, pinjam uang dong”, melainkan menyampaikan maksudnya melalui bentuk pertanyaan yang terdengar netral: “Kamu sempat ambil uang di ATM?”.

Pertanyaan ini secara konvensional dipahami sebagai bentuk eliptik untuk permintaan bantuan. Dengan pertanyaan ini, Maya memberi ruang bagi Nita untuk menyimpulkan maksud sendiri dan merespons dengan lebih leluasa. Maya menjaga sopan santun karena tidak memaksa langsung, tetapi membiarkan Nita  memutuskan respons yang nyaman baginya. Strategi ini banyak ditemukan dalam budaya sopan santun di Indonesia, terutama ketika berhadapan dengan orang yang sebaya atau yang belum terlalu dekat.

Strategi 2: Gunakan Bentuk Pertanyaan atau Pembatas (Question, hedge)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyampaikan maksud atau pendapatnya dalam bentuk pertanyaan atau dengan menyisipkan kata-kata pembatas (hedges), seperti “mungkin”, “kayaknya”, “kalau tidak keberatan”, dan sebagainya. Strategi ini mengaburkan kekuatan ilokusi agar tuturan tidak terdengar terlalu pasti, keras, atau memaksa. Pembatas membantu menjaga wajah negatif mitra tutur karena ia tidak ditempatkan dalam posisi terpaksa, dan memiliki ruang untuk tidak langsung mengiyakan atau menolak secara tegas.

Contoh:
Konteks: Aldi ingin minta tolong temannya, Rian, untuk mengantarnya ke kampus karena motornya sedang di bengkel. Ia tidak ingin permintaannya terdengar mendesak.
Aldi: “Eh, Rian… kalau kamu nggak buru-buru, kira-kira kamu bisa anter aku ke kampus nggak ya?”
Rian: “Wah, bisa kok. Kebetulan aku juga ke arah sana.”

Alih-alih berkata “Rian, tolong antar aku ke kampus”, Aldi menyisipkan sejumlah bentuk pembatas seperti “kalau kamu nggak buru-buru” untuk membuka ruang diskusi, “kira-kira” untuk menyampaikan ketidakpastian sebagai bentuk kesopanan, dan “nggak, ya?” guna memberi kesempatan bagi Rian untuk menolak.

Bentuk pertanyaan dan pembatas  ini memperlemah kekuatan permintaan dan membuatnya terasa lebih sopan, lebih halus, dan tidak memaksa. Dampaknya, muka negatif mitra tutur tetap terlindungi. Dalam budaya Indonesia, cara berbicara seperti ini sangat lazim digunakan untuk menjaga harmoni, terutama ketika meminta tolong dari teman sebaya yang tidak ingin diberi beban sosial secara langsung.

Strategi 3: Bersikap Pesimistis (Be pessimistic)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyatakan bahwa ia tidak terlalu yakin mitra tutur akan bersedia atau mampu memenuhi permintaan atau harapannya. Dengan bersikap pesimistis, penutur mengurangi tekanan terhadap mitra tutur karena ia menyadari bahwa permintaan itu mungkin tidak bisa dipenuhi.

Strategi ini menunjukkan bahwa penutur tidak menganggap dirinya berhak atas bantuan mitra tutur, dan memberikan ruang seluas-luasnya untuk menolak tanpa merasa bersalah atau kehilangan muka.

Contoh:
Konteks: Lilis ingin meminjam printer milik tetangganya, Bu Narti, tapi ia tahu bahwa printer tersebut sering digunakan untuk keperluan bisnis.
Lilis: “Maaf ya, Bu… saya tahu ini pasti merepotkan, dan mungkin printer Ibu sedang dipakai. Tapi… boleh saya pinjam sebentar untuk cetak dokumen penting?”
Bu Narti: “Oh, nggak apa-apa, Mbak Lilis. Sebentar lagi selesai, nanti bisa dipakai.”

Lilis membuka permintaannya dengan ekspresi pesimistis, “Saya tahu ini pasti merepotkan…” dan “…dan mungkin printer Ibu sedang dipakai…”. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Lilis tidak memaksakan kehendak, bahkan mengakui kemungkinan bahwa permintaannya tidak dapat dipenuhi. Lilis juga mengantisipasi penolakan tanpa mempermalukan mitra tutur sehingga Bu Narti bisa menolak (jika perlu) tanpa merasa bersalah. Lilis menyampaikan permintaan dengan kerendahan hati dan kesadaran akan posisi sosial.

Dalam budaya Indonesia, pendekatan seperti ini sering digunakan untuk menunjukkan sopan santun yang tinggi, terutama saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua, berstatus lebih tinggi, atau belum terlalu dekat.

Strategi 4: Minimalkan Beban (Minimize the imposition)

Strategi ini digunakan ketika penutur berusaha mengecilkan dampak atau beban dari tindak tutur yang ia lakukan terhadap mitra tutur. Penutur menyampaikan bahwa permintaannya tidak akan memakan waktu lama, tidak merepotkan, atau sangat sederhana, sehingga tidak terlalu mengganggu kebebasan atau kenyamanan mitra tutur. Tujuannya adalah untuk menjaga muka negatif mitra tutur dengan meyakinkan bahwa ia tetap memiliki otonomi dan tidak sedang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang berat.

Contoh:
Konteks: Andi melihat Dadang begitu sibuk mengerjakan tugas-tugas kantor. Di sisi lain, Andi ingin minta tolong Dadang untuk membantu mengerjakan laporannya karena memang hanya Dadang orang yang paling paham dengan laporan itu.
Andi:  “Dang, maaf nih, aku mau sedikit mengganggumu. Aku mau minta tolong sebentar saja untuk mengajariku membuat laporan ini. Nanti pas kamu agak selo nggak apa-apa kok.”
Dadang: “Oke, Bro. Santai aja. Nanti aku bantu. Bentar ya, lagi nanggung. Habis ini aku langsung ke mejamu.”

Andi menggunakan frasa “sedikit mengganggu” dan “sebentar saja” untuk mengecilkan beban permintaannya. Dalam hal ini, Andi menekankan bahwa ia hanya butuh sedikit dan sebentar, agar permintaan tidak terasa mengganggu atau berlebihan.

Strategi ini mencerminkan bentuk kesopanan negatif yang halus dan khas dalam interaksi sehari-hari, khususnya dalam konteks yang penuh batasan seperti kantor. Dalam budaya Indonesia, frasa seperti “sebentar aja kok”, “nggak akan lama”, atau “cuma sebentar numpang tanya” sering digunakan sebagai strategi linguistik untuk meredam potensi gangguan sosial.

Strategi 5: Beri Penghormatan (Give deference)

Strategi ini digunakan ketika penutur secara eksplisit menunjukkan rasa hormat dan tunduk pada otoritas, status sosial, atau hak mitra tutur untuk menentukan pilihan sendiri. Penutur bisa menyatakan kerendahan hati, menggunakan bentuk panggilan yang sopan, atau menunjukkan ketundukan melalui ekspresi seperti “jika Bapak/Ibu berkenan”, “mohon izin”, atau “saya mohon”. Tujuannya adalah untuk menegaskan bahwa penutur tidak bermaksud melanggar batas atau kebebasan mitra tutur, dan bahwa ia menyadari posisi sosial dalam interaksi tersebut.

Contoh:
Konteks: Seorang mahasiswa ingin meminta tanda tangan dosennya untuk keperluan administrasi kampus.
Mahasiswa: “Mohon maaf, Pak. Jika Bapak berkenan, saya ingin menitipkan formulir ini untuk ditandatangani. Saya tunggu kapan saja Bapak sempat.”
Dosen: “Oke, nanti saya tanda tangani siang ini. Letakkan saja di meja saya.”

Mahasiswa tersebut menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan deferens dengan mengatakan “Mohon maaf,” sebagai pengakuan bahwa ia mungkin mengganggu. Rasa hormat juga diungkapkan dengan berkata, “Jika Bapak berkenan,” sebagai memberikan keleluasaan penuh pada mitra tutur. Mahasiswa mengatakan, “Saya tunggu kapan saja Bapak sempat” sebagai bentuk tidak memaksakan waktu atau otoritas.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menyampaikan permintaan, tetapi juga mengafirmasi posisi sosial dosen dan menjaga muka negatifnya. Ini mencerminkan kesopanan formal yang sangat umum dalam konteks akademik dan profesional di Indonesia. Dalam budaya Indonesia, strategi ini sering ditemukan dalam tuturan kepada orang yang lebih tua, pejabat, atasan, atau siapa pun yang dipandang memiliki status lebih tinggi dalam hierarki sosial.

Strategi 6: Meminta Maaf (Apologize)

Strategi ini digunakan ketika penutur secara eksplisit menyatakan permintaan maaf sebelum, selama, atau setelah melakukan tindak tutur yang berpotensi mengganggu atau membebani mitra tutur. Dengan meminta maaf, penutur menunjukkan bahwa ia menyadari potensi ancaman terhadap wajah negatif mitra tutur, tidak bermaksud melampaui batas, dan menyesali ketidaknyamanan yang mungkin ditimbulkan. Permintaan maaf ini bisa berbentuk ekspresi seperti “maaf sebelumnya”, “saya sungguh minta maaf”, “saya tahu ini mungkin merepotkan”, atau bentuk penyesalan lain yang mengakui hak mitra tutur atas kenyamanan dan kebebasan.

Contoh:
Konteks: Sinta menghubungi temannya, Rere, lewat pesan singkat larut malam untuk menanyakan tugas kelompok yang belum ia pahami. Ia tahu bahwa jam tersebut kurang sopan untuk menghubungi orang lain.
Sinta (via chat): “Maaf banget ya ganggu malam-malam. Aku bingung soal bagian presentasiku. Kalau kamu belum tidur dan bisa jelasin sebentar, aku sangat berterima kasih.”
Rere: “Nggak apa-apa, aku juga belum tidur. Mau kujelasin via voice note aja?”

Sinta membuka komunikasinya dengan “Maaf banget ya ganggu malam-malam” sebagai bentuk eksplisit dari kesadaran akan potensi gangguan dan “Kalau kamu belum tidur dan bisa…” untuk menunjukkan bahwa ia tidak ingin memaksa, dan siap menerima penolakan.

Strategi ini sangat penting dalam menjaga hubungan yang sehat, terutama dalam situasi di mana batas sosial atau waktu sedang dilanggar. Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun dan perasaan orang lain, permintaan maaf sering dijadikan pembuka untuk meredam potensi ketidaksopanan sebelum menyampaikan isi tuturan yang sebenarnya.

Strategi 7: Menyamaratakan Peran Penutur dan Mitra Tutur (Impersonalize S and H)

Strategi ini dilakukan dengan menghindari penyebutan langsung “saya” (penutur) atau “kamu” (mitra tutur) dalam tuturan, dan menggantinya dengan bentuk-bentuk impersonal atau pasif. Tujuannya adalah untuk mengurangi tanggung jawab pribadi, menjaga jarak sosial, dan meminimalkan kesan bahwa penutur sedang mengganggu langsung mitra tutur.

Dengan menggunakan bentuk pasif, pihak penutur dan mitra tutur tidak menjadi pusat tindakan secara eksplisit, sehingga tuturan menjadi lebih netral, formal, dan sopan dalam konteks yang sensitif.

Contoh:
Konteks: Seorang staf administrasi kampus ingin mengingatkan seorang dosen untuk segera mengisi formulir evaluasi dosen.
Staf: “Formulir evaluasi dosen perlu dikembalikan paling lambat hari ini, Pak.”
Dosen: “Oh iya, terima kasih. Saya isi sekarang.”

Dalam kalimat “Formulir evaluasi dosen perlu dikembalikan…”, staf tidak menyebut “saya” sebagai pemberi perintah dan “Anda” sebagai pihak yang harus melaksanakan. Bentuk impersonal ini menghindari konfrontasi langsung dan tidak terasa menegur. Cara ini membuat permintaan terasa sebagai tugas institusional, bukan beban personal dan menjaga muka negatif mitra tutur karena tidak menyudutkannya secara eksplisit.

Strategi ini sangat lazim dalam komunikasi resmi di lingkungan pemerintahan, institusi akademik, maupun layanan publik di Indonesia, terutama ketika pembicara ingin menegur dengan sopan atau memberi instruksi tanpa konfrontasi personal.

Strategi 8: Menyatakan Bahwa Tindakan Mengancam Muka Adalah Aturan Umum (State the FTA as a general rule)

Strategi ini digunakan ketika penutur mengalihkan tanggung jawab dari dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa tindakannya bukan bersifat pribadi, melainkan berdasarkan aturan, kebijakan, atau norma sosial yang berlaku umum. Dengan menyamarkan permintaan atau larangan sebagai “aturan”, penutur tidak tampil sebagai orang yang menuntut, melainkan hanya sebagai penyampai atau pelaksana kebijakan.

Tujuannya adalah untuk melindungi muka negatif mitra tutur dengan menyampaikan bahwa permintaan tersebut bukan kehendak pribadi, mitra tutur tidak diperlakukan berbeda, dan situasi tersebut terjadi karena kewajiban atau sistem, bukan relasi personal.

Contoh:
Konteks: Satpam kampus menegur mahasiswa yang parkir di area dosen.
Satpam: “Maaf, Mas. Sesuai aturan kampus, area ini khusus untuk kendaraan dosen. Mahasiswa diminta parkir di area belakang.”
Mahasiswa: “Oh, baik Pak. Saya pindahkan sekarang.”

Satpam tidak berkata “Saya tidak mengizinkan kamu parkir di sini”, tetapi mengacu pada aturan kampus. Ini bukan keputusan pribadinya. Bentuk pasif “diminta parkir…” dipakai satpam untuk mengurangi kesan langsung menyuruh.

Ini adalah contoh strategi kesopanan negatif karena menjaga kebebasan mitra tutur dengan tidak menyudutkannya sebagai pelanggar. Strategi ini menyamarkan posisi kekuasaan penutur, seolah-olah ia hanya perantara. Potensi konflik pun berkurang karena larangan disampaikan sebagai hal yang objektif dan berlaku umum.

Dalam budaya Indonesia yang menghargai harmoni sosial, strategi ini sangat efektif dalam menyampaikan larangan atau peringatan secara sopan, tanpa menyinggung perasaan atau mempermalukan pihak lain.

Strategi 9: Nominalisasi (Nominalize)

Strategi ini dilakukan dengan cara mengubah kata kerja (verba) menjadi kata benda (nomina) untuk membuat tuturan terdengar lebih formal, netral, dan tidak terlalu langsung. Dengan nominalisasi, penutur mengurangi kejelasan pelaku dan tindakan, sehingga tuturan tidak terkesan mengarahkan, memerintah, atau menyalahkan secara eksplisit.

Strategi ini membantu menjaga muka negatif mitra tutur dengan mengaburkan siapa yang seharusnya bertindak, sehingga permintaan atau kritik terasa lebih halus dan tidak menekan.

Contoh:
Konteks: Seorang manajer yang masih muda ingin mengingatkan para staf yang secara umur lebih tua agar segera mengumpulkan laporan akhir.
Manajer: “Pengumpulan laporan akhir paling lambat hari Jumat minggu ini.”
Staf: “Siap, Pak. Saya akan segera menyelesaikannya.”

Manajer menggunakan bentuk nominalisasi dengan mengatakan, “pengumpulan laporan akhir”, bukan bentuk langsung seperti “Kalian harus mengumpulkan laporan”. Dengan bentuk tersebut, tanggung jawab disampaikan secara netral, tanpa menyudutkan subjek. Tuturan pun terdengar lebih formal dan tidak personal. Para staf tetap memahami bahwa ada kewajiban, tetapi tidak merasa dipaksa secara eksplisit.

Nominalisasi sangat umum dalam konteks akademik, birokrasi, dan lembaga formal di Indonesia. Contoh lainnya:

  • “Pendaftaran ulang dibuka hingga tanggal 15.”
  • “Persetujuan diperlukan sebelum proses dilanjutkan.”
  • “Penyelesaian makalah sebaiknya dilakukan minggu ini.”

Bentuk-bentuk ini mengandung tindak tutur perintah atau pengingat, tetapi dengan gaya bahasa yang sopan, tidak konfrontatif, dan sesuai dengan norma kelembagaan.

Strategi 10: Menunjukkan bahwa Penutur Berutang atau Tidak Ingin Menyusahkan (Go on record as incurring a debt or as not indebting H)

Strategi ini digunakan ketika penutur menunjukkan rasa terima kasih yang besar, rasa bersalah, atau keinginan untuk tidak membebani mitra tutur, baik sebelum maupun sesudah melakukan tindak tutur yang berpotensi mengganggu. Penutur dapat menyampaikan bahwa ia sadar sedang meminta bantuan atau membuat mitra tutur bersusah payah. Selain itu, penutur juga dapat berniat membalas budi atau berusaha menjaga agar mitra tutur tidak merasa berutang.

Tujuan strategi ini adalah melindungi muka negatif mitra tutur dengan menegaskan bahwa penutur tidak ingin bersikap menuntut, dan justru menghargai waktu, tenaga, dan kehendak bebas mitra tutur.

Contoh:
Konteks: Damar meminta tolong pada temannya, Reza, untuk membantunya pindahan kos. Ia tahu bahwa permintaan ini merepotkan.
Damar: “Reza, maaf banget, aku tahu ini merepotkan. Tapi kalau kamu ada waktu, tolong bantu aku pindahan hari Sabtu. Aku benar-benar bakal berutang budi banget nih. Aku traktir makan sepuasnya nanti!”
Reza: “Santai aja, Dam. Aku juga nggak ada acara. Kapan-kapan kamu bantuin balik, ya.”

Dalam dialog di atas, Damar mengatakan, “Aku benar-benar bakal berutang budi banget nih” untuk menempatkan diri sebagai pihak yang merasa berutang dan tidak dominan. Adapun tuturan “Aku traktir makan sepuasnya” berfungsi sebagai niat untuk membalas budi.

Strategi ini sangat efektif dalam budaya Indonesia, yang menekankan bahwa rasa sungkan, utang budi, dan imbal balik sosial menjadi bagian penting dari etika komunikasi interpersonal. Kalimat seperti “Kalau merepotkan, nggak usah dipaksakan…” atau “Saya tahu ini banyak menyita waktu, jadi saya sangat menghargainya…” adalah bentuk-bentuk umum dari strategi ini.

Penutur yang menggunakan strategi ini tidak hanya sopan secara verbal, tetapi juga memperkuat relasi interpersonal melalui penghargaan dan tanggung jawab sosial yang ditunjukkan secara eksplisit.

Strategi Penuturan Semu atau Tersamar (Off Record)

Strategi off record atau penuturan tersamar merupakan bentuk strategi kesopanan yang paling tidak langsung. Penutur tetap menyampaikan tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (FTA), tetapi dengan cara yang tidak eksplisit. Mitra tutur tidak dipaksa secara langsung untuk menanggapi atau bertindak, melainkan dibiarkan untuk menyimpulkan sendiri maksud penutur berdasarkan konteks, implikatur, atau petunjuk tersirat.

Brown dan Levinson (1987) menyusun 15 strategi off record yang dibagi ke dalam dua cabang besar, yaitu menggunakan implikatur dan bersikap ambigu.

Pertama, penutur mamakai implikatur percakapan dengan melanggar Prinsip Kerja Sama (invite conversational implicatures, via hints triggered by violation of Gricean Maxims). Dalam cabang ini, penutur sengaja melanggar salah satu dari empat maksim percakapan Grice (kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara) untuk menimbulkan makna tersirat yang ditangkap oleh mitra tutur.

Maksim hubungan tidak dipatuhi dengan cara-cara berikut ini.

  1. Memberi petunjuk (give hints)
    Penutur memberi petunjuk samar sebagai isyarat tindakan yang diharapkan.
    Misalnya, seseorang mengatakan “Aduh, lapar banget,” alih-alih meminta makanan secara langsung.
  2. Memberi petunjuk asosiasi (give association clues)
    Penutur menyebut hal yang terkait secara asosiatif, tanpa mengatakan maksud secara langsung.
    Misalnya: “Kemarin aku lihat poster konser itu,” yang secara tersirat mengajak mitra tutur menonton bersama.
  3. Mengasumsikan sesuatu (presuppose)
    Penutur menyisipkan asumsi yang menunjukkan harapan tertentu.
    Misalnya: “Sudah selesai, kan, tugas kelompoknya?” yang menyiratkan permintaan untuk mengecek atau membantu.

Maksim kuantitas juga tidak dipatuhi dengan cara-cara berikut.

  1. Menyampaikan sesuatu secara tidak cukup (understate)
    Tuturan dibuat lebih ringan dari maksud sebenarnya.
    Contoh: “Itu agak mahal,” untuk menyiratkan bahwa harga tersebut sangat mahal.
  2. Menyampaikan secara berlebihan (overstate)
    Membesar-besarkan untuk memberi penekanan atau ekspresi emosi.
    Contoh: “Aku sudah menunggu seumur hidup!” untuk menekankan lamanya menunggu.
  3. Menggunakan tautologi (use tautologies)
    Mengulang makna atau informasi berlebihan untuk menyiratkan sesuatu.
    Contoh: “Seorang guru ya harus bisa mengajar,” yang menyiratkan kritik terhadap guru yang tidak kompeten.

Maksim kualitas juga tidak dipatuhi dengan cara-cara berikut.

  1. Menggunakan kontradiksi (use contradictions)
    Penutur menyampaikan pernyataan bertentangan untuk menimbulkan efek ironi atau kritik tersirat.
    Contoh: “Aku sangat senang sampai menangis,” yang menyiratkan ironi atau ketidakjujuran emosional.
  2. Menggunakan ironi (be ironic)
    Penutur menyatakan kebalikan dari maksud sebenarnya.
    Contoh: “Wah, rajin sekali kamu masuk kelas hari ini,” untuk menyindir ketidakhadiran sebelumnya.
  3. Menggunakan metafora (use metaphors)
    Penutur menggunakan majas untuk menyampaikan makna tersirat.
    Contoh: “Dia itu ular berbisa,” yang menyiratkan sifat berbahaya atau pengkhianatan.
  4. Menggunakan pertanyaan retoris (use rhetorical questions)
    Pertanyaan yang tidak butuh jawaban, hanya untuk menyampaikan sikap atau emosi tertentu.
    Contoh: “Apa kamu pikir aku senang dibohongi?” yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban, tapi menyatakan rasa kecewa.

Kedua, penutur sengaja bersikap tidak jelas atau ambigu (be vague or ambiguous). Dalam cabang ini, penutur menggunakan ketidakjelasan secara sengaja untuk menghindari tanggung jawab langsung atas maksud tuturan. Tujuannya adalah membuat tuturan terbuka untuk berbagai interpretasi. Caranya adalah dengan melanggar maksim cara yang diwujudkan dengan strategi-strategi berikut.

  1. Menggunakan ambiguitas (be ambiguous)
    Tuturan sengaja dibuat kabur dan bisa bermakna ganda.
    Contoh: “Ya… begitulah,” sebagai respons netral yang bisa bermakna tidak setuju atau bingung.
  2. Bersikap samar atau tidak spesifik (be vague)
    Penutur menggunakan ungkapan umum untuk menghindari kejelasan makna.
    Contoh: “Aku ada keperluan sebentar,” tanpa menjelaskan apa dan di mana.
  3. Menggeneralisasi secara berlebihan (over-generalize)
    Tuturan dibuat dalam bentuk terlalu umum agar tidak menyasar langsung ke individu atau situasi tertentu.
    Contoh: “Orang-orang tuh memang begitu,” tanpa menyebut siapa atau kejadian apa yang dimaksud.
  4. Memindahkan tanggung jawab kepada pihak lain (displace H)
    Penutur menyampaikan maksud kepada orang ketiga padahal ditujukan ke mitra tutur.
    Contoh: Alih-alih meminta bantuan langsung, penutur berkata pada orang ketiga, “Seandainya saja ada yang bisa bantu saya bawa ini…”
  5. Menggunakan elipsis atau tuturan tidak lengkap (be incomplete, use ellipsis)
    Penutur sengaja menyisakan tuturan tanpa penutup atau kejelasan.
    Contoh: “Kalau saja kamu… ah, sudahlah.” → Mitra tutur harus mengisi sendiri makna dari ucapan tersebut.

Strategi penuturan semu menunjukkan bentuk komunikasi yang sangat tidak langsung, sering kali bersifat implisit, ambigu, atau bahkan poetik. Penutur menyerahkan tanggung jawab pemahaman kepada mitra tutur, yang harus melakukan inferensi dan interpretasi sendiri. Strategi ini bisa memperhalus permintaan, mengekspresikan sindiran, atau menghindari konflik, dan sangat umum dalam komunikasi berbudaya tinggi konteks seperti Indonesia.

Berikut dipaparkan secara lebih rinci kelima belas strategi dalam penuturan semu atau tersamar ini.

Strategi 1: Memberi Petunjuk (Give hints)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyampaikan maksud secara tidak langsung dengan memberikan petunjuk atau sinyal yang hanya dapat dimaknai melalui inferensi. Penutur tidak menyatakan permintaan atau keinginannya secara eksplisit, tetapi mengandalkan kemampuan mitra tutur untuk menafsirkan maksud dari tuturan yang disampaikan.

Tujuannya adalah agar penutur bisa menjaga jarak sosial dan menghindari tanggung jawab langsung, terutama jika mitra tutur tidak merespons sebagaimana yang diharapkan. Strategi ini memungkinkan penutur “lepas tangan” sambil tetap menyampaikan keinginannya secara halus.

Contoh:
Konteks: Rina merasa kedinginan di dalam ruang kelas yang jendelanya tertutup rapat. Ia ingin agar jendela dibuka, tapi tidak ingin menyuruh langsung.
Rina: “Aduh, kok dinginnya makin terasa ya… padahal biasanya ruang ini hangat, lho.”
Tika: “Oh iya, mungkin karena jendelanya ketutup semua. Aku buka dulu, ya.”

Dalam contoh di atas, Rina tidak berkata langsung “Tolong bukakan jendelanya”, melainkan menyampaikan keluhan ringan, “Kok dinginnya makin terasa ya…” dan “Padahal biasanya ruang ini hangat…”. Tuturan itu adalah bentuk petunjuk yang mengarahkan mitra tutur pada kesimpulan yang dikehendaki, menyamarkan maksud perintah secara sopan, dan menjaga hubungan sosial karena tidak membuat Tika merasa diperintah secara langsung. Dalam budaya Indonesia strategi ini lazim digunakan, terutama ketika penutur ingin menunjukkan kesantunan atau menghindari kesan “menyuruh”.

Strategi 2: Memberi Petunjuk Asosiatif (Give association clues)

Strategi ini dilakukan dengan cara menyampaikan informasi yang berkaitan dengan maksud penutur secara tidak langsung, melalui asosiasi pengalaman, kebiasaan, atau nilai bersama. Maksud sebenarnya disamarkan dalam pernyataan yang tampaknya netral, tetapi secara pragmatis mengarahkan mitra tutur untuk menafsirkan pesan tersembunyi. Strategi ini memungkinkan penutur membangun inferensi berdasarkan hubungan atau konteks bersama, tanpa perlu mengucapkan maksud secara eksplisit.

Contoh:
Konteks: Deni melihat motor milik Rudi yang sedang diparkir di halaman kos. Ia ingin meminjamnya, tapi enggan meminta secara langsung.
Deni: “Motor kayak punyamu tuh enak banget buat naik ke dataran tinggi ya… Aku jadi ingat waktu ke Kaliurang pakai motor temen, empuk banget joknya.”
Rudi: “Serius? Ya udah, kalau kamu mau pakai dulu aja motorku buat ke atas.”

Deni menyampaikan pernyataan yang tampaknya netral, berupa pujian terhadap jenis motor (“enak banget buat naik ke dataran tinggi”), dan pengalaman sebelumnya (“waktu ke Kaliurang pakai motor temen”). Tanpa menyatakan langsung “Boleh pinjam motor kamu?”, Deni memberi petunjuk asosiatif yang mengarah ke maksud tersebut. Rudi menangkap maksud tersiratnya karena konteks dan pengalaman bersama. Strategi ini cocok dalam budaya yang menghindari konfrontasi langsung, seperti Indonesia, dan mengandalkan pemahaman implisit sebagai bentuk kesantunan.

Strategi 3: Mengasumsikan Sesuatu (Presuppose)

Dalam strategi ini, penutur membingkai tuturan seolah-olah sesuatu sudah diketahui atau disepakati, padahal bisa jadi belum. Dengan menyampaikan sesuatu sebagai hal yang sudah semestinya, penutur menghindari penyampaian maksud secara frontal, tetapi tetap mengarahkan mitra tutur untuk menerima premis tersebut. Strategi ini memanfaatkan praanggapan atau presuposisi untuk memperhalus permintaan atau pernyataan, dan sering digunakan untuk menegaskan sesuatu tanpa mengatakannya secara blak-blakan.

Contoh:

Konteks: Mia ingin mengingatkan Tika untuk menyelesaikan bagian laporan kelompok yang belum dikerjakan. Namun, ia tidak ingin terdengar menuduh.

Mia: “Kamu bakal kirim bagianmu malam ini juga kan, Tik? Jadi besok pagi aku bisa mulai gabungin semua.”
Tika: “Eh iya, maaf baru mulai tadi sore. Malam ini aku kirim ya.”

Mia menggunakan strategi praanggapan dengan menyatakan “Kamu bakal kirim bagianmu malam ini juga kan?”  Pernyataan ini mengasumsikan bahwa Tika memang akan mengirim tugas malam itu, padahal belum ada kesepakatan sebelumnya.

Dengan demikian Mia tidak secara eksplisit menegur atau menagih, tetapi tetap menyampaikan ekspektasi. Tika pun tidak kehilangan muka, karena bisa langsung mengonfirmasi tanpa merasa dituduh. Dalam budaya Indonesia yang menjunjung nilai-nilai rukun dan nggak enakan, bentuk tutur seperti ini sangat membantu menjaga harmoni tanpa kehilangan maksud komunikasi.

Strategi 4: Mengurangi (Understate)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyampaikan sesuatu secara lebih ringan atau lebih kecil dari kenyataan sebenarnya. Tujuannya adalah untuk menghindari konfrontasi atau tekanan langsung terhadap mitra tutur, dengan cara menyamarkan tingkat keparahan, intensitas, atau bobot pernyataan. Dengan mengurangi atau mengecilkan fakta, penutur memberikan ruang kepada mitra tutur untuk memahami maksud sebenarnya secara implisit, tanpa merasa dituduh atau dipermalukan.

Contoh:
Konteks: Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia, memeriksa tugas siswa. Ia ingin menegur hasil tulisan Edo yang sangat buruk, tapi tak ingin mempermalukannya.
Bu Ratna: “Tugas kamu ini… agak jauh ya dari ekspektasi. Mungkin kamu bisa tinjau ulang bagian pengembangannya.”
Edo: “Iya, Bu. Saya akui saya kerjakan agak terburu-buru kemarin.”

Frasa “agak jauh ya dari ekspektasi” adalah bentuk pengurangan atau understatement. Padahal dalam kenyataannya, bisa jadi tulisannya tidak layak dikumpulkan. Namun Bu Ratna meredam kritiknya agar tidak terdengar kasar. Dia juga menjaga harga diri siswa, sambil tetap menyampaikan evaluasi yang jelas. Penilaian secara implisit disampaikan agar lebih bisa diterima secara emosional. Strategi pengurangan seperti ini banyak digunakan dalam budaya Indonesia yang cenderung menghindari ketegasan langsung demi menjaga hubungan sosial.

Strategi 5: Melebih-lebihkan (Overstate)

Berkebalikan dengan strategi sebelumnya, melebih-lebihkan atau overstate digunakan ketika penutur sengaja menyampaikan sesuatu secara berlebihan atau hiperbolik. Tujuannya bukan untuk menekankan fakta, tetapi justru untuk menyiratkan ketidakseriusan atau menyampaikan kritik secara tidak langsung. Strategi ini sering dimanfaatkan dalam bentuk keluhan, pujian sarkastik, atau ungkapan emosional yang memancing pemaknaan tersirat, tanpa menyampaikan isi secara lugas.

Contoh:
Konteks: Rika menunggu Dina hampir satu jam di halte bus karena Dina datang terlambat. Ia tidak ingin langsung memarahi temannya.
Rika: “Hebat, Din. Kamu benar-benar teladan ketepatan waktu deh! Besok-besok aku bawa tiker, sekalian camping di sini.”
Dina: “Waduh… maaf banget, Rik. Tadi macet parah. Aku salah perhitungan.”

Rika tidak berkata “Kamu telat!” secara langsung, melainkan memberi pujian berlebihan secara ironis (“teladan ketepatan waktu”) dan menggunakan hiperbola humoris (“bawa tiker, camping”). Ini adalah bentuk sindiran lembut yang tetap mengomunikasikan ketidaknyamanan, tanpa menyudutkan mitra tutur secara langsung. 

Strategi ini menghindari FTA secara eksplisit dan mengandalkan pemahaman mitra tutur akan makna tersirat. Cara ini cocok untuk menjaga suasana tetap cair, terutama antarteman sebaya. Melebih-lebihkan seperti ini dalam budaya Indonesia sering digunakan dalam konteks pergaulan santai, humor, dan relasi horizontal yang akrab.

Strategi 6: Menggunakan Tautologi (Use tautologies)

Strategi ini dilakukan dengan menyampaikan tuturan yang berisi pernyataan ganda yang tampaknya tak bermakna baru atau bersifat repetitif, misalnya “Yang penting ya penting” atau “Kalau ya, ya.”. Meskipun tampak tidak informatif secara literal, tautologi ini membuka ruang interpretasi makna tersirat, sehingga mitra tutur menangkap pesan tanpa adanya pernyataan langsung. Tujuannya adalah agar penutur dapat mengungkapkan kritik, penolakan, atau keraguan secara halus, sambil menjaga jarak dari tanggung jawab penuh atas isi tuturan tersebut.

Contoh:
Konteks: Bayu ingin menolak permintaan temannya, Tono, untuk meminjam laptop, tapi tidak ingin terdengar menolak secara langsung.
Tono: “Bay, laptopmu bisa kupinjam buat tugas malam ini?”
Bayu: “Pinjam ya pinjam, tapi ya gitu deh…”
Tono: “Oh, oke. Kalau lagi kamu butuhkan, nggak apa-apa. Aku cari alternatif lain dulu.”

Frasa “Pinjam ya pinjam, tapi ya gitu deh…” merupakan tautologi. Secara literal tidak menjelaskan apa-apa. Namun, tersirat ketidaksiapan Bayu meminjamkan laptopnya. Cara ini menghindari ucapan “tidak” secara eksplisit, yang bisa menyakiti perasaan Tono dan memberi ruang pada Tono untuk menyimpulkan sendiri. Tautologi seperti ini sangat umum di Indonesia, terutama dalam budaya tutur yang ingin menghindari konflik atau menjaga hubungan baik.

Strategi 7: Menggunakan Kontradiksi (Use contradictions)

Dalam strategi ini, penutur menyampaikan dua pernyataan yang bertentangan secara logis. Akibatnya, makna yang sebenarnya tidak dapat dipahami secara literal, tetapi justru muncul dari kontradiksi itu sendiri. Bentuk ini sering digunakan untuk menyampaikan sindiran, ekspresi ambivalensi, atau sikap sinis secara halus. Kontradiksi memungkinkan penutur menghindari pernyataan tegas, dan membiarkan mitra tutur menyimpulkan sendiri posisi atau emosi si penutur.

Contoh:
Konteks: Vina ingin menyampaikan bahwa ia merasa kecewa terhadap hasil kerja kelompok Rendy, tapi tidak ingin menyatakannya secara frontal.
Rendy: “Menurutmu gimana hasil editing videonya?”
Vina: “Hmm… Bagus sih, kalau memang nggak bagus ya…”
Rendy: “Loh… maksudnya?”
Vina: “Hehe… ya mungkin aku terlalu banyak ekspektasi aja.”

Ungkapan “Bagus sih, kalau memang nggak bagus ya…” adalah ungkapan kontradiktif. Secara literal ungkapan ini membingungkan dan tidak koheren. Namun, secara pragmatik hal itu menyampaikan sindiran bahwa hasilnya sebenarnya tidak bagus. Penutur tidak menyampaikan evaluasi secara langsung sehingga menjaga perasaan mitra tutur. Sering kali strategi ini digunakan dalam budaya sopan Indonesia, terutama dalam situasi interpersonal yang sensitif dan rawan konflik.

Strategi 8: Menggunakan Ironi (Be ironic)

Strategi ini digunakan ketika penutur mengatakan sesuatu yang secara literal bertentangan dengan maksud sebenarnya. Harapannya, mitra tutur akan memahami bahwa yang dimaksud bukanlah makna literalnya, melainkan makna kontras yang ditimbulkan. Ironi sering digunakan untuk menyampaikan kritik atau keluhan secara halus, kadang dalam bentuk pujian yang sebenarnya menyindir. Tujuannya adalah untuk menghindari konfrontasi langsung sambil tetap menyampaikan evaluasi atau ekspresi ketidakpuasan.

Contoh:
Konteks: Wina mendapati kamar kosnya berantakan setelah teman sekamarnya, Tya, membawa teman-teman bermain tanpa izin.
Wina: “Wah, kamar ini benar-benar seperti hotel bintang lima sekarang—lengkap dengan kekacauan dan aroma snack semalam!”
Tya: “Hehe, iya ya, maaf banget, Win. Nanti aku beresin segera deh.”

Tuturan “seperti hotel bintang lima” secara literal terdengar seperti pujian, tetapi dalam konteks ini maknanya justru bertolak belakang, yaitu kritik terhadap kekacauan. Ironi ini memberikan sindiran tanpa membuat Tya merasa langsung disalahkan. Dengan cara ini, Wina tidak ingin bersikap kasar, tetapi tetap menyampaikan pesan. Dalam budaya Indonesia, ironi sangat efektif sebagai strategi menjaga harmoni sosial, sekaligus menghindari ketegangan dalam relasi personal.

Strategi 9: Menggunakan Metafora (Use metaphors)

Strategi ini digunakan ketika penutur menggunakan perbandingan tidak langsung (metafora) untuk menyampaikan penilaian terhadap mitra tutur atau situasi tertentu. Metafora memungkinkan penutur menghindari penyebutan langsung sifat atau tindakan, namun tetap menyiratkan makna secara implisit. Penggunaan metafora dapat berupa simbol hewan, benda, atau kondisi yang bermakna evaluatif secara budaya, dan sering dimaknai sebagai bentuk komentar sosial yang terselubung.

Contoh:
Konteks: Arif menilai bahwa Dani terlalu mudah berubah pendapat tergantung siapa yang diajak bicara, tapi tidak ingin menyinggung secara langsung.
Arif: “Kamu tuh memang cocok jadi bunglon profesional, Bro. Pandai banget nyatu sama siapa pun!”
Dani: “Haha… kamu nyindir aku nih ya?”

Metafora “bunglon profesional” dipakai Arif untuk menyampaikan bahwa Dani terlalu mudah menyesuaikan diri dan mungkin dianggap tidak punya prinsip yang jelas. Alih-alih mengatakan “kamu plin-plan” atau “nggak punya pendirian”, Arif memilih metafora yang terdengar lebih jenaka dan ringan sehingga terhindar dari anggapan menuduh secara langsung. Dengan cara ini Arif membuka ruang bagi Dani untuk menerima atau menolak penilaian itu tanpa merasa diserang. Dalam budaya Indonesia, metafora sangat kaya digunakan untuk menyampaikan kritik sosial dan moral secara kreatif dan sopan.

Strategi 10: Menggunakan Pertanyaan Retoris (Use rhetorical questions)

Strategi ini digunakan ketika penutur mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban karena jawabannya sudah jelas atau sudah diketahui bersama. Tujuannya bukan untuk memperoleh informasi, melainkan untuk menyampaikan penilaian atau sikap secara tersirat, misalnya berupa kritik, protes, atau sindiran. Dengan cara ini, penutur menyampaikan makna secara tidak langsung, memberi peluang kepada mitra tutur untuk menangkap pesan tanpa merasa disudutkan secara eksplisit.

Contoh:
Konteks: Bu Nita mendapati bahwa salah satu siswa, Rio, datang sangat terlambat ke kelas tanpa permisi.
Bu Nita: “Rio, kamu pikir guru di kelas ini patung, ya?”
Rio: “Maaf, Bu… Saya terlambat bangun.”

Pertanyaan “kamu pikir guru di kelas ini patung?” adalah pertanyaan retoris karena tidak benar-benar mengharapkan jawaban. Tuturan tersebut berfungsi sebagai sindiran halus tetapi tetap tegas. Ini merupakan cara mengungkapkan ketidaksenangan, tanpa harus berkata “Kamu tidak sopan.” Dalam budaya Indonesia yang sangat menghargai kesopanan dan hierarki, pertanyaan retoris banyak dipakai oleh orang tua, guru, atau atasan untuk menegur tanpa memarahi langsung.

Strategi 11: Bersikap Ambigu (Be ambiguous)

Strategi ini digunakan ketika penutur secara sengaja menggunakan tuturan yang maknanya tidak jelas atau kabur sehingga tidak bisa segera dipahami maksud spesifiknya. Ambiguitas ini memberikan ruang interpretasi bagi mitra tutur, sekaligus memungkinkan penutur untuk “lepas tangan” bila mitra tutur menafsirkan secara tidak diharapkan. Ambiguitas dalam strategi ini bisa berupa penggunaan kata/kalimat ganda makna, struktur gramatikal kabur, atau gaya bahasa yang tidak spesifik.

Contoh:
Konteks: Lisa tidak menyukai cara berpakaian Bella yang dianggap tidak pantas ke kampus, tetapi ia tidak ingin mengomentari secara langsung.
Lisa: “Wah, kamu emang berani banget ya hari ini…”
Bella: “Hehe… maksud kamu gimana?”
Lisa: “Nggak kok, keren aja… beda.”

Tuturan Lisa “berani banget ya” bersifat ambigu karena bisa berarti pujian, bisa juga sindiran. Lisa tidak secara eksplisit menyebutkan apa yang dianggap “berani”. Ketika Bella mencoba mengklarifikasi, Lisa tetap menyamarkan maksudnya dengan kata “beda” yang tetap tidak menjelaskan arah penilaian.

Umumnya, strategi ini dipakai dalam budaya yang menghindari konfrontasi langsung, serta memberi ruang bagi mitra tutur untuk menyimpulkan atau bahkan mengabaikan makna sebenarnya, tergantung relasi sosial yang terlibat.

Strategi 12: Bersikap Kabur atau Samar (Be vague)

Strategi ini dilakukan ketika penutur menyampaikan maksud dengan cara yang tidak spesifik atau samar, tanpa menyebutkan siapa, apa, atau kapan secara eksplisit. Dengan strategi ini penutur dapat menghindari pertanggungjawaban langsung terhadap isi tuturan, sekaligus membuka peluang bagi mitra tutur untuk menafsirkan secara bebas. Kesamaran sering digunakan ketika penutur ingin menyampaikan kritik, penolakan, atau ketidaksetujuan secara sangat halus tanpa menyebutkan target secara jelas.

Contoh:
Konteks: Ardi merasa kesal karena ada salah satu teman kelompoknya yang tidak aktif, tapi ia tidak ingin menyebut nama.
Ardi: “Kalau semua anggota kelompok ikut berkontribusi, kayaknya kita bisa selesai lebih cepat deh.”
Yuli: “Iya, aku ngerti maksudmu. Nanti aku coba ajak dia ngobrol ya.”

Pernyataan “kalau semua ikut berkontribusi…” bersifat kabur karena tidak menyebut siapa yang tidak berkontribusi. Ardi tidak menyalahkan secara langsung, tetapi cukup jelas untuk menyampaikan ketidakpuasan tersirat. Strategi ini efektif dalam budaya Indonesia karena dapat menjaga keharmonisan kelompok dan tidak mempermalukan secara frontal, tetapi tetap mengingatkan.

Strategi 13: Menyamaratakan atau Menggeneralisasi (Overgeneralize)

Strategi ini digunakan ketika penutur menyampaikan pernyataan dalam bentuk generalisasi yang tampak seperti nasihat umum, padahal sebenarnya menyasar mitra tutur secara tidak langsung. Strategi ini membuat penutur tampak objektif, sementara kritik atau permintaan tetap tersampaikan secara implisit. Generalisasi seperti ini biasanya menggunakan kata-kata seperti “semua orang tahu bahwa…”, “biasanya orang…”, atau “idealnya kita semua…”

Contoh:
Konteks: Pak Doni, dosen pembimbing, ingin menegur mahasiswanya, Rian, yang sering telat bimbingan, tanpa menyebut langsung namanya.
Pak Doni: “Dalam dunia profesional, biasanya orang yang menghargai waktu akan lebih dihargai juga oleh lingkungannya.”
Rian: “Iya, Pak. Maaf, saya telat lagi tadi. Saya usahakan tepat waktu ke depannya.”

Pak Doni tidak berkata “Rian, kamu harus tepat waktu”, tetapi menyampaikan pernyataan yang terdengar seperti kaidah umum. Namun, konteksnya cukup jelas bahwa Rian adalah target tersirat dari pernyataan itu.

Strategi ini efektif karena mengurangi rasa diserang secara langsung. Penutur bisa mendorong mitra tutur untuk menyadari kesalahannya sendiri. Selain itu, relasi kuasa dan sopan santun dalam interaksi formal tetap terjaga.

Strategi 14: Mengalihkan Tindakan kepada Orang Lain (Displace H)

Dalam strategi ini, penutur menyampaikan tuturan yang sebenarnya ditujukan kepada mitra tutur, tetapi dibingkai seolah-olah diarahkan kepada pihak ketiga atau disampaikan secara umum. Tujuannya adalah untuk memberikan jarak aman bagi mitra tutur untuk merespons atau mengabaikan dan menjaga kesopanan dalam situasi yang sensitif atau ketika relasi kuasa tidak setara.

Contoh:
Konteks: Pak Lurah ingin menegur salah satu staf kantor desa yang sering meninggalkan meja saat jam kerja. Ketika staf itu hadir saat rapat, Pak Lurah tidak ingin menyebut namanya secara langsung.
Pak Lurah: “Kadang kita lupa, ya, kalau pelayanan publik itu butuh orang yang siap sedia di meja setiap saat.”
Staf: “Iya, Pak. Saya akan lebih disiplin lagi ke depannya.”

Tuturan Pak Lurah tampaknya diarahkan pada “kita” (secara umum). Namun, konteksnya menunjukkan bahwa target sebenarnya adalah staf tertentu yang hadir dalam forum. Kritik disampaikan secara tidak langsung dan tidak memalukan. Mitra tutur diberi peluang untuk menangkap pesan tanpa merasa tersudutkan.

Strategi ini umum dalam budaya hierarkis seperti Indonesia. Cara ini memungkinkan atasan menyampaikan evaluasi secara halus dan terselubung, sambil tetap menjaga kehormatan mitra tutur.

Strategi 15: Tidak Menyelesaikan Ujaran (Be incomplete, use ellipsis)

Strategi ini dilakukan dengan menyampaikan ujaran yang sengaja tidak selesai atau terputus, biasanya pada bagian yang paling eksplisit atau kritis. Dengan tidak menuntaskan ujaran, penutur menjaga jarak dari FTA, dan memberi kebebasan kepada mitra tutur untuk menafsirkan atau menanggapi secara fleksibel.

Sering kali, strategi ini digunakan untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau ketidaknyamanan tanpa berkata langsung. Cara ini juga bisa dipakai untuk menjaga agar pernyataan tidak terdengar menuduh, menyuruh, atau menyerang.

Contoh:
Konteks: Dina melihat temannya, Aji, mengenakan kemeja yang kusut saat akan maju presentasi kelompok.
Dina: “Aji… ehm… kalau kamu nyaman sih nggak apa-apa, tapi… ya sudahlah.”
Aji: “Hah? Wah, bajuku kusut ya? Aku ganti dulu deh.”

Dina tidak secara eksplisit berkata “Bajumu kusut, ganti dong”, melainkan menggunakan kalimat yang terputus di tengah. Dia menyampaikan ketidaknyamanan tanpa menunjuk langsung kesalahan Aji. Dina memberi ruang pada Aji untuk menyadari sendiri maksud tuturan tersebut.

Dalam interaksi sosial yang mengutamakan keharmonisan dan perasaan, elipsis adalah strategi yang mewakili kehati-hatian berbahasa serta pengendalian diri penutur untuk menjaga relasi interpersonal.

Faktor Penentu Pemilihan Strategi Kesopanan

Dalam teori kesopanan Brown dan Levinson, pemilihan strategi kesopanan tidak dilakukan secara sembarangan. Penutur mempertimbangkan terlebih dahulu seberapa besar potensi ancaman muka (face threatening act atau FTA) yang muncul dalam suatu tindak tutur. 

Untuk menentukan tingkat ancaman tersebut, Brown dan Levinson menjelaskan adanya tiga variabel sosial utama yang memengaruhi pilihan strategi kesopanan, yaitu kuasa (power), jarak sosial (distance), dan bobot tindak tutur (rank of imposition).

Ketiga variabel ini dirumuskan Brown dan Levinson dalam formula berikut.

[Wx = D(S,H) + P(H,S) + Rx]

Rumus tersebut berarti bahwa tingkat ancaman muka suatu tindak tutur ditentukan oleh gabungan:

  • jarak sosial antara penutur dan mitra tutur,
  • relasi kuasa antara keduanya,
  • serta tingkat beban atau kerepotan dari tindak tutur itu sendiri.

Semakin tinggi nilai gabungan ketiganya, semakin besar ancaman muka yang dirasakan, sehingga penutur cenderung memilih strategi yang lebih sopan dan tidak langsung.

1. Kuasa (Power/P)

Variabel pertama adalah kuasa (power), yaitu perbedaan status, otoritas, atau kekuasaan sosial antara penutur dan mitra tutur. Variabel ini berkaitan dengan siapa yang memiliki posisi lebih tinggi dan siapa yang memiliki kemampuan memberikan sanksi, penilaian, atau pengaruh terhadap pihak lain.

Jika mitra tutur memiliki kuasa lebih tinggi, penutur biasanya akan berbicara dengan lebih hati-hati dan sopan. Sebaliknya, jika penutur memiliki posisi lebih tinggi, ia cenderung dapat berbicara lebih langsung.

Misalnya, seorang mahasiswa biasanya berbicara lebih sopan kepada dosen, “Maaf, Pak, apakah saya boleh meminta waktu bimbingan sebentar?”

Sebaliknya, dosen dapat berbicara lebih langsung kepada mahasiswa, “Besok revisinya dikumpulkan.”

Dalam budaya Indonesia, faktor kuasa sangat penting karena masyarakat Indonesia cenderung sensitif terhadap hierarki sosial, usia, jabatan, dan status pendidikan.

2. Jarak Sosial (Distance/D)

Variabel kedua adalah jarak sosial (distance), yaitu tingkat kedekatan hubungan antara penutur dan mitra tutur. Variabel ini mencakup keakraban, solidaritas, frekuensi interaksi, dan kedekatan emosional.

Semakin dekat hubungan sosial antara dua orang, semakin kecil kebutuhan untuk menjaga formalitas. Sebaliknya, semakin jauh hubungan sosial mereka, semakin besar kebutuhan menggunakan strategi kesopanan.

Contohnya, kepada teman dekat seseorang dapat berkata, “Pinjam charger dong.”

Namun kepada seseorang yang belum akrab, orang akan berkata, “Permisi, apakah saya boleh meminjam charger sebentar?”

Dalam masyarakat Indonesia, jarak sosial sangat dipengaruhi oleh kedekatan keluarga, senioritas, relasi pertemanan, dan tingkat formalitas situasi. Oleh karena itu, pilihan kata, sapaan, dan gaya bicara sering berubah tergantung seberapa dekat hubungan sosial penutur dan mitra tutur.

3. Bobot Tindak Tutur (Rank of Imposition/R)

Variabel ketiga adalah bobot tindak tutur (rank of imposition), yaitu seberapa besar beban, kerepotan, atau pengorbanan yang ditimbulkan oleh suatu permintaan atau tindakan terhadap mitra tutur.

Semakin besar beban yang diminta, semakin sopan dan tidak langsung strategi yang biasanya digunakan.

Misalnya, tuturan “Pinjam pulpen sebentar ya,” memiliki beban kecil sehingga bisa disampaikan secara langsung.

Sebaliknya, tuturan “Maaf sebelumnya, saya tahu ini cukup merepotkan, tetapi apakah Bapak bersedia menjadi pembimbing tambahan penelitian saya?” memiliki beban besar karena membutuhkan waktu, tenaga, dan tanggung jawab tambahan. Oleh karena itu, penutur menggunakan strategi kesopanan negatif dengan berbagai bentuk peredam.

Dalam budaya Indonesia, penilaian terhadap bobot tindak tutur sering berkaitan dengan konsep sungkan, tidak enak hati, rasa hormat, dan kesadaran untuk tidak merepotkan orang lain.

Hubungan Ketiga Variabel dengan Strategi Kesopanan

Brown dan Levinson menjelaskan bahwa kombinasi nilai P, D, dan R menentukan strategi kesopanan yang dipilih penutur.

Jika ketiga variabel tersebut rendah, penutur cenderung menggunakan strategi langsung (bald on record). Namun jika nilainya semakin tinggi, penutur akan memilih strategi yang lebih tidak langsung dan lebih sopan.

Secara umum jika nilai P, D, dan R rendah, penutur akan menggunakan strategi penuturan terus terang (bald on record). Jika nilai sedang, strategi yang dipilih adalah kesopanan positif dan jika nilai tinggi, yang dipilih adalah kesopanan negatif. Namun, jika nilainya sangat tinggi, strategi penuturan tersamar (off record) menjadi pilihan terbaik.

Sebagai contoh, seorang teman dekat dapat berkata, “Ambilin air dong.” Namun, seorang pegawai kepada atasannya mungkin memilih, “Kalau tidak merepotkan, apakah Bapak berkenan meninjau dokumen ini?” 

Bahkan dalam situasi yang sangat sensitif, seseorang bisa menggunakan strategi tersamar, “Akhir-akhir ini ibu saya sering kontrol ke rumah sakit…” Tuturan tersebut mungkin menyiratkan permintaan izin tanpa mengatakannya secara langsung.

Teori Brown dan Levinson menunjukkan bahwa kesopanan bukan sekadar soal penggunaan kata-kata halus, melainkan hasil pertimbangan sosial yang kompleks. Penutur secara pragmatis mempertimbangkan relasi kuasa, tingkat keakraban, dan bobot tindak tutur sebelum menentukan cara berbicara yang dianggap paling tepat dan paling aman bagi hubungan sosial.

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *