analisis positivistik dan kritis

Berita sering dipandang sebagai jendela dunia. Apa yang kita ketahui tentang politik, ekonomi, hingga konflik sosial sebagian besar berasal dari media. Namun, apakah berita benar-benar mencerminkan realitas secara apa adanya? Pertanyaan inilah yang melahirkan dua pendekatan utama dalam analisis teks berita: pendekatan positivistik dan pendekatan kritis

Keduanya memberikan cara pandang yang berbeda terhadap fakta, posisi media, peran wartawan, dan hasil liputan. Memahami perbedaan ini penting agar pembaca media dapat melihat berita secara lebih bijak, baik sebagai informasi maupun sebagai konstruksi sosial.

Pendekatan Positivistik: Berita sebagai Cerminan Fakta

Pendekatan positivistik berangkat dari pandangan bahwa berita adalah representasi objektif dari realitas. Media dipandang netral, wartawan hanya pengamat, dan teks berita dianggap sebagai cerminan apa yang benar-benar terjadi.

Fakta dalam Pandangan Positivistik

Fakta dilihat sebagai sesuatu yang netral, bisa diamati, dan terukur. Dalam logika ini, berita tidak lain hanyalah laporan dari fakta di lapangan tanpa intervensi subjektif. Misalnya, jika terjadi kecelakaan lalu lintas, berita dipandang sekadar memberitakan berapa jumlah korban, di mana lokasinya, dan kapan kejadiannya.

Posisi Media

Media dianggap perantara objektif yang bertugas menyampaikan informasi tanpa berpihak. Media seperti jendela yang transparan: masyarakat bisa “melihat dunia” melalui media.

Posisi Wartawan

Wartawan diposisikan sebagai pengamat netral. Mereka hanya menyalurkan informasi dari lapangan ke teks berita, tanpa banyak memengaruhi isi berita itu sendiri.

Hasil Liputan

Hasil liputan dianggap representasi realitas yang objektif. Berita dipandang apa adanya, seolah tidak ada kepentingan yang ikut bermain.

Corak Penelitian Positivistik

Pendekatan ini melahirkan corak penelitian yang khas:

  • Tujuan: mengungkap fakta objektif dan menguji kebenaran informasi.
  • Realitas yang dikaji: hal-hal yang bisa dilihat dan diukur, misalnya jumlah kata, frekuensi pemberitaan, atau porsi liputan.
  • Posisi peneliti: netral, tidak terlibat dalam data yang diteliti.
  • Metode: cenderung kuantitatif, misalnya content analysis statistik untuk menghitung seberapa sering tokoh politik tertentu muncul di berita.

Contoh, peneliti ingin tahu seberapa besar media meliput topik green energy. Maka, ia menghitung jumlah artikel yang memuat kata kunci “energi terbarukan” di surat kabar dalam tiga bulan terakhir.

Pendekatan Kritis: Berita sebagai Konstruksi Sosial

Berbeda dengan positivistik, pendekatan kritis berangkat dari keyakinan bahwa berita tidak netral. Fakta dalam berita tidak hanya dipotret, tetapi dipilih, ditonjolkan, bahkan dibingkai sesuai kepentingan media dan ideologi tertentu.

Fakta dalam Pandangan Kritis

Dalam kajian kritis, fakta dipandang tidak pernah netral karena selalu merupakan hasil seleksi, pembingkaian, dan interpretasi. Misalnya, dalam berita demo buruh, media bisa memilih menonjolkan sisi kerusuhan, tuntutan pekerja, atau dampak ekonomi. Pilihan itu sangat menentukan opini publik.

Posisi Media

Media dianggap sebagai aktor ideologis yang bisa dipengaruhi oleh pemilik modal, penguasa politik, atau ideologi tertentu. Karena itu, media tidak hanya menyampaikan realitas, tetapi juga membentuk persepsi publik tentang realitas tersebut.

Posisi Wartawan

Wartawan dipandang sebagai subjek aktif. Mereka memilih fakta mana yang akan diangkat, bagaimana menyusunnya, siapa yang diberi suara, dan siapa yang diabaikan. Dengan kata lain, wartawan ikut serta dalam konstruksi realitas.

Hasil Liputan

Hasil liputan bukanlah refleksi murni realitas, tetapi produk konstruksi sosial. Itu dipengaruhi oleh relasi kekuasaan, ideologi, dan kepentingan ekonomi.

Corak Penelitian Kritis

Pendekatan ini menghasilkan penelitian dengan ciri berikut.

  • Tujuan: mengungkap bias, ideologi, dan relasi kuasa yang tersembunyi di balik teks.
  • Realitas yang dikaji: representasi, framing, metafora, atau strategi wacana.
  • Posisi peneliti: tidak netral; peneliti diakui sebagai bagian dari proses sosial yang bisa dipengaruhi konteks.
  • Metode: cenderung kualitatif, misalnya critical discourse analysis (CDA) atau analisis framing.

Contoh, peneliti menganalisis berita tentang kenaikan harga BBM. Ia menemukan bahwa media tertentu lebih banyak mengutip pejabat pemerintah (yang menekankan subsidi tidak tepat sasaran), sementara suara rakyat miskin hampir tidak terdengar.

Perbandingan Pendekatan Positivistik dan Kritis

AspekPositivistikKritis
FaktaNetral, objektif, bisa diukur.Hasil seleksi dan framing, tidak netral.
Posisi MediaPenerus informasi objektif.Aktor ideologis, dipengaruhi kepentingan.
Posisi WartawanPengamat netral.Subjek aktif yang membentuk berita.
Hasil LiputanRepresentasi realitas objektif.Konstruksi sosial dipengaruhi ideologi.
Metode PenelitianKuantitatif: analisis isi, statistik.Kualitatif: AWK, framing, semiotika.

Studi Kasus: Membaca Berita dengan Dua Pendekatan

Bacalah kutipan berita berikut.

May Day Yogyakarta Rusuh, 3 Mahasiswa Jadi Tersangka

Jakarta, CNN Indonesia — Polda Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan tiga oknum mahasiswa sebagai tersangka dalam kasus demonstrasi yang berujung pembakaran pos polisi lalu lintas di Simpang Tiga Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Selasa (1/5), bertepatan dengan Hari Buruh Internasional.

“Saat ini kami sudah menetapkan dan menahan tiga orang tersangka dalam kasus tersebut,” kata Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dhofiri di Mapolda DIY, Rabu (2/5) seperti dikutip dari Antara.

Ketiga tersangka masing-masing berinisial AR, IB, dan MC. Mereka masih tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi di wilayah Sleman, Yogyakarta.

“Ketiga tersangka merupakan bagian dari 69 orang massa aksi yang ditangkap semalam seusai demo Hari Buruh Internasional,” kata Dhofiri.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan berdasarkan penyelidikan dan alat bukti yang diperoleh, penyidik menetapkan ketiga orang itu sebagai tersangka.

Penetapan tersangka yang berlangsung cepat itu, kata Hadi tetap berdasarkan standar operasi prosedur dan kelengkapan alat bukti.

Ia mengatakan, para tersangka dijerat Pasal 160,170, dan 406 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun. 

“Sehingga kami melakukan penahanan untuk para tersangka karena ancaman hukuman di atas lima tahun,” katanya.

Polda DIY dan Polres Sleman sebelumnya telah menangkap delapan peserta demo di Simpang Tiga UIN Sunan Kalijaga setelah mereka melempar bom molotov ke Pos Polantas di kawasan itu.

Penangkapan dilakukan tak lama setelah peristiwa pembakaran itu. Kapolda DIY menyebut sejumlah aktivis yang mengaku dari kalangan mahasiswa tersebut melakukan aksi dengan menyiapkan banyak bom molotov. Mereka juga melakukan pemblokiran di Jalan Solo-Yogyakarta itu.

“Mereka memblokir jalan, dan melempar pos polisi dengan bom molotov, dan siapkan bom molotov banyak. Ngakunya mahasiswa, mereka siapkan bom molotov,” kata dia.

Selain itu, Dhofiri menyatakan para mahasiswa itu juga mengusung isu yang tak terkait masalah buruh.

“Kami sayangkan dari beberapa rekan mahasiswa entah dari kelompok mana, unjuk rasa isunya bukan terkait masalah buruh, tapi masalah lain-lain. Tidak jelas,” ujar Dhofiri. (gil)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180502110648-12-295050/may-day-yogyakarta-rusuh-3-mahasiswa-jadi-tersangka.

Pendekatan Positivistik: Berita sebagai Fakta Objektif

Jika memakai kacamata positivistik, teks berita CNN Indonesia ini dilihat sebagai representasi objektif dari peristiwa di lapangan.

  • Fakta yang disajikan: tiga mahasiswa ditetapkan tersangka; pos polisi dibakar; mereka ditangkap setelah aksi rusuh; polisi menggunakan pasal 160, 170, dan 406 KUHP.
  • Posisi media: CNN Indonesia hanya menyampaikan apa yang terjadi, lengkap dengan kutipan pejabat kepolisian (Kapolda DIY dan Dirreskrimum).
  • Posisi wartawan: sekadar penghubung antara pernyataan polisi dengan pembaca.
  • Hasil liputan: masyarakat menerima bahwa benar ada tiga mahasiswa yang ditetapkan tersangka dan ditahan karena terlibat kerusuhan pada aksi May Day.

Dari sudut pandang ini, berita dianggap cukup lengkap dan akurat karena memuat fakta hukum, jumlah tersangka, serta kronologi kejadian. Peneliti yang memakai pendekatan ini bisa menghitung misalnya berapa kali kata “tersangka” atau “bom molotov” muncul sebagai data objektif.

Pendekatan Kritis: Berita sebagai Konstruksi Ideologi

Dengan kacamata kritis, teks berita yang sama dibaca sebagai konstruksi realitas yang sarat kepentingan. Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan:

  1. Fakta tidak netral
    • Berita lebih banyak memberi ruang pada versi polisi.
    • Tidak ada kutipan langsung dari mahasiswa, kuasa hukum, atau serikat buruh yang sebenarnya menjadi konteks May Day.
    • Akibatnya, publik diarahkan untuk melihat mahasiswa sebagai “perusuh” alih-alih memahami motivasi mereka.
  2. Pilihan kata yang memengaruhi persepsi
    • Kata-kata seperti “rusuh,” “bom molotov,” “ulah mahasiswa,” atau “tidak jelas” (dari Kapolda) membingkai aksi sebagai tindakan kriminal.
    • Sikap ini menutupi kemungkinan bahwa aksi mereka punya dasar politik atau sosial tertentu.
  3. Posisi media
    • CNN Indonesia tidak netral, melainkan ikut mereproduksi perspektif kepolisian.
    • Media memilih tidak menghadirkan suara tandingan, sehingga hanya ada satu narasi dominan: mahasiswa = perusuh.
  4. Hasil liputan sebagai konstruksi ideologi
    • Berita mengukuhkan posisi negara (polisi) sebagai pihak sah dan mahasiswa sebagai pihak salah.
    • Hal ini sesuai dengan logika status quo: demonstrasi yang “tidak jelas” harus dipadamkan, stabilitas harus dijaga.

Refleksi: Dua Cara Membaca, Dua Kesimpulan

  • Dengan pendekatan positivistik, berita CNN Indonesia ini dianggap lengkap, objektif, dan cukup informatif. Pembaca berhenti pada “ada mahasiswa yang melakukan rusuh, lalu ditangkap polisi.”
  • Dengan pendekatan kritis, berita ini justru tampak bias karena hanya mengutip polisi, menghilangkan suara buruh/mahasiswa, dan membingkai peristiwa sebagai kriminalitas semata.

Dari hal ini kita bisa belajar bahwa satu teks berita bisa dipahami dengan cara berbeda tergantung pendekatan yang dipakai. Pendekatan kritis membantu kita membongkar ideologi dan relasi kuasa yang tersembunyi di balik teks.

Kenapa Perbedaan Ini Penting?

Perbedaan antara positivistik dan kritis bukan sekadar soal teori. Hal ini punya dampak besar terhadap cara kita membaca dan menafsirkan berita.

  • Jika memakai kacamata positivistik, kita cenderung menerima berita sebagai fakta apa adanya.
  • Jika memakai kacamata kritis, kita akan bertanya: siapa yang diuntungkan dengan pemberitaan ini? siapa yang dirugikan? ideologi apa yang bekerja di balik teks ini?

Dengan kata lain, pendekatan kritis membantu kita menjadi pembaca berita yang aktif, bukan hanya konsumen pasif.

Kesimpulan

Analisis teks berita dapat dilakukan dengan dua pendekatan besar: positivistik dan kritis. Pendekatan positivistik memandang berita sebagai cerminan objektif dari realitas, sementara pendekatan kritis menekankan bahwa berita adalah konstruksi ideologis.

Bagi mahasiswa, memahami kedua pendekatan ini sangat penting. Positivistik melatih keterampilan mengukur data objektif, sedangkan kritis melatih kemampuan membongkar ideologi di balik teks. Dengan menguasai keduanya, kita bisa membaca berita dengan lebih jernih dan reflektif, serta memahami bagaimana media membentuk realitas sosial.

Penulis: Sony Christian Sudarsono | Editor: Benedikta Haryanti | Gambar: Freepik

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *