Dalam dunia periklanan, copywriting sering dipandang sebatas “menulis kata-kata indah” atau “membuat slogan yang catchy.” Padahal, inti dari copywriting bukanlah kata-kata itu sendiri, melainkan bagaimana kata-kata tersebut mampu menyentuh hati dan pikiran audiens sehingga mereka terdorong untuk bertindak (membeli).
Masalah terbesar dalam iklan justru muncul ketika pesan tidak tepat sasaran. Bayangkan iklan susu untuk lansia ditulis dengan gaya bahasa remaja, atau iklan gawai anak muda menggunakan bahasa yang terlalu formal. Hasilnya? Audiens merasa tidak nyambung, iklan pun gagal. Di sinilah buyer persona menjadi kunci. Buyer persona membantu copywriter menulis seolah-olah sedang berbicara langsung dengan orang yang nyata, bukan dengan kerumunan anonim.
Apa Itu Buyer Persona dalam Copywriting?
Secara sederhana, buyer persona adalah representasi semifiktif dari audiens ideal, yang dibuat berdasarkan riset, data, dan observasi perilaku konsumen. Buyer persona digambarkan seperti tokoh nyata lengkap dengan nama, usia, pekerjaan, kebiasaan, masalah, hingga tujuan hidup.
Perbedaan penting yang perlu digarisbawahi di sini adalah:
- target market menggambarkan segmen pasar secara luas, misalnya: “Wanita 20–35 tahun, tinggal di kota besar, kelas menengah,”
- buyer persona mempersempitnya menjadi sosok konkret: “Rina, 20 tahun, mahasiswi di Yogyakarta. Suka skincare affordable, sering menonton review di TikTok, ingin tampil percaya diri meski budget terbatas.”
Dalam copywriting, buyer persona jauh lebih efektif dibanding target market. Sebab, ketika menulis, copywriter bisa membayangkan sedang bicara dengan “Rina,” bukan sekadar dengan “wanita 20–35 tahun.”
Pentingnya Buyer Persona dalam Copywriting
Menyusun buyer persona ibarat menyalakan lampu sorot dalam ruang gelap. Tanpa persona, copywriter hanya menebak-nebak apa yang harus ditulis. Dengan persona, pesan iklan bisa diarahkan tepat ke hati audiens. Ada empat alasan utama mengapa buyer persona begitu penting dalam copywriting.
1. Membuat Pesan Lebih Relevan
Ketika copywriter tahu siapa audiensnya, ia bisa memilih kata-kata yang relevan. Tidak lagi bicara secara umum, tetapi langsung menyentuh masalah nyata. Untuk Rina, persona mahasiswi dengan budget terbatas, iklan skincare yang menyebut “harga terjangkau” lebih mengena daripada sekadar klaim “produk premium.”
2. Mengatur Tone of Voice
Tone of voice adalah “suara” brand. Buyer persona menentukan apakah iklan harus memakai bahasa santai atau formal. Rina yang aktif di TikTok akan merasa lebih dekat dengan iklan yang menggunakan gaya kasual dan bahasa sehari-hari, bukan bahasa akademis yang kaku.
3. Mengurangi Pemborosan Iklan
Iklan tanpa persona sering salah sasaran. Bayangkan menjual skincare murah dengan iklan bergaya mewah: target audiens bingung, biaya promosi pun terbuang. Buyer persona mencegah hal ini dengan memfokuskan iklan hanya pada audiens yang tepat.
4. Memudahkan Kreativitas
Dengan persona, copywriter tidak lagi menulis untuk “wanita 20–35 tahun,” tapi untuk “Rina, mahasiswi 20 tahun yang ingin tampil percaya diri dengan budget terbatas.” Membayangkan sosok nyata membuat ide headline, caption, bahkan skrip iklan lebih mengalir.
Contoh Copy Iklan yang Sesuai dan yang Tidak Sesuai dengan Buyer Persona-nya
Perhatikan contoh iklan berikut.
Wajah kusam bikin minder pas ketemu teman kampus?
Padahal kamu sudah coba berbagai produk, tapi kebanyakan terlalu mahal atau malah bikin kulit makin berminyak.
Pakai GlowBright Serum, skincare lokal dengan harga ramah kantong mahasiswa, tapi tetap bikin kulit cerah dalam 7 hari.
Copy ini sesuai dengan persona Rina karena
- menyentuh masalah nyata (kulit kusam + budget terbatas);
- menggunakan bahasa kasual yang dekat dengan anak muda;
- menawarkan solusi yang relevan (skincare lokal, affordable, efektif).
Sementara itu, perhatikan contoh iklan berikut.
Ladies, sudah siap tampil elegan dengan perawatan kulit premium kelas dunia?
Kalau skincare kamu masih standar, jangan harap bisa tampil seperti selebriti internasional.
Gunakan Luxury Diamond Serum, produk eksklusif dengan formula impor terbaik, untuk tampil mewah dan berkelas.
Copy ini tidak sesuai karena:
- mengasumsikan audiens mencari produk premium (padahal Rina butuh affordable);
- menggunakan bahasa “eksklusif, mewah, selebriti” yang jauh dari realitas persona;
- menawarkan solusi yang tidak relevan dengan pain point Rina.
Elemen-Elemen Buyer Persona
Menyusun buyer persona tidak cukup hanya menuliskan usia dan jenis kelamin. Buyer persona harus dipahami dari dua sisi utama: demografis (siapa mereka secara kasat mata) dan psikologis (bagaimana mereka berpikir, merasa, dan berperilaku).
1. Aspek Demografis (Siapa Mereka?)
Aspek ini relatif mudah diidentifikasi karena bersifat kuantitatif dan kasat mata. Data demografis memberi gambaran “kerangka luar” dari siapa yang akan kita sasar.
Elemen yang bisa dicatat antara lain:
a. usia,
b. jenis kelamin,
c. tempat tinggal,
d. profesi/pendidikan,
e. pendapatan, dan
f. status pernikahan/keluarga.
Contoh:
Persona “Rina” adalah perempuan 25 tahun, mahasiswi di Yogyakarta, tinggal di kos, dengan budget bulanan terbatas.
Data ini memberi kita gambaran bahwa Rina adalah audiens muda, single, dengan daya beli yang terbatas.
2. Aspek Psikologis (Bagaimana Mereka Berpikir & Berperilaku?)
Bagian ini membuat persona lebih “hidup,” karena tidak hanya bicara angka, tapi juga motivasi, hambatan, dan kebiasaan.
- Masalah (Pain Points)
Apa yang membuat mereka frustrasi?
→ Rina: sulit menemukan skincare murah tapi cocok, takut produk hype tidak sesuai kulit. - Keinginan (Goals/Aspirasi):
Apa yang mereka inginkan untuk menyelesaikan masalah?
→ Rina: kulit sehat dan glowing tanpa bikin dompet kempes. - Kekhawatiran (Fears):
Apa yang mereka khawatirkan saat mencoba solusi?
→ Rina: skincare murah justru bikin breakout, khawatir salah pilih produk. - Gaya Hidup & Preferensi (Lifestyle):
Bagaimana keseharian, hobi, dan pola konsumsi informasi mereka?
→ Rina: aktif di TikTok & YouTube, suka review produk, sering ikut tren media sosial.
Studi Kasus: Richard dan Selly, Buyer Persona dari Apple
Deskripsi:
“Ada dua pekerja profesional bernama Richard (26) dan Selly (28), tinggal di Jakarta, berpenghasilan Rp12 juta per bulan. Mereka tidak terlalu paham teknologi, sedang mencari telepon yang berguna untuk rutinitas sehari-hari, pekerjaan, dan waktu rekreasi. Mereka juga ingin telepon berkualitas premium yang menonjolkan status. Smartphone ini dipercaya efisien sekaligus simbol status.”
Mari kita analisis buyer persona dari deskripsi ini:
1. Aspek Demografis
- Usia: 26 (Richard) dan 28 (Selly)
- Jenis kelamin: laki-laki dan perempuan
- Lokasi: Jakarta
- Profesi: pekerja profesional
- Pendapatan: Rp12 juta per bulan
- Status: dewasa muda, kemungkinan lajang atau pasangan muda (tidak dijelaskan, tapi bisa diasumsikan di kelas menengah perkotaan).
2. Aspek Psikologis
- Masalah (Pain Points): Tidak terlalu paham teknologi, takut salah pilih ponsel yang rumit atau tidak sesuai kebutuhan.
- Keinginan (Goals/Aspirasi): Mencari smartphone efisien untuk kerja, komunikasi, hiburan, sekaligus tampil premium.
- Kekhawatiran (Fears): Membeli ponsel mahal tapi fiturnya rumit atau mubazir.
- Gaya Hidup (Lifestyle): Profesional muda perkotaan, sibuk, butuh perangkat praktis, dan sensitif pada simbol status sosial.
Ringkasan
Dari sini terlihat bahwa Richard dan Selly bukan hanya ingin “ponsel bagus,” tetapi butuh solusi praktis yang mendukung pekerjaan sekaligus gengsi sosial. Inilah nilai (value) yang harus ditangkap copywriter saat menulis iklan.
Ringkasnya:
- buyer persona selalu diawali dari demografi (siapa orangnya);
- lalu diperdalam ke psikologi (apa masalah, keinginan, kekhawatiran, dan gaya hidupnya).
Dengan kombinasi keduanya, copywriter bisa menulis iklan yang lebih relevan, tepat sasaran, dan menyentuh aspek emosional audiens.
Contoh Copy Iklan untuk Richard dan Selly
Berikut tiga contoh copy iklan untuk buyer persona Richard (26) dan Selly (28), pekerja profesional Jakarta dengan gaji Rp12 juta/bulan, tidak terlalu paham teknologi, ingin smartphone efisien sekaligus premium sebagai simbol status.
Contoh I
Meeting padat, chat kerjaan menumpuk, tapi ponsel lama sering lemot?
Ribetnya lagi, aplikasi kerja suka crash saat dibutuhkan. Mau ganti ponsel, takut salah pilih yang ribet fiturnya, atau justru tidak mendukung rutinitas sibukmu.
Kenal,kan iPhone 6s—desain premium dengan performa efisien. Semua aplikasi kerja, hiburan, dan koneksi sosialmu jalan mulus, tanpa bikin pusing belajar teknologi rumit.
Mari kita bedah copy iklan di atas kalimat per kalimat, dan untuk menunjukkan mengapa sesuai dengan profil buyer persona Richard dan Selly.
“Meeting padat, chat kerjaan menumpuk, tapi ponsel lama sering lemot?”
- Richard & Selly adalah pekerja profesional di Jakarta → kesehariannya memang rapat (meeting), komunikasi intensif lewat chat kerjaan (WhatsApp, Telegram, email).
- Masalah mereka adalah smartphone lama yang tidak efisien → kalimat ini langsung menyorot pain point nyata: kebutuhan produktivitas tinggi, tapi perangkat tidak mendukung.
- Hal ini cocok dengan pain points persona: ponsel lama tidak mendukung rutinitas sibuk.
“Ribetnya lagi, aplikasi kerja suka crash saat dibutuhkan. Mau ganti ponsel, takut salah pilih yang ribet fiturnya, atau justru tidak mendukung rutinitas sibukmu.”
- Persona Richard & Selly “tidak terlalu paham teknologi” → mereka takut salah pilih smartphone dengan fitur ribet atau mubazir.
- Kalimat ini mengangkat kekhawatiran (fears) mereka: beli ponsel baru tapi justru tidak praktis.
- Hal ini sesuai dengan psikologis persona: cari perangkat yang user friendly tanpa harus “melek teknologi.”
“Kenalkan, iPhone 6s—desain premium dengan performa efisien. Semua aplikasi kerja, hiburan, dan koneksi sosialmu jalan mulus, tanpa bikin pusing belajar teknologi rumit.”
- Desain premium → memenuhi aspirasi mereka untuk punya smartphone sebagai simbol status.
- Performa efisien → solusi langsung atas pain point: aplikasi kerja yang crash dan ponsel lemot.
- Tanpa bikin pusing belajar teknologi rumit → menanggapi langsung kekhawatiran mereka yang tidak terlalu paham teknologi.
- Ini memadukan goals (praktis + premium) dan fears (takut ribet teknologi) dalam satu solusi yang relevan.
Ringkasnya, copy ini tepat sasaran karena:
- menggali masalah nyata (ponsel lemot, aplikasi crash);
- menyentuh kekhawatiran emosional (takut salah pilih ponsel ribet);
- menawarkan solusi yang pas (praktis, premium, efisien); dan
- selaras dengan aspirasi persona (simbol status, gaya profesional muda).
Contoh II
Ponselmu seharusnya bekerja secepat dirimu.
Sebagai profesional muda di Jakarta, kamu butuh smartphone yang praktis untuk kerja, rekreasi, sekaligus menunjukkan siapa dirimu.
iPhone 6s hadir dengan baterai tahan lama, layar premium, dan fitur smart assistant yang simpel dipakai, bahkan untuk yang tidak suka ribet teknologi.
Dipilih oleh lebih dari 10.000 eksekutif muda di Indonesia sebagai partner kerja dan gaya hidup mereka.
Dapatkan iPhone 6s hari ini di toko resmi atau online store terdekat.
Mari kita bedah copy di atas kalimat demi kalimat untuk menunjukkan bagaimana kesesuaiannya dengan buyer persona Richard & Selly (profesional muda di Jakarta, gaji Rp12 juta, sibuk, tidak terlalu paham teknologi, ingin smartphone premium sekaligus praktis).
“Ponselmu seharusnya bekerja secepat dirimu.”
- Persona mereka sibuk, jadwal padat, butuh perangkat yang setara dengan ritme kerja.
- Frasa “secepat dirimu” mencerminkan aspirasi efisiensi dan produktivitas.
- Nada elegan, tidak berlebihan, selaras dengan gaya komunikasi profesional muda.
“Sebagai profesional muda di Jakarta, kamu butuh smartphone yang praktis untuk kerja, rekreasi, sekaligus menunjukkan siapa dirimu.”
- Menyebut langsung segmen: profesional muda di Jakarta → sesuai dengan profil demografis Richard & Selly.
- Menyentuh tiga kebutuhan utama: kerja (produktif), rekreasi (hiburan), status (simbol diri).
- Sangat relevan dengan aspirasi mereka yang mencari perangkat serba guna.
“iPhone 6s hadir dengan baterai tahan lama, layar premium, dan fitur smart assistant yang simpel dipakai, bahkan untuk yang tidak suka ribet teknologi.”
- Baterai tahan lama → solusi bagi kesibukan mereka yang sering mobile.
- Layar premium → memenuhi aspirasi status sosial (simbol prestise).
- Fitur smart assistant yang simpel → mengatasi kekhawatiran mereka yang “tidak terlalu paham teknologi.”
- Semua manfaat ditulis dengan bahasa yang praktis, tidak teknis, sehingga mudah dipahami.
“Dipilih oleh lebih dari 10.000 eksekutif muda di Indonesia sebagai partner kerja dan gaya hidup mereka.”
- Social proof → meyakinkan dengan menyebut eksekutif muda, segmen yang sama dengan persona.
- Memberi rasa aman: “Kalau banyak profesional seperti saya pakai, berarti memang cocok.”
- Menguatkan citra sebagai perangkat premium + profesional.
“Dapatkan iPhone 6s hari ini di toko resmi atau online store terdekat.”
- Call to action jelas dan praktis.
- Sesuai dengan kebiasaan persona yang biasa belanja lewat channel resmi dan online (praktis, aman).
- Tidak terlalu bombastis (misalnya “diskon gede-gedean”), sehingga tetap sejalan dengan tone premium.
Iklan ini sangat sesuai dengan persona Richard & Selly karena hal-hal berikut.
- Menyebut langsung segmen mereka (profesional muda di Jakarta).
- Menggambarkan masalah & aspirasi (butuh praktis, status premium, tidak ribet teknologi).
- Menawarkan fitur relevan (baterai tahan lama, layar premium, smart assistant simpel).
- Menggunakan social proof tepat sasaran (10.000 eksekutif muda).
- Memakai tone premium namun mudah dipahami, cocok untuk profesional sibuk yang butuh praktis.
Contoh III
Pagi hari Richard terburu-buru berangkat kerja, masih harus cek jadwal meeting sambil pesan taksi online. Di sela jam kantor, Selly membuka file presentasi di ponselnya sambil menikmati kopi. Malamnya, mereka berdua menonton film favorit langsung dari layar smartphone tanpa buffering. Dengan iPhone 6s, hidup profesional di Jakarta terasa lebih mudah: praktis untuk kerja, menghibur saat istirahat, dan tetap elegan saat ditenteng di ruang rapat. Bukan sekadar alat komunikasi, tapi simbol status yang bikin mereka percaya diri.
Mari kita analisis iklan di atas kalimat demi kalimat untuk melihat kesesuaiannya dengan profil buyer persona Richard & Selly.
“Pagi hari Richard terburu-buru berangkat kerja, masih harus cek jadwal meeting sambil pesan taksi online.”
- Sangat sesuai dengan gaya hidup profesional muda Jakarta → kerja sibuk, mobilitas tinggi, sering pakai transportasi online.
- Menyorot pain point mereka: butuh perangkat cepat dan praktis saat multitasking (cek meeting + pesan taksi).
“Di sela jam kantor, Selly membuka file presentasi di ponselnya sambil menikmati kopi.”
- Relevan dengan kebutuhan produktif & efisien di tempat kerja.
- Menunjukkan bahwa smartphone adalah perangkat kerja utama, bukan sekadar alat komunikasi.
- Juga memperlihatkan gaya hidup profesional muda perkotaan (nongkrong/coffee break).
“Malamnya, mereka berdua menonton film favorit langsung dari layar smartphone tanpa buffering.”
- Menunjukkan fungsi hiburan (goals persona: kerja + rekreasi).
- Menjawab kebutuhan praktis: hiburan lancar tanpa ribet teknologi.
- Relevan dengan aspirasi mereka yang mencari perangkat “serba bisa.”
“Dengan SmartPhone X Pro, hidup profesional di Jakarta terasa lebih mudah: praktis untuk kerja, menghibur saat istirahat, dan tetap elegan saat ditenteng di ruang rapat.”
- Frasa “hidup profesional di Jakarta” → langsung menyebut konteks persona.
- Menekankan tiga nilai utama: praktis (efisiensi), menghibur (lifestyle), elegan (status).
- Cocok dengan goals dan aspirasi mereka: perangkat kerja + simbol status sosial.
“Bukan sekadar alat komunikasi, tapi simbol status yang bikin mereka percaya diri.”
- Mengangkat sisi psikologis persona: smartphone bukan hanya soal fungsi, tetapi juga gengsi dan identitas sosial.
- Selaras dengan brand positioning yang ingin dilihat sebagai premium dan prestisius.
Iklan berupa storytelling ini sesuai karena alasan-alasan berikut.
- Menggambarkan rutinitas nyata profesional muda (kerja, mobilitas, hiburan).
- Menjawab pain points mereka (butuh praktis, takut ribet teknologi).
- Menyentuh aspirasi emosional (status, percaya diri, gaya hidup elegan).
- Menggunakan gaya bahasa naratif yang membumi, seolah menceritakan kehidupan Richard & Selly sehari-hari.
Contoh IV
Transkrip:
This is iPhone 6s.
Not much has changed, except it responds to the pressure of your finger.
So you can peek into stuff and pop stuff open, which changes how you play a song, read a text, read an email, read the news…Wait, you read the news? Yep, of course you do.
Now you can change apps like this.
Pay at more places like this.
And the new color looks like this — it’s rose gold. It’s awesome.And Siri is more helpful than ever.
“Hey Siri, show me photos of Torini.”
“Here are some images of Torini.”The camera shoots 4K video now, which changes how your movies look. Nice.
Even selfies have changed. Now your screen is the flash. That’s going to get, like, a million likes. Thanks.
Actually, photos themselves have changed. They move now, you just touch them.
So yeah, that’s what’s changed.
Narasi iklan menekankan pada poin-poin berikut.
- Sederhana tapi berubah besar: “Not much has changed, except…” → menekankan evolusi natural, bukan kompleksitas.
- Kemudahan interaksi: “responds to the pressure of your finger,” “peek and pop” → mengurangi kerumitan teknologi.
- Fitur relevan sehari-hari: baca email, baca berita, ganti aplikasi, bayar di lebih banyak tempat.
- Lifestyle & status: warna baru (rose gold) sebagai simbol gaya; selfie dan 4K video → gaya hidup sosial media.
- Personal assistant: Siri lebih helpful → mendukung produktivitas tanpa ribet.
Pemetaan Kesesuaian:
| Buyer Persona (Richard & Selly) | Isi Iklan iPhone 6s | Kesesuaian |
| Tidak terlalu paham teknologi, takut ribet | “Not much has changed, except…” + fitur 3D Touch dijelaskan simpel | Menenangkan audiens bahwa teknologi ini mudah dipakai meski baru. |
| Butuh efisiensi kerja (meeting, email, berita, pembayaran) | Fitur: baca email, baca berita, multitasking, Apple Pay | Sesuai dengan rutinitas profesional muda → praktis untuk kerja & kebutuhan sehari-hari. |
| Ingin smartphone sebagai simbol status premium | Warna Rose Gold, kamera 4K, selfie flash | Memberi prestige factor yang sesuai aspirasi mereka. |
| Lifestyle perkotaan (sibuk kerja, sekaligus rekreasi digital) | Fitur hiburan: foto, video, news, musik, sosial media | Mencakup keseharian mereka di dalam & luar kantor. |
| Goals: perangkat serba bisa tanpa ribet | Siri yang lebih helpful, multitasking mudah | Menjawab aspirasi mereka: smartphone sebagai personal assistant. |
Marketing Angle: Target Iklan di Sekitar Buyer Persona
Selain buyer persona, dalam praktik copywriting juga dikenal istilah marketing angle. Konsep ini penting dipahami karena dalam banyak kasus, yang menjadi target iklan bukanlah pengguna akhir produk, melainkan orang-orang di sekitarnya yang punya kepentingan emosional atau daya beli.
Misalnya, sebuah produk susu tinggi kalsium ditujukan untuk lansia. Secara logis, buyer persona produk ini adalah orang tua atau kakek-nenek yang membutuhkan nutrisi tambahan untuk menjaga kesehatan tulang.
Namun, sering kali justru bukan mereka yang terpapar langsung oleh iklan, melainkan anak-anak mereka. Anak-anak inilah yang lebih aktif mengakses media sosial, lebih peduli pada kesehatan orang tua, dan lebih mampu mengambil keputusan pembelian. Dalam hal ini, anak-anak dari lansia itulah yang berperan sebagai marketing angle.
Contoh nyata bisa dilihat pada iklan Anlene. Buyer persona-nya jelas: lansia yang butuh tetap aktif dan sehat. Tetapi marketing angle-nya adalah anak dewasa yang ingin memastikan orang tuanya tetap kuat untuk bermain bersama cucu.
Profilnya bisa digambarkan seperti Susi, seorang ibu muda (35 tahun) dengan dua anak kecil dan orang tua lanjut usia yang masih ingin aktif bersama cucu-cucunya. Susi merasa khawatir melihat kondisi tulang orang tuanya yang mulai rapuh. Dari sinilah lahir kebutuhan akan solusi berupa susu tinggi kalsium.
Copywriting yang tepat untuk marketing angle ini bukan sekadar bicara pada lansia, tetapi pada perasaan anak sebagai “penjaga” kesehatan orang tua. Perhatikan contoh berikut.
Apakah orang tua Anda merasa semakin lemah dan sulit bergerak seiring bertambahnya usia? Kita semua ingin orang tua tetap sehat dan kuat, terutama saat mereka menghabiskan waktu berharga dengan cucu-cucu mereka. Perkenalkan Anlene, susu tinggi kalsium dengan nutrisi lengkap yang menjaga kekuatan tulang tanpa khawatir gula darah meningkat. Dengan Anlene, orang tua Anda bisa tetap aktif dan sehat, siap menemani cucu-cucu mereka bermain setiap hari.
atau video berikut:
Iklan ini tidak berbicara langsung pada lansia, tetapi pada anak dewasa yang peduli pada kesehatan orang tuanya. Dengan begitu, pesan terasa lebih emosional, lebih relevan, dan lebih kuat mendorong keputusan pembelian.
Singkatnya,
- buyer persona = siapa pengguna langsung produk;
- marketing angle = pihak lain yang terlibat dalam pengambilan keputusan atau memiliki kepedulian emosional.
Dengan memahami keduanya, seorang copywriter bisa menyusun strategi iklan yang lebih komprehensif. Tidak semua iklan harus selalu diarahkan pada pemakai langsung; kadang justru marketing angle-lah yang lebih efektif disentuh.
Penutup
Buyer persona adalah fondasi penting dalam copywriting yang membuat pesan iklan lebih tajam, relevan, dan persuasif. Tanpa persona, iklan hanya teriak di tengah kerumunan. Dengan persona, iklan berubah menjadi percakapan personal.
Membangun buyer persona memang butuh waktu dan riset, tetapi hasilnya sebanding. Iklan jadi lebih tepat sasaran, biaya lebih efisien, dan konsumen merasa benar-benar dipahami.
Seperti kata Seth Godin: “Don’t find customers for your products, find products for your customers.” Dengan buyer persona, copywriter bisa memastikan produk dan pesan iklan menyatu dengan kebutuhan nyata audiens.
Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti | Gambar: Freepik
