Kohesi dalam wacana adalah keterkaitan antarbentuk bahasa yang membuat teks terasa utuh dan padu. Tanpa kohesi, sebuah teks akan tampak seperti kumpulan kalimat acak tanpa hubungan logis. Dalam kajian wacana, kohesi menjadi salah satu aspek utama pembentuk tekstur, bersama koherensi dan intertekstualitas.
Teks dan Tekstur
Sebuah teks yang baik bukan hanya terdiri atas kalimat-kalimat yang benar secara tata bahasa, tetapi juga memiliki kepaduan yang membuatnya terasa utuh, mengalir, dan mudah dipahami. Dalam kajian wacana, kepaduan inilah yang disebut tekstur, yaitu “jaringan makna” yang menjadikan serangkaian kalimat berfungsi sebagai satu kesatuan wacana.
Tekstur terbentuk melalui tiga aspek utama: kohesi, koherensi, dan intertekstualitas.
- Kohesi berhubungan dengan aspek bentuk bahasa, yaitu bagaimana unsur-unsur dalam teks saling terhubung secara gramatikal atau leksikal.
- Koherensi berkaitan dengan makna, yakni bagaimana ide-ide atau gagasan disusun secara logis dan relevan.
- Intertekstualitas mencakup relasi antar-teks, yang berkaitan dengan bagaimana satu teks terhubung atau berinteraksi dengan teks lain melalui kutipan, alusi, atau ide yang sama.
Ketiga aspek ini bersama-sama menciptakan tekstur yang membuat sebuah teks hidup dan bermakna. Namun, dalam artikel ini kita akan berfokus pada salah satu elemen paling mendasar dari tekstur, yaitu kohesi dalam wacana.
Apa Itu Kohesi dalam Wacana?
Secara etimologis, istilah kohesi berasal dari bahasa Latin cohaerere yang berarti ‘melekat bersama’ atau ‘berhubungan erat’. Dalam konteks linguistik, kohesi mengacu pada keterkaitan antarunsur bahasa — baik kata, frasa, maupun kalimat — yang membentuk keutuhan teks.
Kohesi adalah hubungan semantik yang terjadi ketika penafsiran terhadap satu unsur dalam teks bergantung pada unsur lainnya. Artinya, kalimat atau klausa dalam sebuah teks tidak berdiri sendiri; Kalimat-kalimat tersebut terikat secara makna maupun bentuk pada bagian lain dalam teks yang sama.
Contohnya dapat dilihat pada pasangan kalimat berikut:
“Sinta membeli sepatu baru kemarin. Sepatu itu berwarna merah.”
Kata sepatu itu dalam kalimat kedua merujuk pada sepatu baru di kalimat pertama. Hubungan semacam ini menandakan adanya kohesi, sebab kedua kalimat terikat secara semantis.
Dalam analisis wacana, kohesi dalam wacana dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.
- Kohesi gramatikal melibatkan perangkat kebahasaan seperti pronomina, elipsis, atau konjungsi.
- Kohesi leksikal melibatkan pilihan kata seperti pengulangan, sinonimi, antonimi, dan kolokasi.
Keduanya saling melengkapi dalam membangun keutuhan struktur teks.
Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah hubungan antarkalimat yang terbentuk melalui unsur gramatika atau tata bahasa. Unsur ini menjaga kesinambungan bentuk dan struktur dalam teks, misalnya melalui kata ganti, elipsis, atau konjungsi.
Kohesi gramatikal memastikan bahwa pembaca dapat memahami keterhubungan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya secara eksplisit.
Jenis-jenis kohesi gramatikal meliputi empat kategori utama, yaitu penunjukan (referensi), penggantian (substitusi), pelesapan (elipsis), dan perangkaian (konjungsi).
1. Penunjukan/Referensi (Reference)
Penunjukan atau referensi adalah hubungan antara kata dengan unsur lain yang dirujuknya. Ada dua jenis utama, yaitu anafora dan katafora.
Anafora adalah rujukan ke belakang (kata menunjuk unsur sebelumnya). Misalnya,
“Budi membeli sepeda baru. Ia sangat menyukainya.“
Kata ia merujuk ke Budi yang telah disebut sebelumnya.
Sementara itu, katafora adalah rujukan ke depan (kata menunjuk unsur yang disebut kemudian). Misalnya,
Gejala-gejala berikut merupakan tanda kurang darah (anemia) yang paling umum.
1. Kelelahan dan lemas.
2. Kulit pucat.
3. Pusing dan sakit kepala.
4. Sesak napas.
5. Kaki terasa dingin.
Kata berikut merujuk pada lima poin yang disebutkan setelahnya.
Penunjukan seperti ini menciptakan kohesi dengan cara mengikat dua bagian teks melalui referensi yang saling bergantung.
2. Penggantian/Substitusi (Substitution)
Substitusi terjadi ketika satu unsur bahasa digantikan oleh unsur lain yang memiliki makna sama atau serupa untuk menghindari pengulangan.
Misalnya, perhatikan dialog A dan B berikut.
A: “Apakah kamu sudah membaca buku-buku karya Pak Budi?”
B: “Belum, yang merah belum.”
Frasa yang merah menggantikan salah satu buku karya Pak Budi. Ini menunjukkan hubungan kohesif melalui penggantian.
Substitusi sering digunakan untuk menjaga variasi leksikal dan menghindari repetisi yang berlebihan.
3. Pelesapan/Elipsis (Ellypsis)
Elipsis adalah penghilangan unsur kalimat yang dapat dipahami dari konteks. Unsur yang dihilangkan sebenarnya tersirat dan bisa diisi ulang oleh pembaca.
Misalnya:
“Saya sudah makan. Kamu belum (makan), kan?”
Kata makan pada kalimat kedua dihilangkan karena maknanya sudah jelas dari kalimat pertama. Pelesapan seperti ini membuat teks lebih ringkas tanpa kehilangan makna.
4. Perangkaian (Conjunction)
Perangkaian atau conjunction menghubungkan kalimat atau klausa melalui konjungsi logis. Konjungsi membantu pembaca memahami hubungan sebab–akibat, waktu, penambahan, atau perlawanan antarbagian teks.
Jenis-jenis konjungsi antara lain:
- Aditif (penambahan): dan, juga, selain itu.
- Adversatif (pertentangan): tetapi, namun, sebaliknya.
- Kausal (sebab–akibat): karena, sehingga, oleh sebab itu.
- Temporal (waktu): setelah itu, kemudian, sementara, akhirnya.
Perhatikan contoh berikut.
“Toni rajin belajar dan sering membantu teman-temannya. Oleh karena itu, ia disukai banyak orang.”
Kata dan serta oleh karena itu berfungsi sebagai penanda kohesi gramatikal yang menjahit hubungan logis antarkalimat.
Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal mengacu pada hubungan makna antarunsur dalam teks yang dibangun melalui pemilihan dan keterkaitan kata. Jika kohesi gramatikal bergantung pada struktur kalimat, kohesi leksikal berfokus pada leksikon atau perbendaharaan kata.
Kohesi leksikal merupakan “ikatan makna” yang terjadi ketika kata-kata dalam teks saling berhubungan melalui pengulangan, sinonimi, antonimi, hiponimi, atau kolokasi.
1. Pengulangan/Repetisi (Reiteration)
Pengulangan adalah bentuk kohesi paling sederhana, yakni mengulang kata atau frasa yang sama untuk menjaga keutuhan topik dan menegaskan ide penting.
Misalnya contoh berikut:
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Pendidikan menentukan masa depan bangsa.”
Kata pendidikan diulang untuk memperkuat topik utama dan menegaskan pentingnya isu yang dibahas.
2. Sinonimi (Synonymy)
Sinonimi adalah penggunaan kata yang memiliki makna serupa untuk menghindari pengulangan yang monoton.
Misalnya contoh berikut:
“Mahasiswa harus aktif dalam penelitian. Para pelajar tingkat tinggi itu perlu berani mencoba.”
Kata mahasiswa dan pelajar tingkat tinggi memiliki makna serupa dan menjaga kesinambungan topik tanpa repetisi langsung.
3. Antonimi (Antonymy)
Antonimi menghubungkan kata melalui pertentangan makna, tetapi tetap dalam satu konteks tematik.
Misalnya:
“Kehidupan di kota besar begitu cepat. Sementara itu, di desa berjalan lambat.”
Kata cepat dan lambat berlawanan makna, namun keduanya menciptakan keseimbangan semantik yang mengikat dua kalimat.
4. Hiponimi (Hyponymy)
Hiponimi adalah hubungan antara kata yang lebih umum (hipernim) dan yang lebih khusus (hiponim).
Misalnya:
“Buah-buahan banyak mengandung vitamin. Apel dan pisang termasuk buah yang digemari anak-anak.”
Kata apel dan pisang merupakan hiponim dari buah-buahan. Hubungan ini menandakan kesinambungan antara konsep umum dan spesifik dalam teks.
5. Kolokasi (Collocation)
Kolokasi adalah keterikatan alami antara dua atau lebih kata yang sering muncul bersama secara konvensional dalam bahasa. Jenis kohesi ini membahas hubungan antarkata berdasarkan fakta bahwa kata-kata ini sering muncul di lingkungan yang sama.
Beberapa contohnya adalah domba dan wol, DPR dan politisi, atau perguruan tinggi dan studi.
Misalnya:
“Mobil sport itu melaju di jalan utama. Kecepatannya sangat mengagumkan.”
Kata-kata seperti mobil sport, melaju, dan kecepatan membentuk kohesi karena secara leksikal memiliki asosiasi makna yang kuat dalam lingkungan yang sama.
Kohesi dan Keutuhan Wacana
Kohesi, baik gramatikal maupun leksikal, berperan sebagai “benang pengikat” yang menjadikan teks terasa utuh. Tanpa kohesi, pembaca akan kesulitan mengikuti alur gagasan karena kalimat tampak terpisah satu sama lain.
Misalnya, bandingkan dua teks berikut:
“Rina meminjam buku. Perpustakaan ramai. Ia membaca.”
“Rina meminjam buku di perpustakaan yang ramai. Di sana, ia langsung membaca buku itu.”
Versi kedua jauh lebih mudah dipahami karena antarunsur saling terhubung lewat kata ganti (ia, buku itu) dan konjungsi (di sana).
Dengan demikian, kohesi bukan hanya unsur teknis linguistik, tetapi juga aspek penting dalam retorika dan gaya bahasa. Penulis yang mampu menguasai kohesi akan menciptakan teks yang mengalir, logis, dan nyaman dibaca.
Penutup
Kohesi dalam wacana adalah seni menyatukan bahasa. Sebagaimana benang menautkan potongan kain menjadi busana, kohesi menjahit potongan kalimat menjadi teks yang utuh.
Bahasa tanpa kohesi hanyalah kumpulan kata. Kohesi mengubahnya menjadi cerita, argumen, dan penjelasan.
Oleh karena itu, ketika Anda menulis atau membaca teks, cobalah perhatikan bagaimana kalimat-kalimat di dalamnya saling terikat. Itulah cara terbaik memahami bagaimana bahasa bekerja tidak hanya sebagai sistem tanda, tetapi sebagai jaringan makna yang utuh.
Coba praktikkan! Ambil satu artikel berita hari ini, lalu identifikasi unsur kohesinya. Temukan bagaimana setiap kata, frasa, dan kalimat saling melekat membentuk wacana yang integral.
Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti | Gambar: Freepik
