frame framing bingkai pembingkaian

Berita bukanlah cermin realitas yang netral karena hasil konstruksi. Media memilih, menekankan, dan mengabaikan aspek tertentu dari sebuah peristiwa. Dalam kajian wacana, hal ini disebut pembingkaian atau framing. Dengan memahami bingkai (frame) dan pembingkaian, kita akan lebih kritis melihat bagaimana media membentuk cara kita berpikir tentang isu sosial, politik, ekonomi, maupun budaya.

Pan & Kosicki (1993) menawarkan kerangka yang sangat berguna untuk menganalisis pembingkaian dalam teks berita. Mereka memandang framing bukan hanya soal “isi berita,” tetapi juga soal struktur bahasa dan wacana yang digunakan untuk menyampaikan pesan.

Bingkai (Frame

Dalam era informasi yang serba cepat, media menjadi sumber utama bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Namun, apa yang kita baca, dengar, atau tonton melalui media tidak selalu merupakan representasi langsung dari realitas. 

Salah satu konsep penting yang memengaruhi cara media menyajikan berita adalah bingkai atau frame. Bingkai tidak hanya memberikan struktur bagi teks berita, tetapi juga menentukan bagaimana peristiwa dipersepsikan oleh pembaca. Kali ini, kita akan membahas apa itu bingkai dalam teks berita, bagaimana penerapannya, dan dampaknya terhadap pemahaman publik.

Pengertian Bingkai (Frame)

Bingkai atau frame merupakan salah satu konsep penting dalam analisis teks media secara kritis. Secara umum, bingkai dipahami sebagai pengetahuan tentang konsep atau knowledge about concept (Renkema, 2004: 236), yang berfungsi untuk mengarahkan cara individu memahami realitas. 

Bingkai ibarat kerangka sepeda. Ada titik-titik untuk tempat duduk, kemudi, porok, as roda depan dan belakang, gir, pengayuh, dan sebagainya. Titik-titik itu terhubung dan membentuk sebuah kerangka. 

Bingkai merupakan struktur hierarkis dengan nodes (titik-titik) beserta hubungan-hubungannya. Renkema (2004) mengemukakan contoh bingkai tentang seagull (burung camar) yang didiagramkan sebagai berikut (● adalah bagian yang bersifat tetap, sedangkan □ adalah bagian yang bersifat variabel). 

Diagram di atas memperlihatkan bahwa seseorang yang mempunyai bingkai tentang seagull (camar) memiliki pengetahuan konseptual tentang bird (burung) dengan habitat (tempat hidup), nourishment (makanan), size (ukuran), dan color (warna) tertentu. Di dalamnya termasuk dua kemungkinan warna seagull, yaitu gray-white (putih kelabu) dan brown (coklat). 

Jadi, tentang seagull, orang yang memiliki bingkai di atas tahu: habitatnya di laut, makanannya ikan, ukurannya sedang, warnanya bisa putih kelabu atau cokelat, dll. Jika ada kalimat “A gray-white bird flew away over the sea”, pembaca/pendengar tidak perlu dijelaskan panjang-lebar bahwa itu adalah seagull. Frame yang ada di benak mereka langsung menghubungkan informasi parsial (gray-white + sea), lalu menyimpulkan bahwa ini pasti seagull (Renkema, 2004: 237).

Artinya, teks tidak harus menjelaskan semua detail. Mitra bicara akan mengisi yang kosong dengan pengetahuan frame yang mereka miliki. Bingkai memungkinkan kita memahami teks dengan informasi yang terbatas, karena otak otomatis melengkapi detail berdasarkan struktur pengetahuan yang sudah kita punya.

Misalnya, dalam berita demo buruh, wartawan bisa hanya menulis, “Aksi massa membuat jalan tol lumpuh.” Pembaca yang punya frame tentang demo buruh otomatis mengisi bayangan: buruh marah, teriak-teriak, ada orasi, mungkin ada bentrokan. Padahal, fakta detail mungkin berbeda, tapi frame pembaca membuat mereka langsung punya gambaran tertentu walau teks tidak menyebut semuanya.

Bingkai dalam Teks Berita

Dalam teks berita, bingkai berperan dalam menentukan bagaimana informasi disajikan dan diinterpretasikan oleh media. Elemen-elemen berita seperti 5W1H (Who, What, Where, When, Why, dan How) merupakan informasi faktual yang disajikan oleh wartawan. 

Namun, bingkai menentukan sudut pandang atau narasi apa yang akan digunakan untuk menyajikan fakta tersebut. Dengan kata lain, bingkai tidak hanya memilih informasi apa yang akan disampaikan, tetapi juga bagaimana informasi tersebut akan dipersepsikan oleh pembaca.

Sebagai contoh, dalam pemberitaan tentang demonstrasi buruh, 5W1H akan memberikan informasi dasar tentang siapa yang terlibat (buruh), apa yang terjadi (demonstrasi), dan mengapa hal itu terjadi (tuntutan upah layak). 

Namun, bingkai yang digunakan oleh media akan memengaruhi bagaimana pembaca memandang peristiwa tersebut. Bingkai pro buruh mungkin menggambarkan buruh sebagai pejuang hak, sementara bingkai kontra buruh dapat menggambarkan mereka sebagai pengganggu ketertiban umum.

Jika kembali ke analogi tentang seagull. Dalam konteks ini

  • seagull adalah peristiwa yang dilaporkan, misalnya demonstrasi buruh; dan
  • pengetahuan konseptual tentang seagull adalah bingkai yang dimiliki oleh wartawan atau media tentang demonstrasi buruh, dan ini akan memengaruhi bagaimana wartawan menyusun berita berdasarkan 5W1H.

5W1H memberikan fakta-fakta dasar tentang demonstrasi. Bingkai menentukan bagaimana wartawan menyajikan informasi tersebut.

Dengan kata lain, 5W1H adalah informasi faktual tentang demonstrasi, sedangkan bingkai menentukan sudut pandang atau narasi apa yang diambil oleh media dalam menyampaikan fakta-fakta tersebut.

Pembingkaian (Framing)

Pembingkaian atau framing pada dasarnya adalah cara media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari sebuah peristiwa untuk kemudian disajikan kepada audiens. Tidak semua fakta di lapangan masuk ke dalam berita, dan yang dipilih untuk dimunculkan biasanya bukanlah sesuatu yang netral. Proses seleksi dan penekanan inilah yang disebut framing.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan secara mendalam oleh Erving Goffman (1974) melalui karyanya Frame Analysis. Goffman menjelaskan bahwa setiap orang memahami realitas melalui bingkai tertentu yang membentuk cara kita melihat dunia. 

Dalam ranah media, bingkai ini bekerja ketika jurnalis atau redaksi memutuskan bagian mana dari sebuah peristiwa yang akan diberitakan dan bagaimana hal itu akan diceritakan. Selanjutnya, gagasan ini dikembangkan oleh Todd Gitlin (1980) dalam analisisnya terhadap liputan media tentang gerakan mahasiswa di Amerika, dan oleh William Gamson (1989) yang menekankan bagaimana frame berperan dalam pembentukan opini publik.

Peran pembingkaian sangatlah penting karena framing menyusun realitas. Publik tidak hanya menerima informasi, melainkan diarahkan untuk melihat peristiwa melalui kacamata tertentu. Dengan kata lain, framing bukan sekadar masalah teknis dalam penyusunan berita, tetapi juga berkaitan dengan ideologi, kepentingan politik, dan bahkan orientasi ekonomi dari media.

Misalnya, sebuah demonstrasi buruh bisa diberitakan dengan dua cara yang sama-sama benar dari segi fakta, tetapi berbeda secara makna. Judul “Buruh Ricuh di Jalan Tol” menekankan aspek kerusuhan dan membuat buruh dipersepsikan sebagai pengganggu ketertiban. 

Sementara itu, judul “Buruh Tuntut Keadilan di Jalan Tol” menekankan aspek perjuangan hak, sehingga buruh diposisikan sebagai korban ketidakadilan yang sedang berusaha memperjuangkan nasibnya. Faktanya sama: ada demo buruh. Tetapi, bingkai yang dipakai membuat publik menangkap makna yang berbeda.

Dengan memahami konsep dasar ini, mulai disadari bahwa berita bukan cermin murni dari realitas, melainkan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Empat Struktur Analisis Framing

Pan dan Kosicki (1993) menawarkan sebuah kerangka analisis yang sangat berpengaruh dalam studi framing. Mereka melihat pembingkaian bukan sekadar pilihan judul atau sudut pandang, melainkan sebuah struktur wacana yang dibangun secara sistematis dalam teks berita. Ada empat struktur utama yang bisa kita gunakan untuk membaca bagaimana frame dibentuk, yaitu struktur (1) sintaksis, (2) skrip, (3) tematik, dan (4) retoris.

Struktur Sintaksis dalam Analisis Framing

Struktur sintaksis berhubungan dengan cara penyusunan berita dalam bentuk piramida terbalik: headline (judul), lead (teras berita), episode/tubuh berita, background (latar belakang), hingga penutup. Susunan ini bukan sekadar aturan teknis jurnalistik, melainkan juga membentuk frame tertentu dalam benak pembaca.

  • Headline atau judul adalah perangkat framing paling kuat karena langsung mengarahkan pembaca pada sudut pandang tertentu.
  • Lead atau teras berita memperkuat angle berita, menunjukkan sisi mana yang dianggap paling penting.
  • Tubuh berita dan episode berisi detail peristiwa yang sudah diseleksi.
  • Background atau latar memberi konteks, tetapi juga bisa dipakai untuk menekankan atau melemahkan isu tertentu.
  • Penutup biasanya menjadi bagian yang kurang menonjol, sehingga jarang dipakai sebagai pembentuk frame utama.

Sebagaimana dijelaskan Pan & Kosicki, struktur sintaksis di sini tidak hanya soal urutan kata dalam kalimat, melainkan pola penyusunan teks berita secara keseluruhan (macrosyntax, menurut van Dijk). Pada pola piramida terbalik, semakin ke atas posisi informasi, semakin besar pula kekuatannya dalam membentuk frame.

Contoh sederhana: jika dalam judul berita ditulis “Buruh Macetkan Jalan Tol, Ibu Hamil Menjerit,” fokus langsung diarahkan pada dampak buruk aksi buruh. Sebaliknya, jika judulnya berbunyi “Ribuan Buruh Tuntut Pesangon yang Belum Dibayar,” bingkai  yang muncul menekankan perjuangan buruh melawan ketidakadilan. Faktanya sama, tetapi maknanya berubah tergantung bagaimana struktur teksnya disusun.

Selain itu, ada pula konvensi profesional dalam jurnalisme yang terlihat netral tetapi sesungguhnya dapat menjadi strategi framing. Misalnya:

  • mengutip ahli atau data empiris → seolah memberi validitas objektif;
  • mengutip pejabat atau otoritas → memberi legitimasi pada sudut pandang resmi; dan
  • mengutip kelompok “penyimpang sosial” (misalnya disebut “perusuh” atau “oknum”) → memberi kesan negatif sekaligus memarginalkan pandangan kelompok tersebut.

Artinya, walaupun berita tampak objektif, pemilihan siapa yang dikutip dan bagaimana ia ditempatkan dalam struktur teks sudah merupakan bentuk framing.

Contoh nyata bisa dilihat pada berita demo buruh. Jika sebuah media menulis judul “Buruh Rusuh, Jalan Tol Lumpuh” dan hanya mengutip keterangan dari Kapolda, frame yang muncul adalah legitimasi negara sekaligus delegitimasi buruh. 

Sebaliknya, bila judul diganti “Buruh Menuntut Pesangon yang Belum Dibayar” dan dalam tubuh berita juga diberi ruang bagi suara serikat buruh, frame yang terbentuk adalah perjuangan buruh melawan ketidakadilan.

Dengan demikian, struktur sintaksis bukan sekadar kerangka penulisan berita, melainkan perangkat penting yang digunakan media untuk mengarahkan cara pembaca memahami suatu peristiwa.

Struktur Skrip dalam Analisis Framing

Selain struktur sintaksis, berita juga memiliki struktur skrip. Konsep ini berangkat dari anggapan bahwa berita sering diperlakukan seperti sebuah cerita. Setiap berita memiliki alur yang bisa dikenali: ada tokoh, peristiwa, konflik, bahkan klimaks. Dengan kata lain, wartawan berperan bukan hanya sebagai penyampai fakta, tetapi juga sebagai pencerita (storyteller).

Menurut Schank & Abelson (1977), skrip adalah urutan aktivitas atau komponen peristiwa yang sudah tersimpan dalam memori kita sebagai pola tetap. Dalam wacana berita, skrip itu biasanya terwujud melalui rumus jurnalisme yang sangat kita kenal: 5W + 1H (who, what, when, where, why, how). Walau tidak selalu lengkap dalam setiap berita, kategori ini memberi kesan bahwa berita menyajikan informasi yang utuh: ada awal, puncak, hingga akhir.

Contoh, dalam berita demo buruh, skripnya bisa disusun seperti ini.

  • Who → buruh PT X dan aparat kepolisian.
  • What → demonstrasi menuntut pesangon.
  • When → Selasa siang.
  • Where → depan kantor Depnaker.
  • Why → perusahaan menolak membayar pesangon sesuai putusan pengadilan.
  • How → buruh menutup jalan, polisi membubarkan massa.

Dengan skrip seperti ini, pembaca merasa mendapatkan cerita yang lengkap dan logis, padahal informasi yang dipilih bisa jadi hanya sebagian dari fakta.

Pan & Kosicki mengingatkan bahwa skrip dalam berita bukanlah sesuatu yang netral. Urutan penyajian 5W + 1H bisa diarahkan untuk menekankan drama, emosi, atau konflik, sehingga berita tampak lebih personal, terfragmentasi, bahkan sensasional. 

Misalnya, berita bisa lebih menonjolkan “adegan bentrokan” ketimbang alasan demonstrasi. Akibatnya, publik lebih mengingat “kerusuhan” ketimbang “tuntutan pesangon.”

Analogi sederhananya: wartawan sama seperti penulis novel atau film. Ia memilih bagian mana yang dijadikan adegan utama dan mana yang hanya sekadar latar. Karena itu, struktur skrip juga menjadi perangkat framing: ia menentukan apakah suatu berita akan tampak sebagai drama, tragedi, perjuangan, atau sekadar kekacauan.

Struktur Tematik dalam Analisis Framing

Jika struktur sintaksis dan skrip lebih menekankan pada cara menyusun berita sebagai cerita, struktur tematik berbicara tentang bagaimana isu dan argumen utama sebuah berita dibangun. 

Pan & Kosicki menyebutnya sebagai aspek “hipotesis” dari wacana berita. Berita tidak hanya menyajikan peristiwa, tetapi juga menawarkan gagasan sentral (theme) yang didukung oleh bukti, kutipan, atau data.

Dengan kata lain, setiap teks berita, sadar atau tidak, sedang menguji suatu hipotesis. Misalnya: “Kenaikan BBM adalah langkah tak terhindarkan demi menyelamatkan APBN.” Ini adalah klaim tematik yang kemudian diperkuat dengan kutipan pejabat, data subsidi, dan narasi tentang “beban APBN.”

Berita tidak sekadar “mengabarkan fakta,” tetapi membangun kerangka logis yang membuat pembaca menerima klaim tertentu sebagai masuk akal.

Salah satu ciri khas struktur tematik adalah hubungan sebab-akibat atau kausalitas. Hal ini bisa eksplisit, misalnya dengan kata karena, akibatnya, jika-maka, atau implisit melalui urutan peristiwa.

Contoh: “Harga minyak dunia naik, sehingga pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM dalam negeri.” 

Kalimat seperti ini membuat pembaca melihat kenaikan harga BBM sebagai sesuatu yang wajar, bahkan niscaya.

Dalam liputan tentang kenaikan harga BBM (KRJogja, 2022), tema utamanya adalah “subsidi salah sasaran.” Kutipan Presiden Jokowi bahwa “70% subsidi justru dinikmati pemilik mobil pribadi” berfungsi sebagai bukti empiris yang memperkuat klaim tersebut. 

Subtema lain, seperti penyediaan BLT, hanya dipakai untuk memperkuat kesan bahwa kebijakan pemerintah tetap berpihak pada rakyat kecil.

Dalam berita demo buruh, tema bisa diarahkan pada “aksi buruh menyebabkan kerusuhan”. Maka, isi berita dipenuhi dengan detail tentang macet, ibu hamil terjebak, atau bentrokan. 

Namun, tema alternatif bisa saja berbunyi: “buruh menuntut hak pesangon yang diabaikan.” Jika tema ini dipilih, bukti yang ditonjolkan tentu berbeda: data jumlah buruh di-PHK, kutipan serikat pekerja, dan putusan pengadilan yang tidak ditegakkan.

Dari sini jelas bahwa tema sangat memengaruhi framing. Berita bisa tampak sangat berbeda tergantung pada hipotesis atau klaim yang dipilih sebagai pusat narasi.

Dengan memahami struktur tematik, kita dapat melihat bahwa berita tidak pernah sekadar kumpulan fakta acak. Berita adalah sistem narasi yang terdiri dari tema utama, subtema, dan bukti pendukung. 

Pemilihan tema itu sendiri sudah merupakan tindakan ideologis yang menentukan siapa yang ditonjolkan, siapa yang dipinggirkan, dan kebenaran versi mana yang dianggap paling masuk akal.

Struktur Retoris dalam Analisis Framing

Kalau struktur sintaksis menekankan susunan berita, struktur skrip bicara tentang pola cerita, dan struktur tematik menunjukkan klaim utama sebuah teks, struktur retoris berhubungan dengan gaya bahasa dan perangkat persuasif yang dipakai wartawan untuk membuat berita lebih hidup, lebih meyakinkan, dan lebih mudah diterima pembaca.

Pan & Kosicki (1993) menekankan bahwa pilihan retoris tidak pernah netral. Cara wartawan memilih kata, metafora, atau gambar berfungsi sebagai alat framing yang menekankan sudut pandang tertentu.

Salah satu aspek retoris paling penting adalah pemilihan kata. Kata bukan sekadar tanda, melainkan alat kategorisasi. Misalnya:

  • Menyebut “demonstran” vs “perusuh” → menempatkan aktor dalam kategori moral yang berbeda.
  • Menyebut “pengungsi Rohingya” vs “imigran gelap” → memberi frame humanis vs kriminal.
  • Menyebut “freedom fighters” vs “pemberontak” → menunjukkan orientasi ideologis media.

Dengan kata lain, label yang dipilih wartawan adalah designator yang langsung mengisyaratkan frame.

Sebagai contoh, dalam berita tentang demo buruh, Media A menulis: “Buruh Macetkan Tol, Ibu Hamil Menjerit.” Ini adalah strategi retoris karena memilih kata macetkan dan menjerit untuk menggambarkan dampak buruk dari demo.

Struktur retoris menunjukkan bahwa berita bukan hanya soal isi, tetapi juga soal gaya. Metafora dan pilihan kata dipakai untuk memperkuat frame yang sudah dibentuk lewat struktur sintaksis, skrip, dan tema.

Memahami struktur retoris penting untuk belajar “membaca di balik kata”. Ada alasan dan penejelasan mengapa kata tertentu dipilih, mengapa gambar tertentu ditampilkan, dan bagaimana semuanya diarahkan untuk membangun makna tertentu di benak pembaca.

Contoh Analisis Bingkai dan Pembingkaian (Frame & Framing Analysis)

Perhatikan contoh berita berikut.

Pengamat Sebut MBG Harus Diperbaiki, Bukan Dihentikan

KASUS keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 22 dan 24 September 2025 di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program. Insiden tersebut tidak boleh menjadi alasan penghentian MBG, melainkan menjadi momentum memperkuat sistem pelaksanaan demi tercapainya tujuan peningkatan gizi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Dari 16 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, insiden hanya tercatat di dua kecamatan, sementara di wilayah lain program MBG tetap berjalan. Di SD Negeri 2 Cimareme, Kecamatan Ngamprah, misalnya, pihak sekolah menerapkan prosedur pengecekan makanan sebelum dibagikan kepada murid. “Guru-guru di sini selalu cek makanan itu satu-satu. Kalau ada yang basi, tidak diberikan ke murid,” ujar Siti, wali murid kelas 4.

Wali murid lain, Linda, menilai proses distribusi menjadi salah satu tantangan. “Kalau membuat makanan mulai pukul tiga dini hari lalu dibagikan jam 10 atau 11, makanan jadi dingin. Perlu diperbaiki supaya tidak mudah basi,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan MBG sangat membantu karena meringankan beban keluarga untuk menyediakan makan siang anak.

Sejumlah siswa juga memberikan tanggapan beragam. Aleyshia, murid kelas 3 di SD Negeri 2 Cimareme, mengatakan, “Tadi sudah makan burger.” 

Sementara itu, di SMK Negeri 4 Padalarang, Farid, murid kelas XI jurusan teknik elektro, menyebut MBG bermanfaat. 

“Selain menambah gizi, uang jajan dari rumah bisa kami sisihkan untuk ditabung,” ujarnya. 

Di sisi lain, siswa SMP Negeri 1 Padalarang yang belum menerima MBG berharap program ini segera hadir di sekolah mereka.

Pakar kebijakan publik Universitas Pasundan, Bandung, Eki Baehaki, menilai kasus keracunan harus menjadi alarm peringatan.

“Sepiring makan bergizi gratis di sekolah adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan. Namun, niat mulia bisa runtuh oleh tata kelola yang rapuh. Program MBG harus terus dilanjutkan, tetapi dengan perbaikan tata kelola yang radikal,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (28/9).

Menurut Eki, prinsip keamanan pangan harus dijalankan lebih ketat, mulai dari menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak dengan benar, menyimpan pada suhu aman, hingga memastikan kualitas bahan baku.

“Program MBG adalah investasi besar. Tanpa tata kelola yang disiplin, investasi ini bisa berubah menjadi kerugian kesehatan, hilangnya kepercayaan publik, dan kegagalan politik. Jalan selamat bagi MBG adalah revitalisasi sistem pengelolaannya,” tegasnya. (E-4)

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/815452/pengamat-sebut-mbg-harus-diperbaiki-bukan-dihentikan 

Berita mengenai kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandung Barat tidak diberitakan semata sebagai tragedi atau kegagalan. Sejak judul, berita ini diarahkan untuk membentuk pemahaman bahwa masalah tersebut seharusnya menjadi momentum perbaikan, bukan alasan untuk menghentikan program. 

Dengan kata lain, frame utama yang dibangun wartawan adalah “MBG dilanjutkan”.

Struktur Sintaksis

Secara sintaksis, berita ini disusun dengan pola piramida terbalik. Judul langsung menekankan solusi (“harus diperbaiki, bukan dihentikan”), bukan masalahnya. Teras juga memuat pesan normatif bahwa insiden menjadi alarm evaluasi. 

Rangkaian isi berita mengalir dari fakta keracunan di dua kecamatan, lalu memperluas narasi ke wilayah lain yang berhasil, disertai testimoni orang tua murid dan siswa yang merasa terbantu, hingga pendapat pakar yang mempertegas urgensi perbaikan tata kelola. Urutan ini menuntun pembaca pada kesimpulan bahwa MBG tetap penting dan layak dilanjutkan.

Struktur Skrip

Berita ini menggunakan pola 5W1H untuk memberi kesan kelengkapan informasi. 

  • Who: siswa, orang tua, guru, pakar kebijakan publik. 
  • What: kasus keracunan yang memicu evaluasi. 
  • Where: dua kecamatan di Bandung Barat, dibandingkan dengan wilayah lain yang tidak terdampak. 
  • Why: tata kelola distribusi dan keamanan pangan yang lemah. 
  • How: dengan melakukan perbaikan prosedur, pengawasan, dan sistem distribusi. 

Dengan skrip ini, keracunan ditempatkan sebagai insiden terbatas, sementara pesan utama diarahkan pada urgensi memperbaiki tata kelola program.

Struktur Tematik

Tema sentral berita adalah “MBG tetap dibutuhkan sebagai investasi gizi, tetapi perlu revitalisasi sistem”. Subtema pendukung meliputi: (1) kasus hanya terbatas pada sebagian wilayah, (2) banyak pihak masih merasakan manfaat MBG, (3) pakar menegaskan pentingnya perbaikan manajemen. 

Dengan logika tematik seperti ini, pembaca diarahkan untuk melihat keracunan bukan sebagai kegagalan menyeluruh, melainkan sebagai pengingat bahwa program baik bisa runtuh tanpa pengelolaan yang disiplin.

Struktur Retoris

Secara retoris, wartawan menggunakan diksi yang membangun kesan normatif dan solutif. Ungkapan seperti alarm peringatan, niat mulia, investasi besar, hingga revitalisasi sistem memperkuat frame bahwa program MBG adalah langkah mulia negara yang harus dilanjutkan. 

Kontras kata niat mulia versus tata kelola rapuh semakin menekankan urgensi perbaikan. Penggunaan kutipan dari orang tua murid dan siswa yang merasakan manfaat juga berfungsi retoris untuk memperkuat legitimasi program.

Kesimpulan

Dengan framing seperti ini, Media Indonesia tidak menampilkan MBG sebagai kegagalan total, melainkan sebagai program berharga yang harus dipertahankan dengan evaluasi serius. Framing semacam ini mengarahkan opini publik untuk mendukung keberlanjutan MBG sembari menuntut perbaikan tata kelola.

Tabel Ringkas Analisis 4 Struktur Framing Pan & Kosicki

Struktur FramingTemuan AnalisisContoh dari Teks
SintaksisHeadline dan lead langsung menekankan solusi “perbaikan” bukan “penghentian”.“Pengamat Sebut MBG Harus Diperbaiki, Bukan Dihentikan”
Skrip5W1H dipakai untuk memberi kesan objektif, tetapi alur dipandu ke arah solusi.Fakta keracunan (what), lokasi 2 kecamatan (where), solusi tata kelola (how).
TematikTema utama: MBG tetap dibutuhkan, subtema: kasus terbatas, manfaat dirasakan, solusi tata kelola.“Keberadaan MBG sangat membantu…”, “Kasus hanya tercatat di dua kecamatan.”
RetorisDiksi positif-normatif menegaskan pentingnya program, dengan kontras “niat mulia vs tata kelola rapuh”.“Sepiring makan bergizi gratis adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan…”, “Program MBG adalah investasi besar.”

Dengan tabel ini, tampak dengan jelas bagaimana framing wartawan bekerja. Isu negatif dikelola agar melahirkan frame positif tentang kelanjutan program.

Penutup: Mengapa Analisis Frame dan Framing Penting?

Dari pembahasan panjang tentang frame (kerangka konseptual yang dimiliki media) dan framing (proses membingkai realitas dalam teks berita), kita dapat melihat bahwa berita tidak pernah hadir sebagai cermin netral atas kenyataan. 

Selalu ada sudut pandang, pilihan kata, seleksi informasi, dan struktur wacana yang membuat sebuah peristiwa tampak berbeda di mata pembaca.

Melalui analisis bingkai dan pembingkaian, kita dilatih untuk tidak berhenti pada apa yang diberitakan, tetapi juga menanyakan bagaimana berita itu disusun dan untuk kepentingan siapa. 

Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan pembaca kritis yang mampu membongkar bias, ideologi, atau bahkan agenda politik yang tersembunyi dalam teks media.

Pentingnya pemahaman ini juga berkaitan dengan posisi media dalam demokrasi. Media bukan sekadar penyalur informasi, melainkan aktor sosial yang ikut membentuk opini publik, menentukan siapa yang dianggap sahih, dan siapa yang disisihkan.

 Jika mampu membaca media secara kritis, kita bisa lebih sadar terhadap konstruksi realitas yang ditawarkan, dan pada gilirannya dapat menggunakan literasi kritis ini untuk melawan manipulasi wacana di ruang publik.

Seperti yang pernah diungkapkan Walter Lippmann, seorang pelopor studi media:

“The news and the truth are not the same thing, and must be clearly distinguished.”
(Berita dan kebenaran bukanlah hal yang sama, dan keduanya harus dibedakan dengan jelas.)

Kutipan ini mengingatkan kita bahwa apa yang muncul dalam berita tidak otomatis identik dengan kebenaran. Berita adalah konstruksi—hasil framing media—sementara kebenaran membutuhkan pembacaan kritis yang menembus lapisan-lapisan framing tersebut.

Mulai sekarang, biasakanlah membaca berita dengan dua lensa sekaligus: pertama, lensa faktual untuk memahami apa yang terjadi; kedua, lensa kritis untuk melihat bagaimana fakta itu dibingkai. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dalam menyerap informasi, tidak mudah terprovokasi oleh framing tertentu, dan mampu menyikapi wacana publik dengan kesadaran penuh.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti | Gambar: Facebook

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *