prinsip kesopanan leech

Prinsip Kesopanan Leech menjelaskan bahwa menjadi sopan ternyata bukan sekadar berbicara halus atau menggunakan kata tolong, terima kasih, dan maaf. Dalam kajian pragmatik, kesopanan dipahami sebagai cara manusia menjaga hubungan sosial melalui bahasa. Oleh karena itu, tuturan yang dianggap santun biasanya memiliki pola tertentu yang dapat dianalisis.

Geoffrey Leech melalui bukunya The Pragmatics of Politeness (2014) mencoba menjelaskan pola tersebut secara lebih sistematis. Menurutnya, kesopanan berkaitan dengan bagaimana penutur memberi nilai kepada mitra tutur dan mengurangi penonjolan dirinya sendiri dalam komunikasi.

Dari gagasan inilah lahir prinsip kesopanan berbahasa versi Leech yang terdiri atas beberapa ranah dan sepuluh maksim kesopanan. Teori ini menjadi salah satu landasan penting dalam kajian pragmatik karena membantu menjelaskan bagaimana bahasa digunakan untuk menjaga harmoni sosial dalam interaksi sehari-hari.

1. Formula Dasar Prinsip Kesopanan Leech

Dalam teori Geoffrey Leech, kesopanan dipahami sebagai interpersonal rhetoric of value. Artinya, kesopanan dapat dipahami sebagai pengelolaan nilai interpersonal antara penutur dan mitra tutur. Dalam proses komunikasi, penutur cenderung memberikan nilai positif kepada mitra tutur dan mengurangi penonjolan dirinya sendiri demi menjaga harmoni sosial dan kenyamanan relasional.

Leech kemudian merumuskan formula dasar prinsip kesopanan sebagai berikut.

  • Memberi nilai tinggi kepada O (other atau mitra tutur).
  • Memberi nilai rendah kepada S (self atau diri sendiri).

Formula ini menjadi inti dari seluruh sistem kesopanan Leech. Semakin seorang penutur menghargai mitra tutur dan mengurangi penonjolan dirinya sendiri, semakin santun tuturan tersebut dianggap.

Oleh karena itu, kesopanan menurut Leech bukan sekadar masalah tata krama formal, melainkan strategi interpersonal. Saat seseorang berkata, “Maaf kalau merepotkan,” ia sedang mengurangi nilai dirinya sendiri demi menjaga kenyamanan mitra tutur. Sebaliknya, ketika seseorang berkata, “Pendapat Anda sangat menarik,” ia sedang memberi nilai positif kepada mitra tutur.

Dalam perspektif ini, kesopanan bukan hanya persoalan kata-kata halus, tetapi cara manusia menjaga harmoni sosial melalui bahasa.

2. Ranah Kesopanan Berbahasa

Kesopanan tidak cukup dipahami sebagai penggunaan kata-kata “ajaib” seperti tolong, terima kasih, dan maaf. Kesopanan pada dasarnya adalah manajemen nilai interpersonal.

Nilai interpersonal tersebut muncul dalam beberapa ranah utama kehidupan sosial manusia, yaitu

  1. keinginan, 
  2. evaluasi, 
  3. kewajiban, 
  4. opini, dan 
  5. perasaan. 

Kelima ranah inilah yang menjadi dasar lahirnya sepuluh maksim kesopanan Leech.

2.1 Ranah Keinginan

Ranah keinginan berkaitan dengan kepentingan, manfaat, dan beban dalam interaksi. Ketika seseorang meminta bantuan, memberi tawaran, atau menyarankan sesuatu, sebenarnya sedang terjadi negosiasi mengenai siapa yang mendapat keuntungan dan siapa yang menanggung beban.

Tuturan seperti “Kalau tidak merepotkan, boleh saya minta bantuan?” dianggap santun karena penutur berusaha meminimalkan beban bagi mitra tutur. Sebaliknya, tuturan seperti “Kerjakan ini sekarang!” cenderung dianggap kurang santun karena penutur secara langsung membebankan kepentingannya kepada orang lain tanpa upaya mitigasi.

Dalam perspektif Leech, kesantunan pada ranah ini muncul ketika penutur berusaha

  • mengurangi kerugian bagi mitra tutur;
  • mengurangi keuntungan bagi diri sendiri; atau
  • menonjolkan manfaat bagi orang lain.

Oleh karena itu, bentuk-bentuk bahasa seperti

  • “kalau berkenan”,
  • “jika tidak sibuk”,
  • “maaf mengganggu waktunya”,
  • “biar saya saja yang membantu”,

menjadi penting dalam komunikasi santun. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa penutur menyadari tindak tutur yang ia lakukan berpotensi membebani mitra tutur sehingga perlu “dilunakkan”.

Menariknya, ranah keinginan tidak hanya muncul dalam permintaan, tetapi juga dalam tawaran dan ajakan. Ketika seseorang berkata, “Biar saya saja yang membawakan barangnya,” penutur sedang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dan meminimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Di sinilah kesantunan tidak lagi sekadar soal berbicara halus, melainkan tentang bagaimana bahasa digunakan untuk mengelola distribusi manfaat dan beban dalam hubungan sosial.

2.2 Ranah Evaluasi

Ranah evaluasi berkaitan dengan penilaian terhadap kualitas seseorang. Dalam komunikasi sehari-hari, manusia sering memuji, mengkritik, membanggakan diri, atau merendahkan diri.

Menurut Leech, kesopanan muncul ketika penutur memberi evaluasi positif kepada mitra tutur dan mengurangi penonjolan kualitas dirinya sendiri. Karena itu, pujian dan kerendahan hati menjadi bagian penting dalam kesantunan berbahasa.

Tuturan seperti “Presentasi Anda tadi sangat jelas dan menarik” cenderung dianggap santun karena penutur memberikan nilai positif kepada mitra tutur. Sebaliknya, tuturan seperti “Presentasi saya sebenarnya jauh lebih bagus” dapat terdengar kurang santun karena penutur meninggikan dirinya sendiri di hadapan orang lain.

Dalam ranah ini, kesantunan juga tampak ketika seseorang berusaha mengurangi kritik secara langsung. Misalnya, daripada mengatakan “Tulisanmu jelek dan membingungkan,” penutur mungkin memilih ungkapan yang lebih halus seperti “Mungkin bagian ini masih bisa diperjelas lagi.” Strategi semacam ini menunjukkan bahwa penutur tetap ingin menyampaikan evaluasi, tetapi berusaha menjaga harga diri mitra tutur.

Selain itu, budaya kesantunan di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, sangat menghargai kerendahan hati. Karena itu, respons terhadap pujian sering kali tidak berupa penerimaan langsung, melainkan penyangkalan atau perendahan diri secara wajar. Ketika seseorang dipuji, lalu menjawab, “Ah, biasa saja kok, saya masih banyak belajar,” penutur sedang mengurangi penonjolan kualitas dirinya sendiri demi menjaga keseimbangan interpersonal.

Menariknya, ranah evaluasi menunjukkan bahwa kesopanan bukan hanya soal menghindari konflik, tetapi juga tentang pengelolaan penghargaan sosial. Melalui pujian, kritik yang dilunakkan, dan kerendahan hati, penutur berusaha menjaga perasaan, harga diri, dan kenyamanan relasional dalam komunikasi.

2.3 Ranah Kewajiban

Ranah kewajiban berhubungan dengan utang sosial. Ketika seseorang mengucapkan terima kasih atau meminta maaf, ia sebenarnya sedang mengakui adanya kewajiban moral terhadap orang lain.

Demikian pula respons seperti “Tidak apa-apa” atau “Santai saja” berfungsi mengurangi beban sosial yang dirasakan mitra tutur.

Dalam perspektif Leech, interaksi sosial sering kali menciptakan semacam “neraca hubungan” antarmanusia. Ketika seseorang menerima bantuan, ia merasa memiliki utang sosial sehingga muncul kebutuhan untuk mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kesalahan, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk meminta maaf.

Karena itu, tuturan seperti:

“Terima kasih banyak atas bantuannya. Saya benar-benar terbantu.”

dianggap santun karena penutur mengakui kontribusi mitra tutur dan menunjukkan bahwa bantuan tersebut bernilai bagi dirinya. Sebaliknya, jika seseorang menerima bantuan tanpa memberi respons apa pun, tindakan itu dapat dianggap kurang santun karena mengabaikan kewajiban sosial yang muncul dalam interaksi.

Hal yang sama terjadi pada permintaan maaf. Tuturan seperti:

“Maaf, saya tadi terlambat karena ada kendala di jalan.”

menunjukkan bahwa penutur mengakui kesalahan dan menerima tanggung jawab moral atas tindakannya. Dalam konteks ini, permintaan maaf berfungsi memperbaiki keseimbangan hubungan sosial yang sempat terganggu.

Menariknya, kesantunan dalam ranah kewajiban tidak hanya tampak pada pihak yang meminta maaf atau berterima kasih, tetapi juga pada respons mitra tutur. Ketika seseorang menjawab:

“Tidak apa-apa, saya mengerti situasinya.”

atau:

“Santai saja, itu hal kecil kok.”

mitra tutur sebenarnya sedang mengurangi beban psikologis dan utang sosial yang dirasakan penutur. Dengan demikian, hubungan interpersonal dapat kembali berada dalam keadaan yang lebih seimbang dan nyaman.

Ranah kewajiban menunjukkan bahwa kesopanan bukan hanya persoalan berbicara halus, tetapi juga mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan moral dalam hubungan antarmanusia. Melalui ucapan terima kasih, permintaan maaf, dan respons terhadap keduanya, bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengelola rasa utang budi, rasa bersalah, dan pemulihan hubungan sosial.

2.4 Ranah Opini

Kesopanan juga berkaitan dengan cara manusia mengelola perbedaan pendapat. Dalam banyak situasi, menyampaikan ketidaksetujuan secara langsung dapat mengancam hubungan interpersonal.

Karena itu, penutur sering menggunakan strategi mitigasi seperti:

“Menurut saya mungkin bisa dipertimbangkan lagi,”

atau:

“Saya setuju sebagian, tetapi ada sedikit catatan.”

Tuturan semacam ini menunjukkan penghargaan terhadap opini mitra tutur.

Dalam perspektif Leech, opini bukan sekadar isi pikiran, tetapi juga bagian dari harga diri dan posisi sosial seseorang. Ketika pendapat seseorang ditolak secara kasar, yang terancam bukan hanya gagasannya, tetapi juga relasi interpersonal antara penutur dan mitra tutur.

Karena itu, tuturan seperti:

“Pendapatmu salah.”

cenderung dianggap kurang santun karena penutur menolak opini mitra tutur secara langsung dan tanpa mitigasi. Sebaliknya, tuturan seperti:

“Saya memahami sudut pandangnya, tetapi mungkin ada perspektif lain yang juga bisa dipertimbangkan.”

terasa lebih santun karena penutur tetap memberi ruang penghargaan terhadap pandangan lawan bicara sebelum menyampaikan perbedaan pendapat.

Dalam komunikasi sehari-hari, strategi kesantunan pada ranah opini sering diwujudkan melalui:

  • penggunaan kata-kata hedging seperti “mungkin”, “barangkali”, atau “menurut saya”;
  • pemberian persetujuan parsial sebelum menyampaikan kritik;
  • serta pengurangan kesan memaksakan pendapat pribadi.

Misalnya, dalam diskusi kelas seorang mahasiswa mungkin berkata:

“Saya sebenarnya cukup setuju dengan pendapat tadi, tetapi mungkin data pendukungnya masih bisa diperkuat.”

Strategi seperti ini membuat ketidaksetujuan terasa lebih lunak dan dialogis.

Menariknya, ranah opini menunjukkan bahwa kesopanan bukan berarti menghindari perbedaan pendapat. Dalam banyak situasi akademik, profesional, maupun sosial, perbedaan pandangan justru penting dan diperlukan. Namun, menurut Leech, kesantunan muncul ketika perbedaan itu disampaikan dengan tetap menjaga penghargaan terhadap martabat dan posisi interpersonal mitra tutur.

Dengan demikian, ranah opini memperlihatkan bahwa bahasa bukan hanya alat menyampaikan gagasan, tetapi juga alat mengelola hubungan sosial di tengah kemungkinan konflik pemikiran.

2.5 Ranah Perasaan

Ranah perasaan berkaitan dengan emosi dan afek interpersonal. Ucapan belasungkawa, simpati, ucapan selamat, maupun usaha menahan emosi negatif termasuk bagian dari kesopanan.

Ketika seseorang berkata, “Turut berduka cita atas kehilangan Anda,” penutur sedang menunjukkan pengakuan terhadap perasaan mitra tutur.

Dalam perspektif Leech, kesopanan tidak hanya menyangkut kepentingan praktis atau perbedaan pendapat, tetapi juga kemampuan manusia menghargai kondisi emosional orang lain. Oleh karena itu, bahasa sering digunakan untuk menunjukkan empati, kepedulian, dan solidaritas afektif.

Tuturan seperti:

“Selamat atas kelulusannya. Saya ikut senang mendengarnya.”

atau:

“Semoga Anda segera pulih dan diberi kesehatan.”

dianggap santun karena penutur memberi perhatian terhadap pengalaman emosional mitra tutur. Dalam konteks ini, penutur tidak sedang mencari keuntungan pribadi, melainkan menunjukkan keterlibatan emosional secara interpersonal.

Sebaliknya, ketidakpedulian terhadap perasaan orang lain dapat dianggap kurang santun. Misalnya, ketika seseorang mengalami musibah lalu lawan bicaranya merespons secara dingin atau mengabaikan situasi tersebut, hubungan interpersonal dapat terasa renggang karena tidak ada pengakuan terhadap emosi yang sedang dialami mitra tutur.

Ranah perasaan juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi negatif diri sendiri. Dalam banyak situasi, seseorang sebenarnya merasa marah, kecewa, atau tersinggung, tetapi memilih mengekspresikannya secara lebih terkendali demi menjaga hubungan sosial.

Misalnya, daripada berkata:

“Saya benar-benar kesal dengan sikapmu!”

penutur mungkin memilih:

“Saya agak kecewa dengan situasi tadi, tetapi mungkin kita bisa membicarakannya baik-baik.”

Strategi seperti ini menunjukkan bahwa kesantunan tidak selalu berarti menyembunyikan emosi, melainkan mengelola ekspresi emosi agar tidak terlalu mengancam kenyamanan mitra tutur.

Menariknya, ranah perasaan memperlihatkan bahwa bahasa memiliki fungsi afektif yang sangat kuat. Bahasa bukan hanya alat menyampaikan informasi, tetapi juga sarana membangun empati, menunjukkan kepedulian, dan menjaga kehangatan relasi sosial. Dalam kerangka Leech, kemampuan menghargai dan mengelola perasaan inilah yang menjadi salah satu fondasi penting kesantunan berbahasa.

3. 10 Maksim dalam Prinsip Kesopanan Leech

Karena setiap ranah memiliki dua orientasi—memberi nilai tinggi kepada mitra tutur dan memberi nilai rendah kepada diri sendiri—Leech mengembangkan sepuluh maksim kesopanan.

Dalam ranah keinginan terdapat Maksim Kedermawanan dan Maksim Kearifan. Maksim ini berkaitan dengan bagaimana penutur mengurangi keuntungan diri sendiri dan meminimalkan beban bagi orang lain.

Dalam ranah evaluasi terdapat Maksim Pujian dan Maksim Kerendahan Hati. Penutur dianggap santun ketika lebih mudah memuji orang lain daripada membanggakan dirinya sendiri.

Dalam ranah kewajiban terdapat Maksim Kewajiban Penutur dan Maksim Pengurangan Tanggung Jawab Mitra Tutur. Maksim ini terlihat dalam ucapan terima kasih, permintaan maaf, dan respons terhadap keduanya.

Dalam ranah opini terdapat Maksim Kesepakatan dan Maksim Pengendalian Opini. Penutur berusaha menghargai pandangan orang lain dan mengurangi kesan memaksakan pendapat pribadi.

Sementara itu, dalam ranah perasaan terdapat Maksim Simpati dan Maksim Pengendalian Emosi. Kesopanan muncul ketika penutur menunjukkan empati kepada mitra tutur dan menahan luapan emosi negatif terhadap dirinya sendiri.

Melalui sepuluh maksim tersebut, Leech ingin menunjukkan bahwa kesopanan sebenarnya merupakan sistem interpersonal yang kompleks dan terstruktur.

3.1 Maksim Kedermawanan

Maksim Kedermawanan berkaitan dengan upaya penutur memberi nilai tinggi terhadap kepentingan mitra tutur. Dalam maksim ini, penutur cenderung mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan lebih mengutamakan kenyamanan orang lain.

Misalnya, seorang mahasiswa berkata kepada temannya:

“Biar saya saja yang mencetak tugas kelompoknya. Kamu pasti masih sibuk.”

Dalam konteks ini, penutur menempatkan dirinya sebagai pihak yang bersedia menanggung beban demi membantu mitra tutur. Tuturan tersebut dianggap santun karena menunjukkan kemurahan hati dan orientasi pada kepentingan orang lain.

3.2 Maksim Kearifan

Maksim Kearifan berkaitan dengan bagaimana penutur meminimalkan beban yang ditimbulkan kepada mitra tutur ketika meminta sesuatu.

Contohnya:

“Maaf, kalau tidak merepotkan, boleh saya minta waktunya sebentar?”

Tuturan tersebut muncul, misalnya, ketika seorang mahasiswa ingin berkonsultasi dengan dosen yang tampak sibuk. Penutur tidak langsung menyatakan keinginannya secara tegas, melainkan terlebih dahulu mengurangi potensi beban yang mungkin dirasakan lawan tutur. Strategi seperti ini menunjukkan kesantunan karena penutur sadar bahwa permintaannya dapat mengganggu kepentingan orang lain.

3.3 Maksim Pujian

Maksim Pujian muncul ketika penutur memberikan evaluasi positif terhadap mitra tutur. Dalam komunikasi sosial, pujian berfungsi memperkuat hubungan interpersonal dan meningkatkan penghargaan terhadap lawan bicara.

Misalnya:

“Presentasi Anda tadi sangat runtut dan mudah dipahami.”

Tuturan ini mungkin disampaikan seorang dosen kepada mahasiswa setelah presentasi kelas. Kesantunan muncul karena penutur memberi nilai positif terhadap kemampuan mitra tutur. Dalam perspektif Leech, semakin penutur mengangkat kualitas orang lain, semakin santun tuturan tersebut.

3.4 Maksim Kerendahan Hati

Jika Maksim Pujian berorientasi pada penghargaan terhadap orang lain, Maksim Kerendahan Hati berorientasi pada pengurangan penonjolan diri sendiri.

Contohnya:

“Ah, saya masih banyak belajar dibanding teman-teman yang lain.”

Tuturan ini dapat muncul ketika seseorang dipuji atas prestasinya. Alih-alih membanggakan diri, penutur justru merendahkan dirinya secara wajar. Dalam budaya Indonesia, strategi seperti ini sering dianggap sebagai bentuk kesantunan karena menghindari kesan sombong atau terlalu menonjolkan diri.

3.5 Maksim Kewajiban Penutur

Maksim Kewajiban Penutur berkaitan dengan pengakuan bahwa penutur memiliki utang sosial terhadap mitra tutur. Maksim ini tampak jelas dalam ucapan terima kasih dan permintaan maaf.

Misalnya:

“Terima kasih banyak atas bantuan Bapak. Saya benar-benar terbantu.”

Dalam konteks ini, penutur mengakui bahwa dirinya memperoleh manfaat dari tindakan mitra tutur. Dengan demikian, penutur memberi nilai tinggi terhadap kontribusi lawan bicara dan mengakui kewajiban moralnya untuk berterima kasih.

3.6 Maksim Pengurangan Tanggung Jawab Mitra Tutur

Maksim ini berkaitan dengan usaha mengurangi beban sosial yang mungkin dirasakan oleh mitra tutur.

Contohnya:

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan lagi.”

Tuturan ini dapat muncul sebagai respons terhadap permintaan maaf. Misalnya, seorang teman terlambat datang ke pertemuan dan meminta maaf. Respons tersebut menunjukkan bahwa penutur berusaha menghapus rasa bersalah atau utang sosial yang dirasakan mitra tutur. Dengan begitu, hubungan interpersonal tetap terjaga secara harmonis.

3.7 Maksim Kesepakatan

Maksim Kesepakatan berkaitan dengan usaha penutur memberi penghargaan terhadap opini mitra tutur dan meminimalkan pertentangan secara langsung.

Contohnya:

“Saya setuju dengan sebagian pendapatmu, meskipun mungkin ada sedikit hal yang perlu kita diskusikan lagi.”

Dalam konteks diskusi kelas atau rapat organisasi, penutur tidak langsung menolak pendapat lawan bicara. Ia terlebih dahulu membangun titik persetujuan sebelum menyampaikan perbedaan pandangan. Strategi seperti ini membuat ketidaksetujuan terasa lebih halus dan tidak terlalu mengancam hubungan sosial.

3.8 Maksim Pengendalian Opini

Maksim Pengendalian Opini muncul ketika penutur mengurangi kesan memaksakan pandangan pribadinya.

Misalnya:

“Menurut saya sih begitu, tapi mungkin saya juga bisa saja keliru.”

Tuturan ini menunjukkan bahwa penutur tidak memosisikan opininya sebagai kebenaran mutlak. Dalam komunikasi interpersonal, sikap seperti ini dianggap santun karena membuka ruang dialog dan menghargai kemungkinan adanya perspektif lain.

3.9 Maksim Simpati

Maksim Simpati berkaitan dengan kemampuan penutur menunjukkan empati terhadap kondisi emosional mitra tutur.

Contohnya:

“Turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Semoga keluargamu diberi ketabahan.”

Tuturan ini muncul dalam situasi duka cita. Penutur berusaha menunjukkan kepedulian terhadap perasaan mitra tutur. Dalam perspektif Leech, kesantunan tidak hanya menyangkut kepentingan praktis, tetapi juga pengakuan terhadap kondisi emosional orang lain.

3.10 Maksim Pengendalian Emosi

Maksim Pengendalian Emosi berkaitan dengan kemampuan penutur menahan luapan emosi negatif yang dapat mengganggu hubungan interpersonal.

Misalnya:

“Saya memang agak kecewa, tetapi saya memahami situasinya.”

Tuturan tersebut dapat muncul ketika seseorang menghadapi kegagalan kerja sama atau kesalahpahaman. Alih-alih meluapkan kemarahan secara langsung, penutur memilih mengendalikan ekspresi emosinya. Dalam kerangka Leech, tindakan ini dianggap santun karena mengurangi potensi ancaman terhadap kenyamanan dan perasaan mitra tutur.

4. Implikasi Teoretis

Berdasarkan pembacaan terhadap model Leech (2014), kesopanan dapat dipahami sebagai pengelolaan nilai interpersonal antara penutur dan mitra tutur. Dalam proses komunikasi, penutur melakukan pemberian nilai, pengurangan nilai, pengakuan nilai, dan negosiasi nilai sosial demi menjaga harmoni relasional.

Maka dari itu, teori Geoffrey Leech memberikan kontribusi besar dalam memahami hubungan antara bahasa dan relasi sosial. Kesopanan tidak lagi dipahami sekadar sebagai aturan etika berbicara, tetapi sebagai mekanisme interpersonal untuk menjaga keseimbangan hubungan antarmanusia melalui bahasa.

Melalui lima ranah kesopanan—keinginan, evaluasi, kewajiban, opini, dan perasaan—Leech menunjukkan bahwa komunikasi santun tidak hanya berkaitan dengan penggunaan kata-kata halus, tetapi juga dengan cara manusia mengelola kepentingan, penghargaan, utang sosial, perbedaan pendapat, dan emosi interpersonal.

Meski demikian, sepuluh maksim dari lima ranah tersebut mungkin belum sepenuhnya cukup untuk menjelaskan seluruh fenomena kesopanan dalam bahasa. Dalam perkembangan pragmatik modern, para peneliti mulai memperhatikan aspek lain seperti identitas sosial, otoritas pengetahuan, solidaritas kelompok, hingga komunikasi digital.

Namun, teori Prinsip Kesopanan Leech tetap sangat kuat sebagai kerangka inti pragmatik interpersonal. Lima ranah dan sepuluh maksim tersebut dapat dipahami sebagai core interpersonal value domains dalam komunikasi santun. Dengan kata lain, teori ini bukan daftar final seluruh bentuk kesopanan manusia, melainkan fondasi penting untuk memahami bagaimana manusia menjaga hubungan sosial melalui bahasa.

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *